Hallo Mandira… Sudah lama rasanya kita tak bertegur sapa lagi, kali ini aku benar-benar pengin tahu kabar darimu—bukan sebuah formalitas sapa.

Apa kabarmu? Ah, rasanya sudah lama aku tak mangatakan ini padamu. Jujur saja aku kangen. Seperti biasa, seperti sebelum-sebelumnya aku merindukan saat dimana bisa berbgai cerita denganmu lewat sepucuk surat. Meski terasa asing sebab sudah lama tak begini. Kali ini aku akan sedikit bercerita tentang sesuatu yang dari dulu kita cari tahu: Kecantikan.

Sengaja aku menuliskan surat ini untukmu dengan caraku sendiri, barangkali kamu menganggap ini semacam surat yang nyinyir atau apalah, terserah saja, aku menuliskannya dengan sepenuh hati.

Aku kembali membuka salah satu kamar ingatan bersamamu, aku masih mengenang senyum puitismu, matamu yang menyipit saat kau tersenyum, suaramu yang selalu ngangenin dan tentu saja aku suka rambutmu, lebih tepatnya segala tentangmu aku suka.

Apakah kau masih ingat percakapan kita saat kelas berakhir di bawah pohon kersen depan kelas X A ? Mungkin kau ingat tapi mungkin tak seutuhnya. Bagiku percakapan kita waktu itu adalah kenangan, entah bagaiamana caranya mencipta ruang sendiri di hati ini—menjadi kenangan, sesekali aku menjenguknya.

Advertisement

“Fal, cantik itu apa sih?” tanyamu waktu itu, serius. Aku tarkejut dengan pertanyaanmu yang saat itu menurutku ‘aneh’, meski bukan kali ini saja kau bertanya semacam ini, tapi kali ini benar-benar terasa aneh.

Apakah pertanyaan ini yang membuatmu akhir-akhir ini berubah? Setiap pagi di sekolah aku melihatmu memeluk majalah bercover tentang kecantikan. Lalu anehnya, kau mulai merubah penampilanmu: kamu memakai lipstick, bajumu ketat, lalu tak biasanya kamu mulai memakai bedak. Aku mengherani dirimu, ada apa denganmu? Kenapa penampilanmu seperti ini? Adakah sesuatu yang tak ku ketahui telah merubahmu? Entahlah, yang jelas kata “cantik” lebih sering ku dengar dari bibirmu.

Angin berhembus perlahan, menggoyangkan dedaunan, “Aku tak bisa menjawabnya Ra, setiap kita punya kacamata sendiri dalam melihat kecantikan wanita,” jawabku, tak benar-benar yakin.

“Emangnya kenapa?” aku balik bertanya padamu.

Kau menghela nafas, lalu tersenyum, “gak kok, aku cuman nanya aja,” katamu.

“Ah masa sih, emangnya kenapa dengan cantik?” aku memburu jawaban darimu.

“Hmmm… apakah kecantikan semakna dan sebangun dengan wanita yang berkulit putih, hidung mancung, mata sipit, rambut lurus dan hitam, lalu tubuh, apakah harus langsing?” dari nadamu aku menangkap ada kekesalan di baliknya.

“Bagiku wanita itu cantik dengan sendirinya, sebagaimana adanya…” aku terdiam sejenak, lalu melirikmu,” seperti kaamuu” kataku dengan genit, kamu jadi tersenyum, “iiihhhh… kamu bisa aja,” kau mendorong bahuku dengan bahumu—bahu kita jadi bertemu, aku senang jadinya.

Mandira, apakah kau masih ingat percakapan kita waktu itu, sebagian atau seluruhnya, apakah kau masih ingat senyum kita bertemu, mungkin ingat tapi tak seluruhnya. Sekarang, aku jadi tersadar, kenapa kau dulu mempertanyakan tentang ‘cantik’ padaku, dan kini pertanyaanmu telah menjadi pertanyaanku juga.

