Jika dipikir-pikir lagi, tidakkah persahabatan itu sama seperti pantai? Ya, ada pasang dan ada surutnya. Sequence yang terjadi dalam pertemanan juga mengalami pergantian siklusnya. Kala sedang sulit, maka surutlah pantai. Tidak ada teman yang datang waktu kita sedang penuh dengan masalah dan dilema. Polemik kita hanya milik kita, tak ada yang datang untuk minta dibagi masalah itu. Saat Hinazuki Kayo tengah kesulitan, Fujinuma Satoru datang untuk menyelamatkannya—membantunya keluar dari masalahnya. Teman yang baik. Jarang ada yang memiliki keberanian untuk meminta masalah agar bisa membantu masalah temannya. Surutnya pantai pertemanan kita terjadi karena kita tak sedang berisi kebahagiaan. Teman-teman—yang tak memiliki ke-ikhlas-an menjauhi kita dengan berbagai alasan karena mereka tak bisa menemukan keuntungan waktu kita tengah surut dengan profit.

Sementara itu, ketika kita tengah pasang akan kenikmatan—banyak profit—maka pasang pulalah para ombak-ombak bernyanyi yang ingin ikut menikmati kebahagiaan kita. Layaknya remora yang memgutip sisa-sisa daging ikan yang dimakan hiu atau camar-camar tolol yang hanya tahu mencuri di perahu nelayan. Teman sacam itu ada banyak di dunia ini, mungkin juga mayoritas—tapi aku tak akan mengiyakannya, karena ucapan ialah doa. Yang jelas, pasang surutnya keriuhan pantai—hidup kita—tergantung benar dengan pasang dan surutnya rezeki kita. Teman tak akan membantu jika sedang susah, bersembunyi di balik palung, takut untuk mendekat karena tahu akan disusahkan. Namun ketika sedang penuh, maka mereka pun mulai berdatangan; bertanya kabar; mengajak bercanda; basa-basi; lalu pinjam uang atau minta ditraktir. Sungguh konyol dan tidak tahu malu…. Apa ada yang seperti ini? Apa ada di antara kalian yang punya teman-teman semacam ini? Jika ada, maka kalian masuk dalam golongan pantai penuh sampah. Pantai tak beruntung yang dikotori dengan banyak limbah. Jika sudah begitu, maka rusaklah ekosistemnya. Hidup kita tak akan pernah mudah, karena selalu saja sendiri kala susah. Nasib yang begitu miris….

Pandai-pandailah memilih teman. Teman yang baik tak akan pernah surut dari bibir pantai. Ia akan senantiasa ada, mendampingi kita selama yang ia mampu, membantu kita sebaik yang ia bisa, dan terus menceriakan kita sebanyak yang ia ingin. Teman yang baik akan tetap ada, biarpun tak dibutuhkan, biarpun tak membutuhkan. Mereka merupakan genderang semangat alamiah, ibarat ombak yang selalu menggulung menyiarkan kemeriahan di tepian pantai. Begitulah seharusnya persahabatan. Bukan hanya tahu kapan pasang dan kapan surut saja. Semoga bermanfaat 🙂