Ketika tangisan pertama seorang bayi yang baru dilahirkan merupakan anugerah bagi ayah ibunya, keluarganya, juga masyarakat sekitarnya. Semua menyambut dengan suka cita kebahagiaan, ada juga tangis haru, sebab satu generasi penerus telah dilahirkan ke dunia. Segala harapan baik, melekat pada tubuh bayi bersama tangis pertamanya. Sang ayah memberi sentuhan hangat, lalu membisiki ayat-ayat suci di telinga sang bayi. Ada harapan yang ikut disematkan agar sang anak bisa menjadi anak yang baik secara agama, budaya, moral, pendidikan, dan sebagainya.

“Hei, nak”, sapa sang Ibu yang masih setengah sadar. Dielusnya pelan sang buah hati, sambil melihat keutuhan tubuh sang bayi. Jemarinya, wajahnya, bagian tubuhnya yang lain telah lengkap. Tak ada apa-apa lagi yang dibawa bayi. Ia tidak membawa nama, juga tidak menyebut agama. Tak pernah ayah, ibunya bertanya tentang nama apa yang si bayi suka, atau agama apa yang akan dipilihnya.

Tentang agamanya, sang bayi hanya mengikuti keyakinan orangtua. Tak ada satu bayi pun yang dilahirkan dengan stempel agama yang dilekatkan pada tubuhnya. Ini hanya masalah keyakinan orangtua yang meyakini sang bayi untuk memiliki keyakinan yang sama. Hingga sang bayi beranjak dewasa dan mulai mengenal perbedaan, tanpa pernah ada percakapan lagi tentang kesediaannya memilih agama.

Menjadi pengecualian, jika keadaan ayah dan ibu yang menikah beda keyakinan. Sampai suatu masanya nanti, sang bayi akan dihadapkan pada pilihan untuk memeluk agama. Soal keyakinan ini sangatlah sensitif, sebab bersentuhan langsung dengan hati, lebih dekat lagi, masalah nurani. Karena umumnya bagi seorang manusia, memeluk suatu agama otomatis memunculkan fanatisme pada agama yang dianutnya, bahkan akan dapat menimbulkan emosi jika ada agama lain mengkritisi agamanya.

Berpindah keyakinan mungkin dilakukan orang karena alasan-alasan yang diyakininya, seperti perkawinan, alasan hati, atau masalah lain. Tentang agama ini, semuanya baik. Tidak ada agama yang tidak mengajarkan kebaikan. Semuanya berisikan jalan-jalan kedamaian untuk mencapai kebahagiaan hidup maupun akhirat. Sama seperti jodoh, agama adalah perihal hati, perihal keyakinan. Jangan salahkan yang berbeda agama dengan anda atau jangan berusaha menentang hanya karena agama yang dipilih seseorang berbeda dengan pilihan anda.

Advertisement

Memahami masalah keyakinan memang tidak tampak oleh kasat mata. Seseorang tak mampu melihat, hanya mampu merasakannya. Hakim yang paling hakiki adalah hati nurani. Dan tidak ada yang bisa mendengar hati nurani, kecuali pribadi masing-masing.

Namun, mengapa kekerasan, perbudakan, perang, masih ada yang mengatas namakan agama? Mengatas namakan pembelaan terhadap Tuhan?

Di tengah isu pembelaan dan penistaan agama yang melanda Indonesia. Indonesia tetap Bhinneka Tunggal Ika. Oh Indonesiaku, aku begitu mencintaimu. Agama mendamaikan, perbedaan menguatkan, bersatu membuat kita menjadi Indonesia yang tangguh.