Takdir awal kehidupan setiap orang itu memang berbeda-beda. Kita tak pernah bisa memilih, kita itu akan dilahirkan dari keluarga yang seperti apa. Entah itu dari keluarga kaya, entah itu miskin. Entah dari keluarga yang sangat dihormati atau hanya sekedar keluarga yang sangat sederhana. Tahu-tahu kita sudah berada di pangkuan seorang ibu yang begitu menyayangi kita, dan sosok seorang ayah yang dengan riang mau menggendong kita kemana saja.

Begitulah Nak, kira-kira hal yang ingin ayah dan ibumu sampaikan padamu saat ini. Bahwa kita terlahir di dunia ini tak bisa memilih, maka ayah berharap engkau pun tetap mensyukurinya. Walau kau telah menjadi anak dari kami yang tak punya apa-apa, dibanding keluarga teman-temanmu yang lain. Kami harap engkau pun tetap bisa bahagia bersama kami.

Kami minta maaf nak. Saat engkau masih kecil dahulu, kami tak bisa memberikanmu banyak mainan seperti teman-temanmu yang lain. Kami tahu, pasti engkau saat itu sangat bersedih tat kala tak bisa memiliki apa yang dimiliki teman-temanmu. Hingga engkau pernah merasa bahwa kami itu tak sayang padamu karena tak mau membelikanmu ini dan itu.

Walau begitu akhirnya kau pun tersenyum kala engkau dapatkan mainan yang engkau minta. Iya saat itu, ayah dan ibumu mencari uang sebisanya agar engkau tak menangis dan bersedih terlalu lama. Sekarang tak usah engkau tanyakan uang itu dahulu darimana, apapun akan kami lakukan demi melihat senyummu saat itu.

Anakku, ayah dan ibu juga minta maaf. Saat kamu mulai sekolah dahulu, ayah dan ibu tak bisa memberikan yang barang mewah seperti teman-temanmu. Maaf jika seragammu tak sebagus mereka, tasmu tak sebagus mereka, atau pensil dan bukumu tak sebanyak yang teman-temanmu punya. Hingga tak jarang kami mengetahui bahwa beberapa kali engkau meminjam itu dari teman-temanmu.

Advertisement

Saat mengetahui itu, rasanya kami benar-benar bersalah karena tak bisa memberikan yang terbaik padamu. Namun sesungguhnya dibalik semua keterbatasan yang kami punya, kami melakukan semaksimal yang kami bisa untukmu.

Anakku, jika dahulu engkau menganggap bahwa ayah dan ibumu itu adalah orang yang bodoh dalam pendidikan. Maka sebenarnya memang tak salah, karena memang ayah dan ibumu itu tak mempunyai pendidikan yang tinggi. Jadi maafkan kami, jika dahulu tak bisa mengajarimu tentang berbagai pelajaran yang kau anggap sulit.

Kami pun sebenarnya malu saat tak bisa menjawab apa yang engkau tanyakan pada kami. Kami merasa menjadi orang yang sangat bodoh karena tak bisa mengajarimu. Maka dari itu, suatu saat kau harus menjadi orang tua yang pintar ya. Kamu harus semangat belajar mulai saat ini, jangan seperti ayah ibumu yang tak mempunyai pendidikan tinggi. Jadilah dirimu pribadi yang cerdas dan anak yang pintar.

Anakku yang begitu aku banggakan, tahukah engkau memang sebenarnya kau itu benar-benar kami banggakan. Walau memang kadang seolah kami sering memarahimu, namun sebenarnya kami begitu menyayangimu. Supaya nantinya engkau memang pantas kami banggakan. Maka buatlah ayah dan ibu bangga suatu saat nanti dengan berbagai prestasimu dan kerja kerasmu.

Ayah dan Ibu tak inginkan engkau akan menjadi pribadi yang lemah dan tak semangat, hanya karena kau terlahir dari keluarga yang tak punya. Anakku, berani bermimpilah yang tinggi. Kami ingin nasibmu suatu saat nanti jauh lebih baik dari kami. Walau engkau terlahir dari kami yang pas-pasan, bahkan sering pula kekurangan. Namun ketahuilah bahwa mimpi itu adalah hak semua orang, termasuk hakmu.

