Mungkin satu alasan seketika membuatku jatuh hati padamu setiap harinya, namun sejuta alasan tak mampu membuatku meninggalkanmu. Karena hatiku telah menggarisbahawi bahwa hatimu untukku. Telahku penjarakan namamu di dalamnya dan takkan aku biarkan ia pergi. Tetaplah dalam relungku, hidup bersama jiwaku, kita semai bersama kebahagiaan itu. Meskipun aku tahu, jalan yang akan kita tempuh takkan mudah.

Aku sadar tak selamanya perjalanan kita akan berjalan mulus, pasti ada saat dimana kita akan melewati jalan yang dipenuhi dengan lika-liku, melangkahi kerikil demi kerikil kecil, dan menerjang badai bersama. Problema datang bukan untuk melemahkan atau mengehentikan langkah kita, namun ia datang untuk menguatkan, melaluinya berarti menang.

Mari denganku, demi sebuah kata bernama kebersamaan, tak boleh kalah hanya karena masalah datang menghadang. Hancurkan sekat yang berusaha memisahkan aku dan kamu. Buktikan, bahwa rasa yang biasa kita sebut dengan cinta itu memiliki kekuatan besar yang mampu meleburkan dimensi yang menghalangi perjalanan kita menuju masa depan.

Dan beginilah cara problema itu menguatkan..

Tak jarang kecemburuan datang merasuki kita sampai mempersilakan keraguan mengikis kepercayaan yang telah kita bangun.

Sebagai sepasang kekasih yang saling mencintai, tentu tak jarang kecemburuan mampir untuk sekedar mengusik. Hanya karena ada teman yang mengirimiku pesan singkat yang tak biasa, lalu kau kalang kabut dibuatnya. Hingga kau mulai ragu dan mempertanyakan tentang keseriusanku.

Advertisement

Tak apa sayang, bukankah aku juga sering cemburu dengan hal serupa? Perlu kau tahu, jangan pernah khawatirkan hatiku, karena ia selalu terpaut dengan hatimu. Bukankah kata ‘kita’ ada sampai hari ini karena kepercayaan yang selalu kita tumbuh suburkan dalam hati masing-masing?

Maka kita tidak boleh mempersilakan keraguan meracuninya dan mengikis rasa percaya itu. Yakinlah sayang, cinta kita terlalu digdaya untuk diporakporandakan oleh rasa cemburu. Aku untukmu.

“Kalau kau tak pernah mereguk nikmatnya cemburu, maka kau takkan tahu seberapa manis cintamu untukku..”

Masih dengan cemburu yang selalu menyertai aku dan kamu. Bersyukurlah karena kali ini ia datang bukan untuk meruntuhkan apa yang ada dalam hati kita. Ada saat dimana cemburu datang sebagai penawar di tengah kehambaran yang engkau dan aku rasakan. Waktu membuat rasa manis perlahan berkurang dan hilang.

Namun aku selalu berhasil diperbudak olehnya. Kadang diriku marah dan begitu egois dibuat olehnya. Namun kamu dengan tenang menghadapi sikapku. Teduh jiwamu memakluminya, "Perasaanmu terlalu peka, tak bisa untukku salahkan. Sekali lagi, karena kamu wanita." Ucapmu menenangkanku. "Kalau kau tidak pernah mereguk nikmatnya cemburu, kau tidak akan pernah tahu seberapa manis cintamu untukku.." Tuturmu dengan senyum simpul yang selalu kau persembahkan untukku, kau meluluhkanku.

Pahit memang ketika cemburu tiba-tiba datang, tapi tak apa, memang begitulah nikmatnya cemburu. Ia datang sebagai penakar kadar perasaan kita. Dan perasaan itu masih terasa sangat manis.

Katakan pada masa lalu, aku berada di garis masa depan untuk menyambut kedatanganmu

Bukankah kita sama? Pernah membiarkan orang lain singgah di hati kita? Maka bukan hanya kamu saja yang cemburu dengan mereka yang berada di masa laluku, akupun begitu. Terlebih jika cinta yang kau tawarkan untuk mereka lebih besar daripada untukku. Jangan risau, aku tak menjadikannya tumpuan kadar kesetiaanmu hari ini untukku. Perlu kau tahu, setiap kali aku menengok ke arah masa lalumu, aku selalu membandingkan diri dengan mereka yang dulu kau cintai.

Yaa, mungkin aku tidak secantik, secerdas, dan sebaik mereka, rasanya sesak! Sesak sekali. Tapi cintaku tak membiarkan sesak itu lama menyiksaku. Dan ketahuilah aku menyayangimu lebih dari mereka menyayangimu, aku menerimamu lebih dari penerimaan mereka terhadapmu.

Yakinlah! Dan jika kamu dijangkiti oleh perasaan yang sama, rasa sesak ketika masa laluku berkeliaran di benakmu, maka katakan padanya bahwa aku berada di garis masa depan untuk menyambut kedatanganmu. Biarkan masa laluku berada di masa lalu, begitu pun dengan masa lalumu, jangan biarkan ia datang mengoyak rencana indah kita. Terus melangkah bersama, demi sebuah mimpi yang kita harapkan keterwujudannya, bersama di masa depan! Tetaplah seiring denganku.

