Sebagai mahasiswa tak jarang yang memilih bertahan untuk pp alias pulang-pergi. Eh kok kebalik ya? Masak pulang dulu baru pergi? Berarti yang benar adalah pergi-pulang, iya nggak? Nah, biasanya ini mahasiswa yang jarak dari rumahnya dekat dengan kampus atau dapat dikatakan terjangkau. Tapi, nggak jarang juga mahasiswa yang jarak dari rumah ke kampus bisa terbilang jauh, misalnya Bekasi Timur-Ps. Rebo via Kalimalang, Cilincing-Ps. Rebo dengan menunggang kuda besi, dan jarak-jarak lainnya. Beda lagi ceritanya kalau tentang jarak hati kamu dan doi.

Guys, coba anggapan “hambatan” kita ganti sebagai “tantangan”.

Loh apa hubungannya atara jarak rumah-kampus dengan hambatan-tantangan? Pertanyaan dan jawaban di bawah ini yang akan menjelaskannya dan nggak jarang (pasti pernah) dialami oleh sebagian mahasiswa.

Apa yang menjadi tantangan ketika kamu pergi ke kampus sekadar untuk “kuliah” (belum termasuk kegiatan lainnya yang memintamu datang ke kampus selain kegiatan yang berhubungan dengan perkuliahan)?

Pas semester empat baru nyadar, ternyata jarak antara rumah-kampus lumayan jauh. Jasa ojek online pun tak sanggup mengantar dengan jarak maksimalnya yang telah ditetapkan perusahaan. Kalau begini, nggak peduli jam berapa pun kamu tidur yang penting sang pagi masih buta (pukul empat pagi) kamu udah harus prepare, biar nggak kesiangan, mengingat akses jalan menuju kampus yang amazing! Misal, Cilincing-Ps. Rebo, tak jarang seketika kamu akan merasa kecil di mana di sekitarmu didominasi container. Mengerikan bukan? Harus ekstra hati-hati.

Advertisement

Jalan menuju kampus yang setiap hari dilewati sedang ada renovasi (pembuatan fly over dan pelebaran jalan) yang tak kunjung usai karena tergolong proyek besar yang sempat vakum beberapa tahun. Jalannya mengerikan karena tak jarang ada kubangan air atau jalan yang berlubang, hamparan pasir dan batuan di jalan, yang sering membuat orang mencium aspal tanpa diharapkan dan tanpa diminta.

So, ketika di jalan, sendirian, kamu harus selihai mungkin mengendarai kuda besimu bak rider motocross (crosser). Kasihan ya berjuang sendirian, "Alone Fighter" dong? Nggak apa buat sementara waktu asal jangan "Alone Forever" aja. Oops! Nggak deng, maksudnya "Single Fighter"!

Membuat ibumu harus berhasil menjadi akuntan terbaik padahal ibumu saja belum pernah menjajal bangku kuliah akuntansi. Ibumu berusaha memplanning keuangan sebaik mungkin agar semua kebutuhan keluargamu bisa tercukupi. Sementara kamu banyak mengeluarkan uang untuk ini itu, harusnya kamu juga yang pinter nyari uang, lebih bagus lagi kalau kamu bisa bikin uang yang nyari kamu. Kalau belum bisa begitu, belajar hemat bisa dong?

Sudah sampai kampus, belajar, setelah kelas selesai mau langsung pulang? Atau mau nangkring dulu di tempat makan dengan teman-teman, kalau sudah kenyang baru pulang? Ingat, usaha kamu bisa sampai ke kampus. Dari harus bangun pagi-pagi buta padahal masih betah bermanja-manja di Pulau Kapuk dan berjuang di jalanan sendirian.

Sempat terpikir nggak sih, “masih kurang” kalau tujuan ke kampus hanya untuk kuliah? Kecuali mungkin kalau kamu kerja part time, nggak “bergabung dalam kegiatan pengembangan diri” yang ada di kampus that’s ok lah. Jika memang kegiatanmu hanya kuliah, jangan jadi mahasiswa kupu-kupu alias kuliah pulang-kuliah pulang.

Bergabunglah dengan UKM yang ada di kampusmu, carilah yang sesuai dengan passion atau bakatmu, atau kalau kamu orangnya senang berorganisasi kamu bisa ikut organisasi kemahasiswaan baik intrakampus maupun ekstrakampus. Wadah untuk mengembangkan diri tak hanya di kampus lho, bisa juga dari luar kampus, misalnya komunitas.

Jika kamu tertarik dengan dunia seni kamu bisa bergabung dengan KSPJ (Komunitas Seniman Pelajar Jakarta). Ingat, orang tuamu cari uang susah, demi supaya kamu bisa kuliah, selesai kelas terasa lapar dan kaki ingin menginjak restoran mewah, kalau di kampus memang udah nggak ada kegiatan lagi kuy-lah, mending langsung pulang ke rumah, mamam masakan mamah, liat wajah mamah yang kadang galak suka marah-marah, tapi lihat wajah mamah yang juga lelah, seketika berubah menjadi lebih indah, ketika kamu bilang masakanya “wah mah, ini istimewah”.

Nah, bagaimana? Sekarang kamu sudah semester berapa? Karena berburu ilmu, melukiskan pengalaman, mengukir karya dan prestasi itu nggak harus di kelas. Kuy lah, beri warna lebih untuk hari-harimu selagi menjadi mahasiswa.