Aku bertanya-tanya mengapa banyak wanita yang mau menghabiskan uangnya untuk membeli pemoles wajah demi mengejar kata ‘cantik’? Banyak wanita yang melukai dirinya sendiri demi katanya ‘langsing’? Lalu mempertontonkan auratnya demi kata ‘seksi’?.

Ya, ya, aku tahu bagi wanita tampil mengesankan itu penting, tapi apakah harus begitu? Tentu kita bisa mempersoalkan ini.

Diam-diam ternyata kita telah terjebak pada penjara persepsi yang dikonstruksi oleh TV dan iklan. Setiap hari mata kita dijejali artis-artis yang seksi, berkulit putih, berambut hitam, “mau cantik kayak kita, cantik putih lebih alami, pakai yang pas buat kamu,” katanya, lalu tersenyum manja—menggodamu untuk mencoba dan pada akhirnya membelinya.

Lalu sekarang, lihatlah di media massa atau media online, kita dipaksa menerima kejahatan yang secara halus telah mendeskreditkan bagi mereka yang rupanya dianggap tidak cantik: Ninih gadis cantik penjual getuk bikin heboh media sosial. Wanita cantik penjual nasi pecel hebohkan media sosial. Tukang tambal ban jelita gemparkan netizer.

Aku bertanya-tanya apa yang salah dengan gadis cantik yang menjual getuk sehingga orang-orang pada heboh, apa yang aneh wanita cantik penjual nasi pecel sampai-sampai hebohkan media sosial? Apakah karena mereka cantik hingga banyak yang menganggap mereka tak pantas berprofesi sebagai penjual getuk, penjual pecel lele atau tukang tambal ban. Atau karena mereka memliki paras cantik cocoknya jadi model. Jadi, yang cocok jadi penjual getuk, tambal ban, penjual pecel lele adalah mereka yang tak berparas cantik. Ah, sungguh kalau begitu kita telah melakukan kejahatan dengan melabelkan kepantasan seseorang: cantik dan tidak cantik.

Inilah mengapa aku menuliskan surat untukmu, mengapa kita begitu kejam dan dengan sengaja membuat jurang pemisah antara yang cantik dan tidak cantik. Lalu merendahkan mereka yang tak berparas cantik. Ah, jika saja kita tahu bagaimana rasanya dilabeli sebagai wanita yang tidak cantik.

Mandira, setiap wanita itu cantik sebagaimana dia ada. Cantik adalah sesuatu yang absurd, kita tidak akan pernah benar-benar bisa mendefenisikannya. Sebab cantik adalah pertanyaan sekaligus jawaban, cantik ya cantik, tak perlu itu dan ini.

Tapi, seperti kebanyakan orang apakah cantik itu memiliki kulit putih mulus, hidung mancung, mata sipit, badan langsing, rambut lurus, panjang dan hitam?

Tentu saja cantik tak selalu begitu. Seperti kataku dulu, setiap kita punya kaca mata sendiri dalam melihat kecantikan, cantik menurutmu belum tentu cantik menurut orang lain. Bagiku cantik tak hanya soal apa-apa yang terlihat, cantik adalah apa-apa yang tak terlihat oleh matamu, ia hanya bisa dirasakan dan dilihat dengan mata hati, kita menyebutnya innerbeauty—yang terpancar dari dalam seseorang. Tak tertolak!.

Tentang apa-apa yang tak terlihat, mungkin kau akan bertanya bagaimana cara merasakan dan mengetahuinya?

Sederhana: jika kau melihat seorang perempuan, sejenak tutuplah matamu. Rasakan. Disanalah kau akan tahu wanita itu cantik atau tak.

Terakhir, bagiku percuma saja wanita cantik di mata manusia, tapi buruk rupa di mata Tuhan. Maka baikkanlah dirimu, percantiklah dirimu di mata Tuhan, setelah itu percayalah padaku engkau akan cantik di hadapan manusia.

Demikianlah surat dariku, semoga aku bisa menebus hutangku padamu: tentang apa itu cantik. Paling tidak dengan begini kau akan kembali menjenguk ruang kenangan yang telah kita lalui bersama, dulu.

