Beberapa minggu belakangan, media sosial ramai dihebohkan dengan yang namanya nikah muda, mulai dari nikah umur 19 tahun, 17 tahun , bahkan ada yang sekitar 14 tahun. Bukan main, hal itu menjadi viral di media sosial. Akun-akun dakwah pun mulai menyurukan yang namanya nikah mudah dengan slogan khas, “tinggalkan atau halalkan”, hebat bukan, bahkan jomblo yang kekinian pun juga ikut kesindiran. Memang sih nikah muda bukan hal yang dilarang, namun bukan berarti diwajibkan, karena beberapa hal ini juga patut dipertimbangkan, bahwa :

Pernikahan bukan lah sebuah ajang balapan, tapi tergantung pada kesiapan.

Slogan tinggalkan atau halalkan,seakan menjadi hal yang sangat menyesakkan bagi sebgaian kalangan, karena dengan hal itu tak ayal beberapa orang memutuskan hubungan pacaran karena ingin segera minta halalkan dan hal itu telah saya buktikan. Kalau memang memutuskan hubungan pacaran karena takut dosa, hal itu memang luar biasa. Tapi kalo hanya untuk menganggap nikah muda sebagai sarana kekinian dan ajang balapan, mungkin hal ini tak bisa dibenarkan, karena namanya pernikaahan selalu butuh yang namanya kemapanan, dan kemapananan itu dibangun diatas persiapan .

Karena nikah itu perlu persiapan, namun bukan berarti memerlukan yang namanya kesempurnaan.

Dari point di atas, mungkin banyak yang akan berkata bahwa “ jika nunggu siap, kapan siapnya?" , memang dalam hal apapun kita tak akan pernah menemukan kesempurnaan, termasuk juga dalam hal kesiapan, kesiapan yang saya maksud di atas, bukanlah sesuatu hal yang harus disempurnakan, namun juga harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. Siap di sini pun bukan berarti harus punya segalanya, namun sudah cukup mampu untuk membina yang namanya rumah tangga.

Advertisement

Karena nikah itu juga bukan saja tentang keberanian, namun juga memerlukan pertimbangan .

Berani, mungkin kata itu yang sering diselipkan dalam masalah pernikahan, pernikahan itu memang memerlukan yang namanya keberanian. Karena dengan pernikahan, akan banyak hal yang tak biasa kita lakukan dan adaptasi akan hal itu mutlak diperlukan. Namun sejatinya jika kita ingin menimbang lebih dalam lagi tentang arti dari keberanian maka pertimbangan dalam melakukannya pun juga wajib dilakukan. So, berani dalam mengambil kepetusan menikah memang hal tak gampang, karena dibalik itu semua juga diperlukan namanya pertimbangan.

Karena nikah itu sebuah hal yang diperlukan, namun tidak berarti harus disegrakan.

Menikah atau hidup berpasangan sebagai manusia menjadi unsur penting dalam rantai kehidupan, karena dengannya manusia akan terus berkembang dan memiliki keturunan. Disamping itu pula menikah pun juga merupakan sebuah kebutuhan sebagai sarana untuk pemenuhan syahwat yang dibolehkan. Namun jika memang hal itu diperlukan bahkan diwajibkan , tak berarti pula harus disegrakan hanya karena beberapa hal yang tak semestinya dijadikan sebuah alasan, karena pernikahan juga perlu yang namanya kesiapan dan pendewasaan.

Karena nikah itu sebuah jalan menjaga kelangsungan kehidupan, melihat aspek yang namanya kesehatan juga perlu di lakukan.

Nikah muda dalam pandangan beberapa agama memang sangat dianjurkan , karena dengan hal itu akan melindungi seseorang dari yang namanya perzinahan. Namun disamping itu menjaga nyawa dari yang namanya kematian juga menjadi hal vital dalam konsep keagaamaan, maka menikah dengan mempertimbangkan kesiapan fisik dan mental merupakan hal yang mutlak untuk dipikirkan.

Jadi guys, memang menikah muda terlihat sangat menyenangakan, namun hal itu tidak mesti berlaku pada semua orang. karena setiap orang itu berbeda maka tak semuanya harus menikah muda. Dan yang saya sebutkan diatas juga berupa opini maka mengiyakan ataupun tidak menyetujuinya pun merupakan hak asasi bagi diri sendri.