Namanya Amirul Huda, mahasiswa semester 5 program studi Ilmu Komunikasi di salah satu kampus favorit di Jakarta ini layaknya seperti anak muda pada umumnya. Senang bermain, nongkrong hingga larut malam dan aktif dalam sebuah komunitas fotografi yang seringkali mengadakan kumpul setiap malam Minggu di bilangan Kemang, Jakarta Selatan. Pemuda yang akrab disapa Huda ini memang potret anak muda kekinian. Ketika ditanya tentang “Bagaimana nasib partai politik setelah diberlakukannya sistem Presidential Treshold sebanyak 20%?” Ia pun langsung menjawab “Wah Mas, emang Presidential Treshold apaan tuh?”

Lain Amir, lain pula dengan Miryam Lestari. Mahasiswi jurusan Kedokteran Hewan yang ditemui di kawasan Taman Ismail Marzuki yang saat itu sedang berkumpul bersama teman-temannya, ketika ditanyakan pertanyaan yang sama dengan Amir, Miryam hanya menjawab “Aku termasuk orang yang nggak ngikutin berita politik Mas. Kemaren sempet ngikutin tuh beritanya, cuma jadi bosen aja gitu ngeliat mereka-mereka yang enak banget bersandiwara, ujung-ujungnya juga ketangkep korupsi.”

Ya, walaupun tidak menggambarkan secara general tetapi tampaknya jawaban yang ditanyakan secara random tersebut ternyata memang sedikit memberikan kita sebuah informasi yang mengkhawatirkan. Bahwasannya sikap melek politik yang dimiliki oleh pemilih muda sangat rendah. Padahal, melalui sarana pemilu yang sarat dengan nuansa politik lah kekuasaan negeri ini digenggam. Kebayang dong apa yang dihasilkan oleh para pemimpin negeri ini, bila para pemilihnya saja tidak teredukasi dengan baik?

Memang pada dasarnya, nggak bisa dipungkiri lagi suara pemilih muda memainkan peran yang sangat signifikan dalam setiap kontestasi pemilihan umum di Indonesia. Baik untuk tingkatan nasional maupun tingkatan daerah. Dalam Pemilu 2014 contohnya, sebanyak 1/3 dari total 183 juta yang terdaftar sebagai DPT merupakan pemilih muda yang rentang usianya 17-23 tahun. Pada Pilkada 2016 di DKI Jakarta, angka pemilih muda mencapai 718.571 orang atau sebesar 10.07%. Luar bisa besar bukan? Nah, begitu banyaknya suara yang dimiliki oleh pemilih muda tentunya sangat menggiurkan untuk didulang oleh berbagai partai politik. Tetapi sayangnya, seringkali mereka semua gagal untuk mendapatkan tempat di hati para pemilih muda. Oleh sebab itu, Kami mempunyai beberapa analisis menarik nih tentang kenapa sih partai politik susah menggaet pemilih muda? Penasaran kan? Berikut ulasannya:)

Kurang informatif serta kurang mengikuti perkembangan zaman

Advertisement

Wahai para petinggi partai politik, kalian sadar nggak sih bahwasannya yang kalian hadapi adalah manusia-manusia jaman millenial. Tentunya pendekatan yang diberikan pun harus berbeda dengan apa yang dulu kalian terima saat muda. Di tahun 1950-1990 tentunya kita sepakat bahwasannya menggelar orasi publik dan silaturahmi door to door  mengunjungi berbagai organisasi mahasiswa merupakan sarana yang paling tepat untuk menggaet pemilih muda. Tentu saat ini cara tersebut merupakan cara yang kuno dan kurang efektif dalam mendulang suara pemilih dari kaula muda. Lantas, cara apa nih yang cocok?

Menurut data yang dihimpun oleh PBB, jumlah handphone yang dimiliki oleh penduduk bumi mencapai dua kali dari jumlah manusia yang hidup di bumi. Itu artinya, arus informasi saat ini dikuasai melalui genggaman handphone yang setiap saat bisa kita akses. Sebut saja Facebook, Youtube, dan Instagram, 3 teratas media sosial yang paling sering dikunjungi dan memiliki jumlah pengguna terbesar ini terbukti sangat efektif untuk mendulang suara dari pemilih muda. Pencerdasan yang dilakukan melalui foto serta video yang gencar juga secara tak sadar muncul dalam beranda media sosial, sehingga otak kita pun akan langsung mengenalinya. Cara ini terbukti sukses pada Pemilu tahun 2014 lalu ketika Jokowi berhadapan dengan Prabowo. Jokowi saat itu memaksimalkan penggunaan Twitter secara massif dengan menggaet beberapa tokoh anak muda seperta Standup Comedian, Musisi hingga Artis yang sering muncul di televisi untuk ikut berkampanye mendukungnya. Slogan ‘I stand on the right side’ pun gencar dipakai bersanding dengan profil picture, dan unggahan video melalui kanal-kanal Youtube pun juga aktif digerakkan. Hasilnya terbukti dalam Pemilu 2014, Jokowi berhasil mengungguli Prabowo dan berhak memimpin selama 5 tahun kedepan.

