Saya kehilangan suara-suara dalam kepala, suara-suara yang selalu mengendalikan jemari menarikan kata-kata. Lagi pula saya bukan tipe terbuka yang dengan gamblang meneriakan sesak dalam dada. Mungkin kamu juga sama. Karena menurut saya pribadi, ketika harapan yang kamu bina sudah binasa, itu hanya pertanda bahwa kamu sedang menuju level atas. Bagaimana pun sakitnya, tetap Allah tahu yang menurutnya paling baik bukan?

Sekarang, saat saya kembali berkarya menafsirkan suara-suara dalam kepala. Dalam hati tetap berharap bahwa luka ini cukup sampai disini saja.

Tidak saya pungkiri, perasaan menjadi inspirasi saya untuk menulis. Bahkan ketika jatuh cinta, perasaan yang mengaliri nadi menjadi energi besar untuk berkarya. Selain dalam karya, saya juga suka memujanya dalam doa. Yah, mendoakan adalah Bukti cinta yang sesungguhnya.

Kata orang, tulisan semakin bermakna ketika hati terluka. Itu memang benar adanya. Tapi menurut saya, tulisan adalah isi hati yang sesungguhnya. Daripada mengotori hati dengan menyalahkan keadaan, lebih baik menjadikannya sebuah pelajaran. Begitulah cara mencintai yang berkualitas.

Mungkin sebagian dari kalian akan berasumsi bahwa ini sebuah pelampiasan kegalauan. Dan ya, itu tidak bisa disalahkan juga. Tapi semua orang punya cara sendiri dalam memaknai patah hati dan saya hanya sedang menuliskan kesedihan dengan cara menertawakannya. Sudah bukan jamannya menangisi kesedihan yang sama sekali tidak ingin ditangisi. Tertawakan dia sesekali dan berbahagialah.

Advertisement

Dengan mengalirkannya dalam tulisan dapat menjadi penguat bagi hati, juga pengingat diri sendiri dan berbagi bagaimana bangkit dari rasa sakitnya.

Ya, saya tahu bahwa berteori saja tidak akan menghasilkan apa-apa. Tapi tidak harus selamanya kamu berdiam tanpa berbuat apa-apa. Sedangkan kamu tahu bahwa patah hati adalah cara Allah menamparmu yang sedang tersesat dalam rimba dusta.

Setelah kehilangan kesekiaannya, semakin membuat saya paham, bahwa jika perasaan kita benar adanya maka cinta tidak akan memberi luka?

Dan bahwa sebenarnya jatuh cinta dan rindu amat bisa dikelola. Hanya saja kamu dan saya tahu sendiri bahwa ketika bunga-bunga cinta merekah, hati begitu mudah terpedaya dan dengan sesuka hati mengontrol logikamu untuk terus jalan ke arah yang berbeda dari arah yang Tuhanmu gariskan.

Kini setelah perasaan luka tersebut kamu seolah dihadapkan pada kenyataan untuk melepaskan. Satu hal yang kamu perlu garis bawahi, Kamu tidak perlu memaksa hati untuk melupakan karena sejatinya hati tidak tahu caranya, dia hanya bisa merasakan bukan menghapuskan. Ketika kamu paham betul bahwa hanya Allahlah pengendali bagi hati dan hanya keikhlasan yang walaupun prosesnya sulit tapi harus tetap dilakukan, akan membuatmu kembali ke arah yang benar.

Lantas, bagaimana cara bangkit dari patah hati? Adalah dengan Mengingat Allah dan berprasangka baik padanya. Dan Apakah patah hati sembuh begitu saja? Tidak semudah itu. Bahkan ketika kenangan bersamanya berputar-putar seperti layar di kepalamu, dan ketika hati merindukan sosoknya, itulah puncak kesakitan yang membuat hati terus diuji dan diuji. Jatuh berkali-kali. Bangkit lagi. Jatuh lagi. Sampai diri benar-benar ikhlas. Ikhlas dengan apapun ketentuan yang diberikan Allah.

Ya, saya tidak mudah ikhlas pada sesuatu yang terlanjur mengakar dalam dada. Tapi hatimu tidak seharusnya terus-terusan mengalami kesakitan yang sama. Tidak mudah memang, itulah kenapa ketika setiap satu tunas rindu bermunculan, saya membunuhnya dengan menyebut nama-Nya.

Atau cobalah sejenak berdiam tanpa bersuara, dan rasakan bahwa nikmat Tuhanmu yang begitu besar itu. Sebagai contoh, bukankah pohon hanya kehilangan satu daun bukan ribuan, dan daun yang telah gugur bukankah akan selalu diganti dengan daun yang lebih subur.

Nikmat Tuhanmu lagi adalah Dia menempatkanmu pada sumber kebahagiaan, sebagai bukti bahwa cinta-nya nyata. Dan tidak pernah memberimu luka.

Dan pada kamu, saya selalu mendoakan bahagia yang sama. Terima kasih atas segala sakit yang pernah singgah dan Atas setiap rindu yang pernah bertahta. Semoga Allah segera mempertemukan kita dengan kisah yang selamanya indah.

Wasalam