Akhirnya mereka lebih banyak menayangkan informasi yang disukai masyarakat namun tidak memberikan nilai edukasi kepada masyarakat. Akhirnya terciptalah masyarakat yang bermental lemah. Tak jarang pula masyarakat yang satu dengan yang lainnya terprovokasi dengan informasi yang dikabarkan di dalam Televisi.

Kemajuan teknologi sudah benar-benar merambah ke segala aspek kehidupan manusia. Ia ibarat mahluk asing yang mampu merubah segala sesuatu dengan kekuatan sihir. Segala sesuatu berubah dengan sangat cepat. Kini teknologi sudah benar-benar semakin canggih, menyebabkan segala sesuatu mengalami perubahan yang sang signifikan. Kini perubahan sudah bukan hal yang sulit lagi, kemajuan teknologi sudah mampu menyulap segala sesuatu dengan mengubah apapun yang diinginkan tanpa memakan proses yang panjang, seperti mengerlipkan sebelah mata.

Kemajuan teknologi saat ini sudah benar-benar mempermudah kehidupan manusia. Namun kemudahan tak serta merta membawa ke arah perubahan yang positif dalam diri masyarakat, melainkan meninabobokan masyarakat untuk menjadi orang yang serba instan dan berpikiran pendek. Teknologi menyebabkan masyarakat menjadi manja. Malas bergerak, berkomunikasi, dan bersosialisasi dengan sesamanya. Teknologi menybebakan masyarakat modern saat ini sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, tanpa memikirkan kondisi yang ada disekitarnya.

Kini dunia sudah tak satu lagi, namun sudah menjadi milyaran dunia. Karena setiap manusia di muka bumi telah memiliki dunianya masing-masing. Sifat egoisime mulai mengakar kedalam tubuh masyarakat modern saat ini.

Teknologi menciptakan berbagai macam alat yang dapat mempermudah segala kegiatan hidup manusia. Untuk berkomunikasi saja kini masyarakat tidak perlu mengirim surat secara manual dan memakan waktu lama untuk segera terkirim. Teknologi yang maju telah berhasil menemukan smartphone yang fungsinya bukan hanya untuk bertukar pesan dan saling menghubungi, namun fungsinya sudah semakin canggih. Smartphone sudah bisa digunakan untuk menelanjangi dunia mentah-mentah. Begitu pula dengan informasi, kini masyarakat sudah disuguhkan dengan berita-berita yang ada dalam Televisi. Banyak masyarakat yang menganggap bahwa berita yang disampaikan dalam siaran televisi adalah berita yang benar-benar mencerminkan fakta yang sebenarnya. Masyarakat benar-benar berpikiri instan, informasi yang diberitakan jarang sekali untuk di filter terlebih dahulu sebelum dikonsumsi dalam otak. Informasi dalam televisi dimakan mentah-mentah begitu saja. Tentunya makanan mentah yang dimakan akan memberikan efek yang kurang baik bagi tubuh. Begitu pula dengan informasi dalam televisi yang ditelan mentah-metah oleh masyarakat modern saat ini.

Advertisement

Lantas apa dampaknya? Kembali saya angkat analogi diatas. Jika kita memakan makanan dengan mentah-mentah tanpa dimasak terlebih dahulu, maka kita akan mengalami sakit perut atau terserang penyakit yang lalinnya. Hal ini juga sama dengan kasus masyarakat saat ini, mereka memakan informasi yang di tontonya dalam televisi secara mentah-mentah, sehingga tak heran jika saat ini kita melihat banyak masyarakat yang terserang penyakit, bukan sakit perut, namun lebih dari itu, yakni penyakit kebodohan dan mental. Saya tidak perlu memaparkan secara detail semua penyakit-penyakit tersebut. Namun anda sendiri bisa melihatnya sendiri dan bahkan merasakannya langsung.

Kemjuan teknologi menyebabkan masyarakat kita mulai meninggalkan buku. Mereka lebih menganggap Televisi sebagai sumber informasi yang utama. Mereka menganggap televisi sebagai peyalur informasi yang paling mudah untuk didapatkan, tidak seperti membaca yang memerlukan konsentarasi yang tinggi untuk dikonsumsi. Padahal kita ketahui bersama bahwa membaca adalah kunci untuk membuka gerbang cakrawala dunia. Informasi yang diberikan oleh media televisi tidak boleh kita cerna begitu saja. Kita perlu lebih banyak membaca agar bisa menyaring informasi yang dipaparkan dalam televisi. Dengan banyak membaca kita akan dapat memilih informasi mana yang harus dicerna dan harus dibuang. Perlu kita ketahui bersama bahawa televisi diciptakan oleh para pengusaha untuk merauk keuntungan dari iklan-iklan yang ditayangkan. Hakikat dari bisinis sudah kita ketahui bersama, bahwa tujuan utamanya adalah untuk menggali keuntungan yang sebesar-besarnya. Jadi bisa dikatakan bahwa mereka akan melakukan apa saja untuk mendapatkan keuntungan dari masyarakat. Akhirnya mereka lebih banyak menayangkan informasi yang disukai masyarakat namun tidak memberikan nilai edukasi kepada masyarakat. Akhirnya terciptalah masyarakat yang bermental lemah. Tak jarang pula masyarakat yang satu dengan yang lainnya terprovokasi dengan informasi yang dikabarkan di dalam Televisi.

Pernahkan anda menyaksikan perbedaan konten berita yang ditayangkan oleh dua stasiun swasta tanah air mengenai hasil pemilu? Disana sudah sangat jelas sekali bahwa stasiun tersebut tidak memiliki sifat independen. Mereka dipengaruhi oleh sang pemiliknya. Mereka menyajikan informasi yang hanya menguntungkan pemiliknya, sedangkan jika ada informasi yang menyinggung pemiliknya tidak akan ditayangkan. Dari hal ini saja kita sudah dapat tarik kesimpulan mengenai keakuratan televisi dalam memberikan informasi kepada masyarakat. Ternyata mereka bisa memodifikasi fakta sesuai dengan pesanan pelanggan.

Dari apa yang sudah saya paparkan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa membaca adalah aktivitas yang tidak boleh kita tinggalkan. Membaca akan tetap kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Membaca disini tentunya adalah membaca bahan bacaan yang berkualitas. Hampir setiap harinya kita menggunakan waktu kita untuk membaca, baik itu membaca merk barang, buku, iklan di jalan, poster, kaleng susu, merk minuman, nama tempat dan lain sebagainya. Membaca adalah cara kita untuk menambah wawasan kita seluas samudera. Semoga semangat membaca kita tetap berkobar tanpa surut meskipun magnet televisi semakin membabi buta menghipnotis kita semua. Menontot televisi tidak salah, namun jangan dijadikan sebagai sumber informasi yang utama. Mari rajin membaca agar bisa menjadi masyarakat yang pintar dan kritis dalam menanggapi isu-isu yang ada. Jangan sampai terjadi pembodohan massal akibat terlalu banyak terkena paparan limbah propaganda televisi. Membacalah, membacalah, membacalah, maka tak akan ada apapun yang bisa membodohi kita.

Mari Membaca…..