Gue belum menikah dan mungkin gak tau gimana seluk beluk pernikahan dan lika-likunya. Tapi itu semua bukan berarti membuat gue enggak layak buat menulis hal-hal soal pernikahan. Jujur gue heran dengan pasangan yang dengan mudahnya memutuskan bercerai hanya karena alasan klasik “tidak cocok”. Buat gue ketidakcocokan itu sebuah keniscayaan dalam setiap hubungan. Setiap pasangan yang harmonis pun pasti ada perbedaan yang bikin mereka gak nyambung. Tapi apakah mereka dengan mudahnya memutuskan berpisah? Nope. Mereka berusaha mencari jalan tengah yang sama-sama baik buat kedua belah pihak. Dan kalo perbedaannya gak signifikan, mereka gak akan membesar-besarkan perbedaan itu dan lebih fokus pada hal-hal positif yang menguatkan hubungan dibanding berkeluh kesah.

Bicara soal tidak cocok, bukannya memang setiap individu berbeda? Anak kembar identik pun punya karakternya masing-masing, bahkan kadang karakternya bertolak belakang. Apalagi pasangan yang jelas-jelas punya latar belakang berbeda, berasal dari keluarga yang berbeda, dan gen yang berbeda pastinya bakalan ada perbedaan yang bikin tidak cocok. Namun apakah cuma karena ngerasa gak cocok lalu dengan entengnya berpisah? Kedua orangtua gue juga punya perbedaan karakter yang cukup mencolok. Papa orang yang kalem, anteng, dan phlegmatis. Sementara mama berada di kutub yang berlawanan, suka bicara, cerewet, dan aktif. Toh karakter yang berbeda itu gak terlalu berpengaruh pada pernikahan mereka yang udah 30 tahun lebih. Ada kalanya mama komplain sama sikap papa yang terlalu anteng, but most of the times, she’s okay with that. And that what makes their marriage glued for many many times.

Bisa jadi masalah ketidakcocokan yang serius di dalam pernikahan itu sebenarnya bukan muncul tiba-tiba, namun sudah bisa teraba diawal hubungan, tapi kebanyakan pasangan mengabaikan gejala itu dengan alasan “kalo udah menikah mungkin semuanya akan berubah”. Teori lain, pasangan yang baru menikah masih terbawa euphoria bulan madu. Mereka cenderung bodo amat dengan perbedaan diantara mereka dan sesudah masa-masa bulan madu itu lewat… DANG…. Kenyataan yang selama ini tertutupi mulai terkuak sedikit demi sedikit. Kalo pasangan yang menyadari bahwa pernikahan itu perlu kerja keras, mungkin akan mencari cara untuk berdamai dengan ketidakcocokan. Tapi pasangan yang punya fantasi bahwa pernikahan itu selalu indah dan romantis, lalu dibenturkan dengan kenyataan yang jauh berbeda dari angan-angan mereka akan memilih jalan yang paling mudah, berpisah.

Jika perbedaan itu sudah terasa di awal hubungan namun kita memilih mengabaikannya, jangan sakit hati kalo kenyataan yang ditemui akan jauh berbeda dengan ekpestasi. Pasangan yang memang dari sononya keras kepala tidak akan berubah hanya karena ia sudah menikah. Yang dari dulu sudah doyan selingkuh tidak akan jadi setia hanya karena ia sudah terikat dalam pernikahan kecuali ia dapat sentilan dari Tuhan. Dari awal menjalin hubungan seharusnya kita sudah bisa memperkirakan sikap pasangan seperti apa yang tidak bisa kita tolerir. Setelah menikah, tidak ada gunanya meributkan ketidak cocokan yang sebenarnya sudah terlihat jelas di awal.

Gue sadar mungkin tulisan ini terlalu sok tau bagi seseorang yang belum pernah menjalani pernikahan, haven’t been there dan tau pasti kenyataan tidak sesederhana apa yang tertulis disini. Tapi setidaknya ini bisa jadi “food for thought” bagi yang ngebaca ini terutama anak muda yang kebanyakan mengkonsumsi drama romantis (been there, done that). Bagi yang belum menikah atau mungkin baru menjalani bahtera pernikahan, pernikahan itu ibarat menanam bunga. Gak ada bunga yang langsung mekar dengan indahnya kecuali bunga plastik. Semuanya perlu proses yang panjang dan perawatan yang tekun. Menyemai bibit, disiram dengan rutin, memberi pupuk, membuang daun-daun yang layu biar pertumbuhannya gak terganggu, ditaroh ditempat yang dapat cukup sinar matahari,dll sampai mekar dan tumbuh subur. Itu semua bukan hal yang gampang. Begitu juga dengan pernikahan, kalo kita gak sabar sama hasilnya, mungkin kita bakalan bodo amat, gak lagi dirawat dan dibiarkan berada diatas tanah yang kering dan gersang tanpa kehidupan.