“Pelaut itu suka mabuk-mabukan, main judi, serta main perempuan”

Inilah stigma yang melekat pada sebagian besar masyarakat kita, tak terkecuali saya sendiri. Tapi itu dulu, sebelum negara api menyerang. Berkat stigma tersebut, saya ingat betul saya sempat bercerita pada Ibu bahwa saya tidak tertarik sama sekali untuk menjalin hubungan dengan pelaut. Sama sekali tidak. Namun beberapa tahun kemudian tangan Tuhan mempertemukan saya dengan seseorang yang sama sekali tidak pernah saya duga sebelumnya, yang kemudian memperbaiki stigma negatif saya tersebut. Mungkin Tuhan ingin menyelamatkan saya dari golongan mereka yang memiliki stigma kurang tepat tersebut.

Oleh skenario Tuhan, entah bagaimana caranya dalam satu waktu saya diperkenalkan dengan beberapa orang pria sekaligus. Anehnya, mereka sama-sama masih belajar di sekolah pelayaran. Namun saat itu saya memang tergolong orang yang terbuka untuk menerima permintaan pertemanan, istilahnya sih memperluas koneksi ke berbagai sektor *apasih*. Seiring waktu berjalan, entah kenapa pada akhirnya saya hanya tertarik berkomunikasi dengan 1 orang saja. Jika kalian bertanya pada mereka yang mengenal saya, mungkin mereka akan menjelaskan bahwa saya termasuk tipe orang yang membuka link pertemanan dimana saja tapi sekali bertemu dan merasa tidak cocok maka akan langsung lost communication.

Sebut saja 1 orang tersebut Abang (untung bukan Mawar). Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, Abang ini adalah salah seorang siswa di sebuah sekolah pelayaran yang cukup dikenal di kota saya. Kami tidak butuh waktu lama untuk mengakrabkan diri. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk menjalin hubungan yang sedikit lebih serius. Nah dari sinilah semua stigma saya sedikit demi sedikit mulai diperbaiki.

Salah satu tanda bahwa seseorang memang benar-benar serius dalam menjalin hubungan dengan kita adalah ketika dia bersedia memperkenalkan kita di lingkungan sosialnya, mulai dari teman-teman hingga keluarganya. Oleh karena itu, dari sini saya mulai mengenal sosok seperti apa sih dia sebenarnya. Waktu setahun lebih menyadarkanku bahwa dia adalah sosok yang sedikit egois dan keras kepala. Diluar dari itu semua, saya yakin bahwa dia adalah sosok yang sangat bertanggung jawab di setiap perbuatan dan perkataannya.

Advertisement

Satu yang saya sukai dari dia adalah karena dia termasuk tipe orang yang sangat membenci pengkhianatan. Mengapa saya menyukai orang dengan kepribadian seperti itu? Karena saya yakin bahwa mereka tidak akan melakukan apa yang mereka tidak sukai. Waktu setahun lebih tersebut juga mengenalkan saya dengan lingkungan sekitarnya (teman-temannya). Dari cerita-cerita yang sering dia bagi, maupun dari pengamatan saya secara langsung, saya tidak menampik stigma yang saya sampaikan di awal cerita ini. Memang stigma itu benar adanya, namun ada yang perlu ditambahkan. “Pelaut itu suka mabuk-mabukan, main judi, serta main perempuan. Tapi tidak semua

Saya menambahkan satu kalimat tersebut bukan tanpa alasan. Karena saya yakin Abang dan beberapa orang lainnya tidak termasuk didalamnya. Selama ini komunikasi kami tidak pernah hilang selama ada signal. Mengenai teman-temannya sendiri saya sedikit banyak mengetahui dan mengenal mereka (tidak perlu saya sebutkan nama dan karakternya masing-masing). Dan Alhamdulillah Abang selalu berbagi cerita tentang kegiatan dia disana (yah semoga sih ga boong ya).

