Dulu sekitar tahun 80-90an dan awal tahun 2000 kita masih dapat menjumpai siaran yang memang ditujukan bagi anak. Kak Seto masih sering kita lihat di layar televisi membawa acara anak yang menurut saya pribadi mengedukasi dan menginspirasi banyak anak-anak. Kita juga masih dapat mendengar lagu anak-anak. Saya masih ingat pada jam tertentu saya sudah mempersiapkan diri untuk menonton siaran yang saya tunggu-tunggu.

Kini di era Reformasi dimana kita tidak dikekang oleh pemerintah malah tidak dapat memandirikan diri. Dimana lagi kita dapat melihat siaran anak di stasiun televisi. Apakah di era Reformasi sekarang ini pemerintah harus memaksa stasiun televisi untuk memberikan bebera jam bagi tayangan yang memang dikhususkan untuk anak?

Apakah karena tidak ada yang memaksa sehingga stasiun televisi tak sudi memberi ruang bagi siarang yang ditujukan untuk anak? Mungkin saja mereka menganggap siaran bagi anak-anak tak menghasilkan keuntungan besar bagi mereka dibandingkan dengan siaran lainnya.

Pada tahun 2004-2007 saya melihat ada gejala yang sangat mengerikan. Sebagian stasiun televisi menayangkan sinetron yang bertema cinta anak sekolahan (SMA/SMP). Gejala ini secara tidak langsung berdampak kepada kehidupan nyata pelajar Indonesia. Saya ambil contoh dari apa yang saya alami.

Teman-teman sebaya saya pada saat itu (SD-SMP) tidak jarang sudah pacaran. Saya memperhatikan hal itu sudah dianggap tidak tabu lagi karena mereka melihat tayangan televisi yang menampilkan kisah cinta siswa/siswi.

Advertisement

Sekarang kita sudah dapat merasakan dampak negatif yang berawal dari siaran yang tidak mengedukasi, menginspirasi anak-anak Indonesia. Tidak jarang kita mendengar bahwa anak SD atau SMP sudah ciuman bibir atau bahkan berhubungan seksual. Hal itu memang bukan disebabkan hanya satu faktor saja.

Tetapi kita juga tidak dapat memungkiri bahwa siaran televisi pada saat ini tidak memberi tempat bagi anak-anak yang bersifat mengedukasi dan menginspirasi.

Maka dari itu apakah kita masih menganggap isu ini tidaklah penting? Apakah kita masih akan tetap berdiam dengan kenyataan ini? Selamatkan anak Indonesia, berarti menyelamatkan masa depan Indonesia.