Terinspirasi dari seorang bapak yang sedang menggendong bayinya di bawah sinar mentari. Seperti yang kita tahu, bayi baru lahir dijemur agar tercegah dari penyakit kuning atau biasa dikenal dengan bayi kuning. Sambil tersenyum lebar memandangi makhluk mungil yang kini mengisi hari-harinya. Entah apa yang ada di pikirannya saat itu, muka sang bapak sumringah, tampak kepuasan tak terungkap dari raut wajahnya.

Mencoba mencari tahu apa yang dipikirkan makhluk Mars tentang pernikahan. Beberapa beranggapan tujuan pernikahan adalah untuk menghasilkan keturunan (anak). Apakah cukup sampai di sana? Lalu cinta terhadap pasangannya (istri) akan memudar?

Bagaimana sebenarnya makhluk Mars mengartikan pernikahan? Berikut ini beberapa pandangan mereka mengenai pernikahan.

Lelaki pertama menjawab berbahagia menikah setelah memiliki anak. Jawaban singkat tetapi lumayan membuat saya berpikir keras. Banyak pertanyaan yang bersarang di kepala saya saat itu. Salah satunya tentang status barunya sebagai seorang suami, apakah belum cukup membuatnya bahagia? Di saat laki-laki lain di luar sana harus berjuang untuk mengubah status menjadi seorang suami. Dengan kendala sederhana, seperti belum dipertemukan dengan gadis pujaan.

Lelaki kedua berpendapat pernikahan itu suatu yang kompleks, bukan sekedar soal komitmen dan tanggung jawab, cinta tetap harus tumbuh seiring berjalannya waktu, karena pernikahan berlangsung seumur hidup. Banyak hal yang harus dipersiapkan, bukan hanya kesiapan lahir dan batin, mental sebagai orang tua yang akan mendidik anak pun harus dipersiapkan matang-matang.

Lelaki ketiga berpendapat bahwa pernikahan itu rumit. Harus siap dengan segala kondisi, bahkan ketika kebebasannya tidak lagi sama seperti saat sebelum menikah. Dan setelah menikah bukan lagi memikirkan soal cinta, ini tentang tanggung jawab pria untuk mencukupi segala kebutuhan keluarga kecilnya.

Lelaki keempat berkata, pernikahan itu untuk meminimalisasi kekhilafan dan bebas melakukan apa saja bersama pasangan dengan halal. Pernikahan sebenarnya sederhana, menemukan pasangan yang pas, mendapat restu dari kedua belah pihak keluarga. Kita saja yang terkadang membuat pernikahan menjadi rumit.

Pada akhirnya pernikahan adalah komitmen bersama untuk saling mencintai tanpa tanggal kadaluarsa.

Ya, lelaki punya pandangan masing-masing soal pernikahan. Tetapi saya lebih sependapat dengan pendapat lelaki kedua. Sebagai seorang wanita, keinginan terbesar saya adalah cinta sang pria tak memudar, sekalipun nantinya ada makhluk baru yang akan mengalihkan cintanya, saya harap cinta akan terus bertambah dan sesuai dengan porsinya masing-masing.

Mengamati pernikahan yang kandas di tengah jalan dengan alasan tidak lagi menemui kecocokan terdengar begitu klise. Menentukan cocok atau tidak cocok adalah tahap awal sebelum melangkah ke jenjang selanjutnya. Parahnya, menjadikan anak sebagai alasan untuk tetap bertahan. Perlahan menghalalkan hadirnya orang ketiga.

Kegagalan suatu pernikahan, apakah bisa menyalahkan satu pihak? Jelas tidak. Jika pernikahan berlandaskan atas dua anak manusia yang sama-sama punya cinta, kemungkinan gagal dalam pernikahan akan semakin kecil. Sekalipun dilanda prahara kehidupan, cinta akan jadi tembok pelindung. Sehingga tidak ada lagi istilah perselingkuhan, tidak ada lagi kata perpisahan, tidak ada lagi kalimat anak menyelamatkan rumah tangga, tidak ada lagi yang tidak-tidak.