“Kakak, semester berapa sekarang?” tanya seorang adek kelas yang baru duduk di semester satu.

Pertanyaan tersebut mungkin akan ditanyakan adek kelas yang baru memasuki dunia kampus. Minimal saat meminta tanda tangan untuk memenuhi buku dosanya. Atau hanya sekedar iseng doang. Mungkin pertanyaan tersebut juga sempat kita tanyakan, ketika masih cupu-cupunya. Sekilas, pertanyaan tersebut tampak seperti pertanyaan yang lumrah dan tidak perlu harus membolak-balikkan catatan terdahulu. Atau bahkan menjelajahi dunia maya sampai berjam-jam untuk bisa menjawabnya.

Cukup dengan menyebutkan angka, maka permasalahannya akan selesai. Namun yang jadi permasalahannya sekarang: Kapan pertanyaan itu dilontarkan? Pada waktu yang tepatkah? Atau di waktu yang salah? Itulah yang menjadi pokok permasalahan yang harus diurai benang kusutnya.

Pada saat pertanyaan tersebut diajukan di penghujung perkuliahan dan akan masuk ke tugas akhir, maka dengan membusungkan dada, serta dengan sembari memasang wajah cool, kita akan lantang menjawabnya.

“Oh, kakak udah semester lima. Trus sekarang lagi nyusun skripsi. Ngomong-ngomong, adek tahu nggak apa itu skripsi? Itu loh, penyakit yang bikin orang kejang-kejang! Rencananya, habis wisuda nanti kakak mau lanjut S2 di Jepang lho! Adek mau ikut? Yuk, mari!”

Advertisement

Si adek kelas pun agak ilfil melihat tingkah laku si kakak kelas dan langsung mengambil langkah seribu untuk bisa menjauh sejauh-jauhnya darinya agar tidak ketularan.

Mungkin, perbincangan antara si kakak dengan adek kelas di atas agak sedikit lebay. Namun tanpa sadar, kita pernah bertindak demikian. Bertindak dengan ekspresi senioritas yang amat tinggi dan agak sedikit lebay menunjukkannya. Wajar memang! Karena di situlah kesempatan yang kita miliki untuk bisa pamer. Tapi alangkah baiknya kalau sikap pamer yang kita tujukan, merupakan pamer yang merujuk ke arah positif.

Contohnya, memamerkan diri kala kita bisa menyelesaikan perkuliahan dengan cepat. Sembari memberikan kiat-kiat menyelesaikan perkuliahan dengan tempo yang sesingkat-singkatnya. Tentunya sikap pamer yang seperti ini akan sangat bermanfaat bagi adek-adek kelas.

Namun cerita akan berbeda jika pertanyaan tersebut diajukan saat di ambang batas masa-masa injury time. Waduh! Ini apa lagi istilahnya, pakai bawa-bawa istilah sepakbola segala? Ups, tenang my bro (juga sista)! Kali ini saya menggunakan istilah injury time untuk para mapala. Mapala? Mahasiswa pecinta alam maksudnya?

Oh, bukan! Mapala itu merupakan singkatan dari mahasiswa paling lama alias mahasiswa abadi. Mahasiswa yang tetap setia untuk tetap eksis di kampus. Katanya sih, mahasiswa yang satu ini sayang kalau ninggalin kampus cepat-cepat. Apalagi kalau di kampusnya ada dosen yang ditaksir! Cuit, cuit! Dan biasanya mahasiswa ini baru mau ngerjain skripsinya kala waktu sudah memasuki masa injury time. Waktu yang dalam istilah sepakbola, banyak terjadi pertumpahan darah di dalamnya. Segala malam cara akan dilakukan agar bisa meraih hasil maksimal di waktu tersebut.

Kembali ke pertanyaan tadi. Berikut adalah cuplikan perbincangan bila yang diajukan pertanyaan adalah seorang mapala.

“Kakak, udah semester berapa sekarang?” ujar si adek kelas dengan sedikit manja dan berusaha agar mendapat perhatian dari kakak kelas.

Sementara si kakak kelas yang ditanyai, hanya bisa menggerutu dalam hati. Sambil berusaha memberikan senyum yang agak dipaksakan,

“Oh, Kakak sekarang udah semester atas Dek!”

Si adek yang penasaran, menanyakan lebih lanjut.

“Semester atas itu sama dengan semester akhir nggak, Kak? Itu kira-kira kalau disebutkan dalam bentuk angka, angka berapa yang keluar ya Kak?”

“Sialan! Gua tabok juga ni anak lama-lama!” gerutu kakak kelas dalam hati.

Si kakak kelas mulai terlihat kesal. Namun masih tetap berusaha tampil ramah agar bisa meninggalkan kesan-kesan baik di akhir kepengurusannya sebagai mahasiswa.

“Semester empat belas, Dek!” si kakak kelas menjawab dengan muka tertunduk dan suara yang agak pelan.

“Ya ampun, empat belas! Nggak salah Kak? Itu semester atau pengalaman bekerja? Lama banget!” Dengan muka tanpa dosa, si adek kelas mengata-ngatai kakak kelasnya.

Kali ini si kakak kelas tak mampu lagi menahan amarahnya. Lantas ia mencopot sendal yang ia kenakan dan melemparnya ke arah si adek kelas yang songong itu. Namun yang menjadi target pelemparan justru berhasil menghindar dan mengambil langkah seribu untuk berlari menjauh sejauh jauhnya. Menyelamatkan diri dari amukan si kakak kelas yang makin menjadi.

Mungkin banyak yang tertawa terpingkal membaca kisah menyedihkan kakak kelas di atas. Tapi jangan salah! Tidak menutup kemungkinan kalau yang sedang membaca, pernah mengalami pengalaman pahit tersebut. Hayoo, ngaku! Yang lagi tersenyum simpul, pasti pernah mengalaminya. Iya, kan? Udah deh ngaku aja!

Udah nggak papa! Untuk yang pernah mengalaminya, jadikan itu sebagai pengalaman hidup. Jangan sampai generasi selanjutnya mengalami nasib yang serupa. OK?

Nah, sekarang kita masuk ke topik pembicaraan yang agak lebih serius. Kenapa sih ada mahasiswa yang bisa tembus sampai semester empat belas? Semester terakhir mungkin bagi sebagian besar universitas negeri yang ada di Indonesia. Namun tidak menutup kemungkinan ada universitas swasta yang memberikan batasan kuliah lebih dari empat belas semester atau tujuh tahun. Ada mungkin yang memberikan toleransi bagi mahasiswanya untuk menyelesaikan kuliahnya dalam kurun waktu delapan tahun sampai sepuluh tahun. Semuanya tergantung dari perguruan tinggi tempat kita menimba ilmu.

Tapi yang terpenting, jangan sampai rentang waktu tersebut kita jadikan target lulus dalam perkuliahan. Buatlah target secepat mungkin agar kita bisa cepat lulus dari bangku perkuliahan!