Pagi ini, masih sama. Secangkir kopi hitam dan kenangan kita, lebur dalam genangan pekat di kopiku. Rasanya akan lebih manis, bila kamu ada disampingku. Akan lebih damai rasanya bila percakapan-percakapan kita mengenai masa depan. Masa depan? Yang ada adalah ingatanku mengenai foto itu. Foto di display picture BBM mu.

Perempuan manis dan kerudungnya. Aku tidak marah perempuan itu ada di display picture BBM mu, sama halnya aku tidak marah kamu pergi. Aku bahkan berpikir kamu memang harus pergi. Sebab denganku, kebahagiaanmu mungkin terlalu sederhana. Kurasa aku terlalu kecil untuk mimpimu yang besar. Kurasa juga tugasku sudah cukup, menemani perjuanganmu untuk sampai pada kesuksesanmu saat ini.

Seruput kopi dulu. Mengenai dia yang tersenyum manis di display picture BBM mu. Dia perempuan yang patutnya bersyukur mendapatkanmu dengan mudah. Dia mestinya perempuan yang kuat dan setia. Dia harus mampu tersenyum dan bersabar meskipun dicela buruk oleh keluargamu. Dia harus terus tabah dan tabah itu tidak mudah. Dia harus ada apa-apanya untuk selalu di anggap dan tidak diremehkan oleh orang-orangmu. Untuk yang ini, aku tak cukup memenuhinya. Sebab beginilah aku.

Tak pandai mencari muka, tak pandai menilai buruk orang lain. Aku tidak peka ketika ada yang tak suka denganku dan aku tidak ada apa-apa selain rasa sayangku dan hanya ingin membuatmu tersenyum. Seruput kopi lagi Dikepalaku. Aku hanya ingin menyampaikan beberapa hal kepada perempuan manis itu. Pertama, ketahuilah hei perempuan manis, dia menghapus kontak BBM-ku hanya untuk meletakkan foto manismu itu.

Entah untuk alasan apa. Jelasnya dia Pria yang telah mengingkari janjinya hanya untuk kamu yang kutebak mengenali dia ketika masih denganku. Kedua, kamu tahu? Pria yang sedang kaucintai dan mengaku mencintaimu itu dulunya juga pernah berjanji untuk mencintaiku selamanya. Ketiga, untuk berada begitu di dekatmu, pria itu telah melukaiku begitu banyak. Tentu saja ini hal yang hanya terlintas dikepalaku. Aku tak pernah punya cukup keberanian untuk sampai kepada perempuan itu hanya untuk mencercanya dengan hal yang terlalu menyedihkan ini. Aku juga tidak sekanak-kanak itu.

Advertisement

Seruput kopi lagi. Hal yang paling ku ingat adalah kamu memilih pergi tanpa ada penjelasan yang jelas. Ketika kamu memilih pergi, hati ini menyangkalnya dengan ini sementara. Aku rumahmu dan kamu akan pulang, pikirku. Hanya saja, kamu sepertinya tak ingin pulang. Kamu telah menemukan rumah barumu. Mengenai alasan kamu tinggalkan aku; semoga ibumu bahagia sebab kamu mempunyai rumah baru. Semoga kamu bahagia.

Seruput kopi terakhir, menyisakan ampas. Pagi ini terasa dingin. Gerimis labuh dengan ringan. Kamu dikepalaku melebur bersama pekatnya genangan kopi di seruput terakhirku. Ku harap hatimu selalu hangat, agar harimu tetap berjalan baik dan kamu tak perlu mengecewakan siapapun yang menjadi alasanmu memilih untuk pergi dariku.