Mabuk-mabukan? Abang pernah cerita kalau dia dulu termasuk salah satunya, tapi saat ini perlahan mulai meninggalkan, atau paling banter sih kalau diajakin yah cuma sekedar menghargai orang lain saja. Saya percaya. Main judi? Wah setahu saya sih tidak pernah dan dia juga tidak pernah menyinggung soal ini. Main perempuan? Ah sudahlah. Saya selalu berpesan untuk selalu jaga mata dan jaga hati. Meskipun ini terlihat childish banget tapi yakinlah ini salah satu cara saya untuk selalu mengingatkan, bukan berarti tidak percaya.

Tapi yang paling penting adalah bahwa Ibunya, Ibuku, dan saya sendiri selalu berpesan untuk menjauhi semua hal yang negatif semacam itu. Kalau Abang baca ini, lihatlah betapa banyak orang yang peduli dan menaruh kepercayaan padamu. Ok, back to the point. That’s why saya menambahkan kalimat “Tapi tidak semua”.

Sekarang stigma itu tidak lagi mengganggu karena saya sudah tahu dan sadar bagaimana hidup mereka sebenarnya (meskipun hanya sebagian kecil). Dan saya yakin komunikasi adalah kunci penting dari hubungan semacam ini. Hanya wanita-wanita tangguh yang mampu menjalin hubungan ditengah orang-orang yang memiliki stigma negatif seperti itu. Kau harus memiliki kesabaran ekstra mendengar omongan-omongan seperti itu.

Tapi mereka yang bicara seperti itu tidak perlu disalahkan karena mungkin saja ada alasan kuat kenapa mereka berbicara seperti itu. Hanya saja yang disayangkan adalah hanya karena beberapa oknum yang berbuat seperti itu, mereka langsung menggeneralisir ke semua pelaut. Fuuuhh….

But right now, yang mengganggu saya adalah kalimat “mereka yang ingin menjalin hubungan dengan pelaut itu hanya menginginkan uangnya saja”. Hellowwww, situ sehat? Eh tapi emang sih saya sendiri sudah banyak mendengar kasus dimana si wanita berselingkuh saat prianya sedang berjuang mengarungi lautan. Miris sih, tapi emang gitu kenyataannya. Bahkan mereka selingkuh dengan uang hasil kerja keras prianya. Makin miris yah dengernya. Eeeh tapi bukan berarti saya membenarkan kalimat diatas yah.

Lagi-lagi tidak semua. Tidak semua wanita beralasan seperti itu. Kalian tahu bagaimana perjuangan kami menjalani hubungan semacam ini? Mungkin bisa dibilang dalam sebulan kami beberapa kali bertengkar hanya gara-gara masalah kecil, yah namanya juga hubungan jarak jauh. Tapi Alhamdulillah setiap masalah bisa kami selesaikan dengan baik. Ketika saya melihat pasangan lain berseliweran kesana kemari berduaan, lah saya harus menunggu kabar dari Abang sepanjang hari karena sibuk kerja demi membahagiakan keluarga dan menghalalkan saya *eh. Ini berat taukkkkk. Lah kalian seenaknya ngomong gitu.

Tapi saya pribadi sih ga terlalu mikirin penilaian seperti itu, karena balik ke diri masing-masing lagi. Tapi tetap saja orang-orang dengan pemikiran seperti itu menurut saya harus didoakan semoga diberi hidayah agar tidak menggeneralisir stigma seperti itu ke semua orang.

Well. Dari pengalaman saya pribadi sih saya bisa menarik kesimpulan bahwa memang benar ayat Allah pada QS. Al-Baqarah (216) yanga artinya: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui”.

Saya yang awalnya tidak menyukai orang-orang yang berprofesi sebagai pelaut, akhirnya dipertemukan dengan sosok yang kini saya harapkan menjadi yang terbaik. Dan dia tidak lain tidak bukan adalah seorang perwira. Allah Maha Mengetahui 🙂