Sebuah awal pernahkah kau menangis? Apa yang kau tangisi? Adakah yang kau tangisi itu cukup berharga? Tak perlu dijawab, karena beberapa hal terkadang lebih baik tidak memerlukan jawaban. Seperti halnya Tuhan, saat kita meminta sesuatu, Dia tidak menjawab. Dia hanya menuntun kita.

Suara klakson mobil menyadarkanku dari lamunanku. Uhh, panasnya hari Ini. Sebaiknya cepat sampai kantor, pikirku. Yaaa, aku jalan kataku pada pengendara mobil di belakangku sambil mengangkat tangan kiriku ke atas. Dan sepeda motorku kembali melaju, yang lampu depannya telah pecah. Setelah Tuhan, kekasihku yang kedua adalah motor ini, dia teman sejatiku beraktifitas. Ya sekalipun keadaannya cukup miris. Motor ini ku beli seharga 7 juta dan pada hari kedua setelah aku pakai langsung mengalami cedera.

Di tabrak mobil dari belakang tepat di depan Cibubur Junction, dan berakhir dengan beberapa cedera ringan, terutama di batok kepalanya teman seperjuanganku ini. Dan insiden itu berakhir dengan jabat tangan antara aku, polisi di TKP, dan si empunya mobil dengan di iringi senyum, hanya senyum. Tak terasa telah sampai kantor.

Jam di tanganku masih cukup pagi 07.20 menit. Masih sempat sarapan pikirku. Parkir motor, lalu bergegas ke tempat makan paling nyaman bagi perantauan di ibu kota, warteg. Sayangnya sampai di sana perasaan nyaman hilang. Ketemu dengan sang perusak kebahagiaan pagi, kang Rozi (katanya asli sunda, seasli dia yang selalu standby di warteg langgananku ini, nunggu aku datang lalu sarapan bareng.

Dia menyarankan untuk sarapan bareng dengannya. Dan sarapan bersama dengan menu nasi uduk, teh manis dan kopi susu (untuk si akang tapi) di lanjutkan dengan merokok dan obrolan tentang gadis-gadis sunda yang di promosikan si pembuat onar pagiku yang ceria ini. Hampir jam 8, acara kami bubar dan aku pun bersyukur banget.

Advertisement

Aktifitas pagi dengan setumpuk pekerjaan yang nikmat ini pun menyibukanku. Melihat melihat data nasabah, mulai yang dari saldonya setengah-setengah, sampai yang saldonya bikin mata jelek karena bingung cara ngitung duitnya pakai jari gimana dan butuh berapa lama baru selesai.

Saat istrahat siang, aku pun makan siang. Dan tiap makan siang, kami semua teman kerja ini tertawa, becanda, seolah-olah tidak ada beban. Sore datang, waktunya pulang, hatiku riang. Perjalanan panjang demi pulang ke rumah pun di mulai. Di tengah jalan dapat waktu maghrib, sholat pun di prioritaskan dulu.

Jam 8 sampai juga ke rumah. Dan aku kembali jadi orang asing. Ya asing. Tidak ada yang tahu tentang diriku sebenernya. Di mata teman-teman kerja, mereka hanya tahu aku perantauan dari Sumatra Utara. Aku juga merasa tidak perlu memberitahu mereka. Namun hati ini selalu ingin ada seseorang yang menjadi tempat bercerita.

Benar ada Allah tempat curhat paling utama, namun sebagai manusia biasa, aku pun butuh orang lain. Keluarga, mereka kan bukan orang lain. Teman kerja, nggak bisa. Nanti dari curhat pasti ada jalan jadi cilok (cinta lokasi kata ABG, bukan nama makanan). Namun oleh Nya, someone itu belum dikirimkan. Tapi tak masalah. Aku bisa cerita kepada diriku sendiri kok, kata batinku begitu. Dan tiap malam, atau dalam waktu senggangku, dalam doaku, aku selalu bercerita pada hatiku, pada Tuhanku, tentang betapa aku tak ingin sendiri.

Syukurlah, Tuhan beri aku kekuatan, aku bisa tetap melaju kedepan. Dan Tuhan pula yang menuntunku untuk memaafkan masa lalu, menerima eksistensi diriku secara total dengan segenap jiwa ragaku, sehingga bisa sejauh ini melangkah. Ini adalah awal ceritaku. Sebuah awal dimana aku memulai babak baru dalam hidupku. Sebuah perjalanan panjang yang baru saja di mulai. Sebuah cerita yang akhirnya telah di tetapkan, tidak bisa di ubah oleh siapa pun. Dan aku suka tidak suka harus menjalaninya.