Halo anak-anak muda Indonesia!

Untuk mengobarkan semangat belajar, aku ingin berbagi kisah. Sederhana, namun semoga dapat berguna.

Cerita ini dimulai dengan berakhirnya masa sekolah, berubah status menjadi mahasiswa. Keren kedengarannya, tapi tanggung jawab yang dipikul juga semakin besar. Mahasiswa sudah nggak terfokus belajar saja, tapi jam dan hari kuliahnya pun sudah pasti harus bisa mengatur sendiri agar bisa lulus tepat waktu atau bahkan lulus lebih cepat, kecuali bagi kampus tertentu yang sistem tiap semesternya berupa paket mata kuliah, akan beda lagi ceritanya. Materi-materi buat belajar juga harus aktif cari sendiri karena diberi kebebasan untuk mencari dari berbagai sumber.

Mahasiswa sudah bukan siswa yang melahap apapun pemberian gurunya, mahasiswa adalah siswa yang aktif mencari pengetahuan dan bebas berpendapat, tapi tetap harus ingat pada peraturan dan ketentuan yang berlaku ya! Di awal-awal semester bangku kuliah, aku masih beradaptasi, artinya nggak banyak yang berubah dari diriku. Aku masih suka main-main juga, intinya belajar masih belum jadi prioritas. 

Menjelang pengerjaan skripsi, dapatlah aku sebuah pencerahan! Bahwa seharusnya selama ini aku belajar dengan lebih rajin. Rasa sesal itu aku lampiaskan dengan memutuskan untuk lanjut studi. Ya, aku mengambil sekolah Magister (S2), padahal sudah ada salah satu perusahaan yang menelepon waktu itu menawarkan pekerjaan, tapi tekadku sudah bulat.

Advertisement

Iming-iming dapat uang sendiri tak menggoyahkan sedikit pun tekad yang sudah terbentuk. Toh ketika sudah lulus nanti, masih ada kesempatan untuk kerja dan dapat uang sendiri. Tapi kalau dibalik, kerja dulu baru nanti lanjut studi lagi, bisa-bisa semangat sudah padam duluan. Belum lagi bertambahnya usia jadi faktor kamu malas karena jadi mudah capek, ya kan?

Berikut ulasan singkat beberapa manfaat yang aku dapatkan selama berproses di bangku Magister, tentunya aku berharap setelah membacanya semangat kamu segera bangkit untuk kembali ke bangku kuliah melanjutkan jenjang pendidikan berikutnya! Setinggi yang kamu bisa capai!


  • Dapat memahami ilmu-ilmu yang telah diajarkan saat S1

Di jenjang pendidikan Magister ini, aku semakin memahami dan mendalami ilmu-ilmu pelajaran yang ada. Beberapa materi yang dulu sewaktu jenjang S1 tidak kumengerti, ketika di jenjang S2 dapat kupahami dengan demikian mudahnya, kebetulan aku ambil jurusan manajemen.


  • Dapat membuka pikiran, karena terdapat latar belakang profesi yang berbeda

Pikiranku juga semakin terbuka karena kebanyakan teman-teman sekelasku adalah orang-orang yang sudah bekerja dengan latar pendidikan S1 mereka yang berbeda-beda pula. Disitulah aku mulai mengenal berbagai macam profesi, ada yang dosen, wartawan, pegawai bank, pegawai negeri, guru, juga ada wirausahawan. Dulu kami banyak mengobrol dan bertukar pikiran ketika ada waktu senggang di kampus.


  • Dapat berdikusi banyak hal

Kelas-kelas jenjang S2 pun terasa sangat berbeda jika dibandingkan kelas-kelas sewaktu S1. Di sini hubungan para dosen yang kebanyakan bergelar Doktor dan Profesor dengan para mahasiswa atau mahasiswinya dekat. Kami berdiskusi tentang banyak hal, ekonomi, budaya, politik, pariwisata bahkan kuliner. Tapi lebih banyak bedah kasus sih, haha.


