Ketika mengingat kembali suasana dulu, aku merasa ada sesuatu yang hilang dari pertungguanku. Sebab, aku merasa gagal. Ketakutan yang terus mengintai dalam kehidupan keluarga, membuatku harus memilih.

Betapa tidak? Ketika ibuku menangis dalam doa di setiap malam dan dalam kondisi sakit, mengingikanku untuk mengakhiri masa kesendirian dan menerima lamaran dari kekasihku sekarang.

Betapa berat, dengan hati yang mengganjal. Hati yang masih terpaut dengan hati lain, Sehingga hati kami sama sama berlubang hingga terlalu dalam.

Mencintai bukan tanpa alasan, tetapi, dia memang beda. Perkataan dan perbuatannya membuatku yakin menunggu. Menunggu dengan ketidak pastian. Awal kami bertemupun tidak terlalu lama hanya beberapa bulan saat itu.

Hidup memang sulit, ketika cinta telah masuk ke dalam dua manusia. Memang akan sulit memilih.

Advertisement

Ketika kami bertemu ada rasa yang dulu tertanam dan sekarang tumbuh subur, menatap matanya, sungguh, membuat hatiku tertegun, ada kenyamanan di sana.

Aku mendadak tersenyum. Dia berhasil membuatku berdegup cepat saat menatap matanya.

Dua bulan kami bertemu kembali setelah tujuh tahun berpisah, di benak ini hanya ingin melepas rindu saja, bercerita kehidupan, mengenang nostalgia dahulu, bercanda dan mengungkapkan rasa yang dulu tertunda. Kecocokan sudah begitu nyaman merayap di tubuh kami. Dan kali ini dia begitu serius menatapku.

Dia berkata “Saya tahu ini salah. Kamu punya kekasih dan aku sudah ada yang memiliki, ini adalah takdir, pertemuan kita bukan tanpa alasan terjadi, saya yakin kita memang diperuntukan untuk bersama.”

“Iya aku pun berpikir begitu.“ Jawabku

Kemudian dia berkata “Tiada yang salah dalam hal ini, hanya pertemuan kita sangat manis. Kamu begitu sangat sederhana menjawabnya. Aku yakin hatimu menangis, sama seperti aku.”

Perlahan bibirnya berubah bentuk. Dia melontarkan senyuman yang sama denganku. Aku tak paham dengan senyuman itu, tetapi pertemuan kami hanya sampai di sini.

Tujuh tahun menunggu. Aku sudah tak kuat lagi. Terlalu banyak air mata yang jatuh karena aku.

Sebenarnya Tuhan mempertemukan aku dengannya bukan untuk saling mencinta, tetapi untuk memahami.

Perasaan ini memang tidak aku temukan pada kekasihku sekarang, dia memang berbeda, mungkin aku bisa bahagia dari hidupku sekarang ini.

Aku harus mengambil pilihan yang berat hari ini, memang ini belum berakhir. Tapi kondisi yang memaksa.

Semoga Tuhan mengerti dan berperan dengan kondisi saat ini. (bersambung..)