Anakku, kami minta maaf lagi. Jika kami tak bisa membiayai semua kebutuhan belajarmu dengan maksimal. Jauh di dalam lubuk hati, ayah dan ibu tentu inginkan bahwa engkau akan bisa belajar sampai setinggi-tingginya. Namun apa daya, ayah dan ibu memang tak memiliki apa-apa untuk membiayaimu. Mungkin memang salah kami di masa muda yang tak berjuang maksimal dalam menjalani hidup. Atau memang semua ini telah digariskan Allah bagi ayah dan ibumu. Hingga kami tak bisa terlihat sesukses orang tua teman-temanmu.

Maafkanlah kami, namun kami harap engkau bersedia memakluminya. Hingga engkau akan tetap bersedia berjuang mandiri dengan penuh semangat untuk mengejar cita-citamu. Jika engkau bisa meraih cita-citamu, maka tentu kau adalah seseorang yang hebat dibanding teman-temanmu. Karena dengan segala keterbatasan yang engkau punya, namun engkau bisa mewujudkan cita-citamu. Walau itu tentu bukanlah hal yang mudah. Tetaplah tenang, walau hanya sekedar doa restu yang senantiasa kami panjatkan. Tentu Allah akan mendengarnya dengan seksama.

Nak, ayah dan ibu memang orang yang tak punya. Namun ayah dan ibu tak akan pernah melarangmu untuk bermimpi dan bercita-cita yang tinggi. Kau punya kesempatan yang sama nak, seperti teman-temanmu yang lain. Maka jangan ragu tuk bermimpi, terwujud atau tidaknya itu tergantung apakah engkau mau mengusahakannya atau tidak.

Jangan khawatir nak, ayah dan ibu memang kadang nampak seolah tak setuju dengan mimpi-mimpi yang kau ceritakan pada kami. Bukan itu nak, bukannya kami tak menyetujuinya. Namun hal itu seolah menyambar hati kami, kami begitu terenyuh dengan apa yang engkau impikan. Kadang kami tak bisa berkata-kata seolah tak peduli dengan mimpimu, padahal saat itu ayah dan ibu ingin menahan air matanya di depanmu karena serasa kami tak berdaya untuk mendukung cita-citamu terwujud.

Percayalah nak, setiap orang tua di dalam hatinya niscaya akan selalu mendukung anaknya untuk bercita-cita yang tinggi.

Anakku, maukah engkau membuat hati ayah dan ibumu bangga. Maukah engkau melihat ayah dan ibumu meneteskan air mata keharuan, karena melihat keberhasilanmu. Maukah Nak, jika engkau bersedia mengubah masa depan keluargamu. Membuat ayah dan ibu merasa bahagia karena punya anak yang sukses suatu sat nanti. Maukah nak, maukah engkau perjuangkan itu demi kami.

Nak, sebenarnya itu pun demi dirimu sendiri bukan sekedar permintaan dari kami. Tentu setiap orang tua pasti menginginkan anak-anaknya tuk bisa sukses, walau ada dari mereka yang hanya bisa mendoakan dari segala keterbatasannya. Hal itu karena melihatmu sukses adalah diantara hadiah terindah yang bisa engkau berikan pada kami.

Anakku, maka bermimpilah yang tinggi. Tak usah malu untuk bermimpi, walau kau adalah anak dari keluarga yang tak punya seperti kami. Tak usah kau menciutkan nyalimu untuk bersaing dengan teman-temanmu. Berani bermimpilah nak, mungkin engkau adalah sosok yang akan mengubah keadaan keluarga kita.

Kalau tidak padamu, kepada siapa lagi ayah dan ibu berharap. Nak bersemangatlah mengejar mimpimu yang tinggi itu, janganlah takut karena doa kami senantiasa menyertai perjalananmu dalam meraih semua mimpi-mimpi yang ingin kau wujudkan.