Salam,

Rifaldo

Hallo Mandira… Sudah lama rasanya kita tak bertegur sapa lagi, kali ini aku benar-benar pengin tahu kabar darimu—bukan sebuah formalitas sapa.

Apa kabarmu? Ah, rasanya sudah lama aku tak mangatakan ini padamu. Jujur saja aku kangen. Seperti biasa, seperti sebelum-sebelumnya aku merindukan saat dimana bisa berbgai cerita denganmu lewat sepucuk surat. Meski terasa asing sebab sudah lama tak begini. Kali ini aku akan sedikit bercerita tentang sesuatu yang dari dulu kita cari tahu: Kecantikan.

Sengaja aku menuliskan surat ini untukmu dengan caraku sendiri, barangkali kamu menganggap ini semacam surat yang nyinyir atau apalah, terserah saja, aku menuliskannya dengan sepenuh hati.

Aku kembali membuka salah satu kamar ingatan bersamamu, aku masih mengenang senyum puitismu, matamu yang menyipit saat kau tersenyum, suaramu yang selalu ngangenin dan tentu saja aku suka rambutmu, lebih tepatnya segala tentangmu aku suka.

Apakah kau masih ingat percakapan kita saat kelas berakhir di bawah pohon kersen depan kelas X A ? Mungkin kau ingat tapi mungkin tak seutuhnya. Bagiku percakapan kita waktu itu adalah kenangan, entah bagaiamana caranya mencipta ruang sendiri di hati ini—menjadi kenangan, sesekali aku menjenguknya.

“Fal, cantik itu apa sih?” tanyamu waktu itu, serius. Aku tarkejut dengan pertanyaanmu yang saat itu menurutku ‘aneh’, meski bukan kali ini saja kau bertanya semacam ini, tapi kali ini benar-benar terasa aneh.

Apakah pertanyaan ini yang membuatmu akhir-akhir ini berubah? Setiap pagi di sekolah aku melihatmu memeluk majalah bercover tentang kecantikan. Lalu anehnya, kau mulai merubah penampilanmu: kamu memakai lipstick, bajumu ketat, lalu tak biasanya kamu mulai memakai bedak. Aku mengherani dirimu, ada apa denganmu? Kenapa penampilanmu seperti ini? Adakah sesuatu yang tak ku ketahui telah merubahmu? Entahlah, yang jelas kata “cantik” lebih sering ku dengar dari bibirmu.

Angin berhembus perlahan, menggoyangkan dedaunan, “Aku tak bisa menjawabnya Ra, setiap kita punya kacamata sendiri dalam melihat kecantikan wanita,” jawabku, tak benar-benar yakin.

“Emangnya kenapa?” aku balik bertanya padamu.

Kau menghela nafas, lalu tersenyum, “gak kok, aku cuman nanya aja,” katamu.

“Ah masa sih, emangnya kenapa dengan cantik?” aku memburu jawaban darimu.

“Hmmm… apakah kecantikan semakna dan sebangun dengan wanita yang berkulit putih, hidung mancung, mata sipit, rambut lurus dan hitam, lalu tubuh, apakah harus langsing?” dari nadamu aku menangkap ada kekesalan di baliknya.

“Bagiku wanita itu cantik dengan sendirinya, sebagaimana adanya…” aku terdiam sejenak, lalu melirikmu,” seperti kaamuu” kataku dengan genit, kamu jadi tersenyum, “iiihhhh… kamu bisa aja,” kau mendorong bahuku dengan bahumu—bahu kita jadi bertemu, aku senang jadinya.

Mandira, apakah kau masih ingat percakapan kita waktu itu, sebagian atau seluruhnya, apakah kau masih ingat senyum kita bertemu, mungkin ingat tapi tak seluruhnya. Sekarang, aku jadi tersadar, kenapa kau dulu mempertanyakan tentang ‘cantik’ padaku, dan kini pertanyaanmu telah menjadi pertanyaanku juga.

