Seperti cahaya mentari. Bersinar. Hangat.

Seperti itulah persahabatan kami dulu. Dulu, kami saling berbagi cerita dari yang penting sampai yang sangat tidak penting. Kebanyakan masalah cowok. Kami juga selalu membuat ponsel masing-masing 'hidup' karena chat-chat tidak penting, hingga larut malam.

Saat itu kami berdua sama-sama masih jomblo. Dia belum punya, saya pun belum.

Tapi, lama-lama persahabatan kami berubah sejak dia punya pacar. Bukan saja karena dia menjadi berbeda, tetapi saya pun jadi enggan dekat-dekat dengannya lagi.

Langkah kaki yang dulu sinkron, kini justru tidak lagi sama. Prinsip kami mendadak berbeda. Dihabiskannya sepanjang waktu dengan pacar hingga dengan berani saya bisa berkata dia bukan lagi sahabat saya, bahkan dia menjauhi kami (saya dan teman-teman yang lain).

Advertisement

Tiga tahun berlalu. Persahabatan kami sudah benar-benar terbenam dan hanya memori usang yang tersisa. Ketika kami berpapasan, sebisa mungkin kami tidak saling menyapa. Saya pernah menyapanya, tetapi tanggapannya terkesan terpaksa. Dingin. Seolah kami tidak pernah menjadi sahabat.

Begitupun sahabat saya yang satunya. Setelah menemukan orang baru yang lebih menyenangkan, dia menjauhi saya meski saya tidak melakukan apa-apa, meski saya yang selalu berkorban.

Saya jadi berpikir, apakah yang namanya persahabatan sejati itu begitu susah dicarinya?

Setiap saya menemukan seorang sahabat, akan terjadi siklus yang sama. Menjadi konyol bersama, berbagi cerita, salah satu mendapat kekasih, saya ditinggalkan, orang asing. Arus yang terjadi di sekitar kami menyeret setiap orang yang menjadi sahabat saya sehingga saya mulai trauma menggunakan frasa "sahabat sejati" untuk setiap orang yang dekat dengan saya.

Apakah karena memiliki pacar, sahabat bukan lagi apa-apa? Apakah sahabat ini cuma berguna di saat mereka galau karena pujaan hati menggantung mereka? Ketika sang pujaan hati didapat, sahabat ini dibuang. Lama-lama saya jadi muak sendiri.

Dulu, diakuinya kalau saya sahabat nomor satunya. Saya sahabat yang tak terlupakan.

Tapi lihat kenyataannya. Saya hanya tertawa hambar.

Sahabat satunya bertingkah konyol kepada saya dan menganggap saya sahabat yang menyenangkan dan baik. Kami berbagi cerita dan cita-cita, tetapi begitu dia menemukan kumpulan sahabat baru yang seru, dia langsung meninggalkan saya yang clueless dan tidak paham kenapa ini terjadi.

Saya sudah instropeksi dan saya menerimanya, tetapi tetap saja dongkol itu masih membekas.

Jika memang begini akhirnya, tak usahlah gunakan kata "sahabat" kepada saya. Gunakan saja "teman dekat". Saya memang bukan orang yang terkenal, yang keren, cantik, modern, hangat. Saya ini dingin, kadang clueless dan kadang membosankan. Tetapi, setidaknya saya "pernah" jadi sahabat mereka. Kenapa, di saat saya sudah berusaha mengajarkan yang baik kepada mereka, mencoba mendengarkan mereka, mereka malah meninggalkan saya seperti "habis manis sepah dibuang" ?

Saya hanya ingin berbagi dan mengingatkan.

Perlakukan sahabat kamu dengan baik. Bisa jadi mereka adalah orang yang sudah menganggapmu sebagai saudara/i sendiri. Jangan lupakan mereka meski kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan karena bagaimanapun mereka mendengarkan keluhan kamu ketika masa-masa pencarian dahulu.

Penggunaan kata "sahabat" dan frasa "sahabat sejati" sangatlah membutuhkan tanggung jawab. Jangan gunakan keduanya kalau memang tidak mampu menjaga persahabatan itu sendiri.

Salam!