Mas…Layaknya hujan di gurun pasir kamu datang. Sejuknya yang ku nantikan. Menawarkan lega dari dahaga yang mendera. Mantap dan yakin nya kamu, membuat risauku hilang, aku serahkan kamu ke Allah, Maha Penggenggam hati. Lalu tiba saat dimana Allah menjawab doaku untuk kita. Ketika kamu, jadi kalian. Bukan lagi kita.

Ketika kamu yang begitu jujur Tiba tiba jadi penuh tanda tanya Ah, mungkin aku yang berlebihan, mungkin aku yang berpenyakit hati itu katamu bukan. Aku masih percaya, karena sejak aku mengenalmu memang kamu pria baik. Rasanya tak mungkin jika. Yah walau kamu sejak saat berbeda itu tak lagi ada untukku walau hanya sekedar menyapa atau apalah seperti BIASANYA.

Katamu ini caramu agar semuanya baik, tapi apa kamu pernah berfikir bahwa aku merasa diperlakukan TAK SEPERTI BIASANYA. Aneh Mas… Aneh. Sungguh aneh semua ini tak.menggambarkan bahwa ini langkah agar semuanya baik. Baik untuk kalian. Aku? Mas aku masih ingat kata pertamamu dulu yang begitu mantapnya, aku yang sering menanyakan hal ini kepadamu. Dan kamu mantap selalu bilang tidak.

Tapi ternyata… Mas…aku tak mungkin diam saja. Aku selalu mengadu pada Allah, dan semakin hari semakin merasa ditunjukan apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian. Maaf Mas bila memang benar aku berpenyakit hati, maaf. Tapi Mohon jangan biarkan aku untuk mencap buruk kamu. Seperti kamu, akupun tak ingin cari musuh. Jelaskanlah sejelas jelasnya, aku tak mengapa. Tolong, jangan jadikan aku orang paling bodoh diantara kalian. 😊