Kau takkan kehilangan apapun dariku, semuanya untukmu.

Sudah berapa episode perjalanan yang telah kita lalui bersama? Apakah setiap episodenya mengisahkan cerita yang sama? Tentu tidak. Jika hari ini berbeda dari kemarin, jangan takut. Kau tak akan kehilangan apapun dariku, semuanya untukmu.

Jangan menyematkan pikiran negative hanya karena aku tak mengabarimu hari ini atau tak memberitahumu tentang suatu hal. Bukan karena aku sudah tidak peduli, aku ingin agar kita tak hanya terbiasa dengan kehadiran, tapi juga dengan ketidakhadiran. Agar jengah tak tiba-tiba datang membubuhi tuba pada cinta kita. Aku selalu untukmu sayang!

Ketika rasa minder menemuimu, ingatlah bahwa aku menyayangimu dengan berbagai rupa.

Kadang kau mengeluhkan tentang kekuranganmu padaku, lalu sesekali mengatakan aku minder dekat denganmu. Kau melupakan satu hal, bahwa Tuhan menciptakanku dengan lebih yang aku miliki, berikut dengan kurang yang selalu melekatiku. Kau, terlebih aku mutlak memiliki kekurangan dan kelebihan. Kau tak perlu memilah kelebihanmu untuk kau suguhkan ketika berhadapan denganku.

Aku tak hanya membutuhkan lebih dalam dirimu, sertai juga kurang yang ada dalam dirimu. Bukankah kita bersama untuk saling melengkapi satu sama lain? Kurangmu akan ditutupi oleh lebihku, pun kurangku akan ditutupi oleh lebihmu. Ketika rasa minder menemuimu, katakan padanya bahwa aku menyayangimu dengan berbagai rupa.

Kita hanya butuh untuk sendiri ketika marah menusuk hubungan kita. Sendiri, diam, dan merenungkan.

"Kau menyebalkan, egois, selalu ingin didengar, aku bosan dengan sikapmu itu!" Kalimat yang paling sering kita lontarkan satu sama lain. Saling lempar kesalahan, sering sekali. Tak ada yang mau kalah diantara kita. Tak ada pula yang mau jadi orang yang salah. Aku paham, terkadang 'marah' menciutkan rasa yang selalu kita perjuangkan.

Marah membuat kita cepat membuat keputusan yang menghancurkan, tanpa pikir panjang. Mendangkalkan apa yang sudah kita gali sedalam mungkin. Masalahnya kadang sangat sepele. Namun, lagi-lagi karena aku seorang wanita, sangat peka jika mendengarmu mengatakan sesuatu yang tak aku inginkan.

Egois mulai menyusup ke dalam ruang hatiku. Aku diam dan kau mendiamkanku, hal yang paling aku benci sebenarnya. Kita hanya butuh untuk sendiri ketika marah menusuk hubungan kita. Sendiri, diam, dan merenungkan. Begitulah akhir dari kemarahanmu. Kau tidak tahu betapa jengkelnya aku kala kau mengatakan itu.

Setelah lama dengan 'diam' kita, akhirnya rasa yang kita punya mengantarkan kita pada sebuah kata, Maaf. Lalu hanyut saling memaafkan, kembali menyelami perasaan masing-masing, ternyata kita memang selalu saling menyayangi.

Percayalah, semua itu datang untuk menguatkan

Tak terhitung sudah berapa lembar yang dihabiskan untuk mencatat cerita perjalan ini. Coba kau baca ulang mulai dari lembar pertama, saat dimana hati kita mulai terpaut. Begitu banyak kisah yang telah tergoreskan pena. Tak semuanya cerita menyenangkan bukan? Cemburu, marah, egois, dan banyak hal lainnya yang membuat kisah kita berada di ambang ketiadaan.

Tapi kita bisa melewati semuanya, walau pahit kadang terteguk, namun itu tak berpengaruh apa-apa. Kita benar-benar sukses melaluinya sampai hari ini. Kita menang dan sudah cukup kuat untuk terus melanjutkan semuanya! Kau dan aku akan terus menapaki langkah, dan dunia akan terus membubuhkan tintanya untuk mencatatat perjalanan kita. Terbukti bukan, semuanya datang untuk menguatkan.

Kepada kamu, terimakasih telah menemukanku

Tentu di masa lalu kau telah melewati hari-harimu bersama dengan yang lain, begitupun dengan aku. Banyak yang dulunya hilir mudik di hatiku, namun tak satupun menetap untuk tinggal. Aku telah menghabiskan terlalu banyak waktu bersama mereka, namun yang aku dapatkan hanya ketiadaan. Hingga jengah datang dan aku memutuskan untuk bergeming dengan kesendirian.

Tersesat dengan kebosanan. Lama tak menemukan pemilik hati ini. Apa kau masih ingat dengan hari itu? Hari dimana kau datang membawa serta kesederhanaan, berhasil membuka kembali hatiku dan merangsek masuk untuk tinggal. Denganmu, merangkak bersama, berjalan bersama, berlari bersama, dan berusaha bersama. Kepada kamu, terimakasih telah menemukanku.