"Pertemanan cowok itu penuh makian tapi jujur. Pertemanan cewek itu penuh pujian tapi palsu."

Awal saya membaca pernyataan tersebut, saya merasa pernyataan ini ditulis oleh seseorang yang punya dendam kesumat pada perempuan. Sepertinya sang pelontar pernyataan adalah lelaki yang pernah di-"semua cowok sama aja"-kan oleh perempuan. Makanya sampai dia membuat pernyataan yang mengklasifikasikan ketulusan dalam persahabatan seperti itu.

Perempuan. Makhluk yang kata lelaki tak mudah untuk ditaklukan. Tak banyak dari mereka, para lelaki, yang menyerah mendapatkan kalian, perempuan, dan menghujat kalian di belakang dengan berbagai fitnahan. Di antara kalian ada yang diperkosa oleh para lelaki yang derajatnya tak lebih tinggi dari binatang, tetap saja kalian dihujat dengan pernyataan bahwa perkosaan itu terjadi karena kesalahan kalian. Saat kalian berusaha menyeleksi siapa saja yang ingin kalian jadikan sahabat, kalian dianggap tidak tulus dalam berteman dengan sesama kalian. Padahal, katanya, kalian saling memberikan pujian kepada satu sama lain.

Benarkah perempuan? Benarkah hati kalian sepalsu itu?

Wahai lelaki yang memandang peremuan saling benci kepada perempuan lain, kamu terlalu berlebihan dalam menilai, menganggap bahwa para perempuan yang bersahabat dengan penuh pujian itu palsu. Lihatlah mereka, saling membantu untuk kemaslahatan kaumnya. R.A. Kartini maupun Raden Dewi Sartika, apakah mereka hanya sendirian dalam memperjuangkan hak-hak perempuan? Tidak. Pasti ada perempuan-perempuan lain yang berada di belakang mereka yang menjadi prajurit yang siap mempertaruhkan apapun untuk kemaslahatan kaum mereka. Apakah kekuatan yang mampu menyatukan mereka? Ya, persahabatan. Persahabatan yang didasari rasa tulus memperjuangkan satu sama lain. Memotivasi untuk menjadi maju seperti halnya para lelaki.

Advertisement

"Memang tidak semua persahabatan perempuan itu palsu, tapi kebanyakan!"

Sekarang saat kamu wahai lelaki, berkata bahwa pujian yang diberikan perempuan kepada sesamanya palsu, seberapa banyak perempuan yang kamu observasi? Lalu padamu yang berkata "Memang tidak semua, tapi kebanyakan", kebanyakan dari berapa? Sekompleks perumahan tempat tinggalmu? Kalau boleh aku menjustifkasi, pikiranmu juga seperti kompleks tempat tinggalmu. SEMPIT. Perempuan saling memuji karena mereka memang mengagumi satu sama lain. Banyak juga di antara mereka yang masih merasa rendah diri dengan penampilan mereka yang padahal anggun dan rupawan, sehingga pujian dari sesama mereka menjadi penyemangat untuk tak terus-menerus menundukkan kepala malu.

Perempuan mungkin memang tak sefrontal lelaki. Mereka memilih untuk berbicara dari hati ke hati untuk meminimalisir emosi negatif. Tak jarang mereka mempunyai masalah dengan sesamanya dan mereka luapkan kekesalan mereka satu sama lain dengan menangis. Namun setelah menangis, mereka saling memaafkan dan kembali bersahabat seperti sedia kala.

Ah, perempuan… Kalian dianggap tidak bisa menjaga satu sama lain karena kalian ragu untuk memanggil satu sama lain dengan "makian". Banyak yang tidak paham kalau perempuan berlaku demikian karena sejatinya sisi emosional mereka mendominasi dan mereka merasa tak enak hati. Namun, apabila mereka sedang bersama dengan sahabat perempuan mereka yang dekatnya seperti saudara sendiri, mereka tak ragu untuk memanggil dengan panggilan "Nyet", "Cuk", "Ndul", "Ndes", "Tho", dan lain sebagainya. Pantaskah? Tidak. Tapi nyatanya mereka juga melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan dalam persahabatan lelaki.

"Cewek emang gitu sih. Makanya sekarang aku lebih seneng temenan sama cowok." – seorang perempuan

Oh, perempuan… Ternyata masih ada sesama kalian yang menilai bahwa persahabatan kalian yang penuh pujian namun palsu itu benar adanya. Mereka yang mengiyakan adalah para perempuan yang sedang bermasalah dengan perempuan lain yang dulu diakuinya sebagai sahabat. Saran saja untuk para perempuan yang masih berpikir demikian… Kalau memang masih ada rasa ingin bersahabat, selesaikanlah permasalahan layaknya seorang sahabat. Berpikirlah secara dewasa kalau kalian merasa bukan anak-anak lagi. Sehebat apapun pertengkaran kalian, akan selalu ada jalan untuk meredakannya.

Bagi lelaki atau perempuan yang masih ragu akan persahabatan perempuan, saya jadi penasaran… apakah kalian sudah berubah pikiran sekarang? Untuk kamu, lelaki masih ragu, saya jadi bertanya-tanya… Apakah nantinya kamu akan menikah dengan perempuan? Karena sudah pasti perempuan pendampingmu nanti adalah sahabatmu, yang mengerti akan kamu dan setia bertahan dalam naik turunnya kehidupanmu. Untuk kamu, perempuan yang masih ragu, asaya jadi bertanya-tanya… Apakah nantinya kamu akan tahan dengan stigma negatif tentang kaummu, yang sudah pasti berdampak pada dirimu sendiri? Karena mau bagaimana pun tulusnya dirimu, kamu tetap dianggap memiliki hati yang palsu.

Jadi saya tanyakan lagi, apakah kalian sudah berubah pikiran sekarang? Apakah "Persahabatan Perempuan Penuh Pujian Tapi Palsu" itu masih benar adanya?