Maka dari itu, sudah seharusnya partai politik membenahi strategi kampanye dan mulai memperhatikan perkembangan zaman agar mampu memikat pemilih muda.

Tidak adanya ketokohan pemuda dalam struktur partai

Akan menjadi hal yang lucu apabila banyak partai politik berlomba-lomba memikat hati pemilih muda, namun di satu sisi mereka sendiri pun tidak mempunyai tokoh muda di dalam struktur partainya. Bagaimana mungkin mereka ingin terlihat dicintai oleh pemilih muda, tetapi dalam internalnya sangat sulit ditemukan anak mudanya yang terlibat di kepengurusan partai. Mungkin sebagian besar partai politik di Indonesia mempunya permasalahan yang sama. Arus kaderisasi yang mandek pun seringkali menjadi kambing hitamnya. Padahal, masalah ini sudah berlangsung bertahun-tahun lamanya. Sehingga di titik ini, pertanyaan besar yang terjadi adalah ‘Apakah alur kaderisasi yang terhambat atau peran senior yang terlalu tertambat?’ Promosi jabatan para kader muda yang duduk di dalam kepengurusan memang seringkali terhambat akibat ketokohan para senior yang tidak memberikan kesempatan kepada kader mudanya. Alasannya pun bermacam-macam, dari mulai kurang pengalaman hingga ‘kurang uang’ pun selalu dijadikan tamengnya.

Para pengurus partai politik seharusnya harus berani bersikap untuk memperbaiki masalah ini. Solusi yang sering diambil di antaranya adalah dengan cara mengorbitkan para artis ataupun aktor yang sering tampil di layar kaca untuk mendulang suara pemilih muda. Memang tergolong instan, tetapi hasil yang didapat pun tidak terlalu buruk. Selain itu, kedekatan emosional harus dibangun dengan berbagai organisasi pemuda serta komunitas-komunitas yang tersebar dan menjamur di berbagai daerah. Kampus sebagai kawah candradimuka intelektual muda memang harus digarap secara serius oleh partai politik sebagai bagian dari kaderisasi, sehingga estafet tongkat kepemimpinan pun dapat berjalan dengan lancar. Selanjutnya, seringkali kita melihat berbagai kontestasi politik sangat sedikit menampilkan anak muda asli didikan partai politik untuk bertarung. Maka dari itu, apabila semua ini bisa diperbaiki dan dibenahi, tentunya kita akan melihat tokoh muda yang menduduki jabatan strategis di partai politik dan menjadi calon pemimpin berbagai kepala daerah di Indonesia.

Kondisi lingkungan tempat tinggal

Mungkin di antara kedua poin di atas, sepertinya ini adalah alasan paling sepele. Tetapi walaupun begitu, dampak yang dihasilkan sangat besar. Kamu pasti sering mendengar istilah “Milih enggak milih, gak terlalu berpengaruh juga buat gua”. Pilihan politik pemilih muda seringkali belum dipengaruhi motivasi ideologis tertentu dan cenderung didorong oleh kondisi lingkungan politik di mana mereka tinggal. Mereka pun sangat mudah dipengaruhi oleh kalangan terdekatnya. Dari mulai orang tua, guru di sekolah hingga teman di tempat mainnya. Sehingga tepat sekali bila kita mendefinisikan pemilih muda masih jauh dari kecerdasan dalam berpolitik. Pemilih muda yang gampang terombang ambil dan sering  termakan isu media merupakan salah satu kegagalan kita dalam mendidik anak muda di sekitar kita dalam berpolitik.

Cukup rumit memang, benang merah yang dapat ditarik di sini adalah bahwasanya sudah menjadi tugas kita bersama untuk membuat suatu edukasi akan pentingnya pemahaman politik bagi pemilih muda. Anggap saja pemilu sebagai kesempatan untuk berproses demokrasi secara singkat, sehingga pilihan yang akan mereka buat nantinya akan sangat berdampak bagi kemajuan Indonesia.

Sejatinya, Indonesia yang cerdas, mandiri, demokratis dan berwibawa pada akhirnya akan lahir dari para pemilih mudanya. Jika semua ini terkelola dengan baik, bukan tak mungkin nantinya Amirul Huda ataupun Miryam Lestari yang tadinya bersikap apatis, akan berbalik arah untuk peduli tentang nasib perpolitikan di Indonesia.

Selamat beraktifitas!