  • Mengasah kemampuan

Kami terus didorong untuk dapat bekerjasama dengan orang lain dengan dibentuknya tugas-tugas kelompok, dengan demikian kita akan belajar untuk dapat beradaptasi dan bekerja dalam tim. Tugas presentasi secara individu juga banyak. Di sini kita akan diajar untuk dapat berbicara dengan baik di depan umum. Biasanya, baik tugas kelompok maupun individu datangnya bersamaan dengan tujuan mengasah kemampuan multi tasking. Secara garis besar, jenjang Magister ini benar-benar mengasah secara intelektual maupun performance


  • Belajar suatu hal lebih dalam, contohnya komunikasi dalam Bahasa Inggris

Ah! Satu lagi hampir lupa, sebelum masuk S2, biasanya kamu akan di tes TOEFL, sebab bahan-bahan kuliah hampir 90% berbahasa Inggris. Lanjut studi S2 memaksa kamu untuk sekalian belajar dan memperlancar Bahasa Inggris. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui bukan?

Bukankah sudah cukup dengan embel-embel gelar Sarjana?

Kamu yakin? Ini sudah tahun 2017 dan manusia dengan gelar sarjana sudah seperti kacang goreng. Banyak juga sarjana yang pengangguran. Dengan modal S2, kamu sudah dipastikan akan berbangga diri, kamu bisa punya modal lebih yang dapat kamu tawarkan pada tempat kerja di mana kamu akan melamar dan hal ini bisa menunjang kariermu ke depannya. 

Beberapa orang punya pendapat bahwa nilai dan tingginya jenjang pendidikan tidak menjamin kesuksesan hidup seseorang. Betul! Itu betul, tapi yang mau aku tanyakan adalah, jika kamu diberi tiga pilihan:

a. Menjadi seorang sukses tanpa pendidikan.

b. Menjadi seorang sukses dengan pendidikan.

c. Menjadi seorang sukses dengan pendidikan tinggi.

Mana yang jadi jawaban kamu?

Saya rasa, akan banyak orang yang memilih jawaban c. Jika memang ada kesempatan, kenapa tidak digunakan? Jawaban a dan b tidak buruk tapi bukankah ada yang paling baik?

Bagi kamu yang terbentur keadaan ekonomi, jangan dulu pesimis. Ada banyak beasiswa di luar sana. Barang kali salah satunya sudah mengunggumu, asyik! Kalau gagal, ya coba lagi, gagal, coba lagi, dan coba terus. Percaya saja, akan selalu ada jalan untuk orang-orang yang mau berusaha.


Hai anak-anak muda Indonesia, menimba ilmu sebenarnya memang bukanlah soal nilai tinggi. Nilai adalah hasil akhirnya saja. Tapi inti penting dari menimba ilmu itu sendiri adalah proses. Bagaimana kalian bisa meraih hasil akhir yaitu dengan sebuah proses itu, mental-mental ini akan ditempa, untuk jadi lebih giat, untuk jadi lebih ulet, untuk jadi yang tidak gampang putus asa, untuk jadi sportif.


Terkhusus bagi perempuan, memang sudah garis hidupnya harus mengalami masa-masa kehamilan, melahirkan lalu merawat anak-anaknya. Namun demikian, apakah hal itu harus membuat semangat dan tekad para kaum hawa kendur untuk mengenyam pendidikan setinggi mungkin?

Tentu jawabannya tidak! Justru perempuan, sebagai ibu yang akan merawat kemudian mendidik anak-anaknya itulah menjadi tugas penting bahwa perempuan harus berpendidikan, karena anak-anak mereka yang kelak akan menjadi generasi penerus bangsa.


Ingatlah, inti pendidikan adalah prosesnya bukan sekedar hasil akhir.


Sebagai catatan, bagi kamu yang mau langsung lanjut studi setelah selesai meraih gelar Sarjana, sebaiknya pilih jurusan jenjang Magister yang linier, artinya satu jurusan dengan jurusan kamu sewaktu S1 agar ilmu yang kamu pelajari benar-benar matang. Tapi jika ada keinginan atau pandangan lain lalu ingin melanjutkan ke jurusan berbeda pun tak masalah, yang penting terus kobarkan semangat belajarmu, ya!