Aku bertanya-tanya mengapa banyak wanita yang mau menghabiskan uangnya untuk membeli pemoles wajah demi mengejar kata ‘cantik’? Banyak wanita yang melukai dirinya sendiri demi katanya ‘langsing’? Lalu mempertontonkan auratnya demi kata ‘seksi’?.

Ya, ya, aku tahu bagi wanita tampil mengesankan itu penting, tapi apakah harus begitu? Tentu kita bisa mempersoalkan ini.

Diam-diam ternyata kita telah terjebak pada penjara persepsi yang dikonstruksi oleh TV dan iklan. Setiap hari mata kita dijejali artis-artis yang seksi, berkulit putih, berambut hitam, “mau cantik kayak kita, cantik putih lebih alami, pakai yang pas buat kamu,” katanya, lalu tersenyum manja—menggodamu untuk mencoba dan pada akhirnya membelinya.

Lalu sekarang, lihatlah di media massa atau media online, kita dipaksa menerima kejahatan yang secara halus telah mendeskreditkan bagi mereka yang rupanya dianggap tidak cantik: Ninih gadis cantik penjual getuk bikin heboh media sosial. Wanita cantik penjual nasi pecel hebohkan media sosial. Tukang tambal ban jelita gemparkan netizer.

Aku bertanya-tanya apa yang salah dengan gadis cantik yang menjual getuk sehingga orang-orang pada heboh, apa yang aneh wanita cantik penjual nasi pecel sampai-sampai hebohkan media sosial? Apakah karena mereka cantik hingga banyak yang menganggap mereka tak pantas berprofesi sebagai penjual getuk, penjual pecel lele atau tukang tambal ban. Atau karena mereka memliki paras cantik cocoknya jadi model. Jadi, yang cocok jadi penjual getuk, tambal ban, penjual pecel lele adalah mereka yang tak berparas cantik. Ah, sungguh kalau begitu kita telah melakukan kejahatan dengan melabelkan kepantasan seseorang: cantik dan tidak cantik.

Inilah mengapa aku menuliskan surat untukmu, mengapa kita begitu kejam dan dengan sengaja membuat jurang pemisah antara yang cantik dan tidak cantik. Lalu merendahkan mereka yang tak berparas cantik. Ah, jika saja kita tahu bagaimana rasanya dilabeli sebagai wanita yang tidak cantik.

Mandira, setiap wanita itu cantik sebagaimana dia ada. Cantik adalah sesuatu yang absurd, kita tidak akan pernah benar-benar bisa mendefenisikannya. Sebab cantik adalah pertanyaan sekaligus jawaban, cantik ya cantik, tak perlu itu dan ini.

Tapi, seperti kebanyakan orang apakah cantik itu memiliki kulit putih mulus, hidung mancung, mata sipit, badan langsing, rambut lurus, panjang dan hitam?

Tentu saja cantik tak selalu begitu. Seperti kataku dulu, setiap kita punya kaca mata sendiri dalam melihat kecantikan, cantik menurutmu belum tentu cantik menurut orang lain. Bagiku cantik tak hanya soal apa-apa yang terlihat, cantik adalah apa-apa yang tak terlihat oleh matamu, ia hanya bisa dirasakan dan dilihat dengan mata hati, kita menyebutnya innerbeauty—yang terpancar dari dalam seseorang. Tak tertolak!.

Tentang apa-apa yang tak terlihat, mungkin kau akan bertanya bagaimana cara merasakan dan mengetahuinya?

Sederhana: jika kau melihat seorang perempuan, sejenak tutuplah matamu. Rasakan. Disanalah kau akan tahu wanita itu cantik atau tak.

Terakhir, bagiku percuma saja wanita cantik di mata manusia, tapi buruk rupa di mata Tuhan. Maka baikkanlah dirimu, percantiklah dirimu di mata Tuhan, setelah itu percayalah padaku engkau akan cantik di hadapan manusia.

Demikianlah surat dariku, semoga aku bisa menebus hutangku padamu: tentang apa itu cantik. Paling tidak dengan begini kau akan kembali menjenguk ruang kenangan yang telah kita lalui bersama, dulu.

Salam,

Rifaldo