Pagi ini aku dibangunkan oleh mimpiku, mimpi yang aku sendiri tidak bisa mengingatnya.Terasa seperti cahaya yang melesat cepat melewati batas ingatanku. Ini berlalu begitu saja, yang aku ingat hanya ada kau didalamnya, ya di dalam mimpiku. Dan mimpi itu membuatku kembali mengenangmu

Dahulu tidak ada yang perlu aku khawatirkan, meski pun waktu yang datang menghampiri seakan mengejekku. Karna senyuman itu tak sekedar membekas di ingatan tapi ia juga menggenggam erat seluruh hatiku . 

Senja pun iri kepadaku, karna aku tak lagi peduli dengan mereka yang berpasangan dan berlalu lalang di pandangan, padahal bayangmu itu hanyalah sebuah harapan bagiku. Bisa saja aku berhenti sejenak dan melupakanmu, lagi pula kita tidak pernah dekat bahkan kita tidak saling berbicara. Tapi aku tidak pernah bisa, bagiku bayanganmu selalu memenuhi ruang di hatiku hingga tidak bisa ku bendung lagi. 

Aku selalu berharap  jarak dan waktu memberi sedikit kesempatan untuk kita saling menyapa. Tapi jika itu terlalu serakah , aku harap waktu tetap mengizinkanku sekedar menatapnya dari jauh .

Sudah cukup lama aku menghentikan langkahku. Diam dan terpaku sejak pertama aku melihatmu. Kau duduk manis dengan sebuah buku di tanganmu, aku tak tahu pasti apa yang sedang kau baca. Berkali-kali aku melewatimu tapi kau sama sekali tidak melihatku, kau begitu serius dan fokus pada sebuah buku. Sejak saat itulah aku tidak lagi bisa beranjak pergi dari sekitarmu. Kau memberikanku sebuah rasa penasaran yang sangat berbeda , ketika tiba-tiba kau melihatku dan tersenyum dengan ramah .

Advertisement

Meski hampir setiap hari kita bertemu, ini semakin menyiksa ketika sangat sulit untukku memulainya . Dan aku pun harus menerima bahwa waktu berlalu begitu cepat, bertahun-tahun kita berada dalam diam dan kini kenyataannya kita tidak lagi berada di kota yang sama .

Kau pun memutuskan kembali ke kota asalmu karna alasan tertentu, setidaknya itulah yang aku dengar terakhir kali walau bukan dari mulutmu sendiri . belum sempat aku menyampaikan apa pun kepadamu . Mungkin ini adalah pesan konyol yang hanya mampu aku sampaikan melalui sebuah cerita untukmu, memerlukan waktu bertahun-tahun untuk bisa berhenti memikirkanmu.

Bahkan cerita ini tidak pernah memberikan sebuah kepastian. Tapi bisa-bisanya kau hadir dalam mimpiku. apakah ini sebuah tanda kerinduan darimu atau hanya kerinduanku yang sudah terlalu lama aku pendam. Kupejamkan mata dan mencoba mengingat apa yang telah aku lewatkan. Dan yang aku lewatkan adalah dirimu, sama sekali tak pernah aku coba mencarimu atau sekedar menanyai kabarmu jadi bukan salahmu ketika kau ku anggap mengabaikanku


" Kudapati selembar kertas kosong terakhir yang kumiliki. Ada beberapa sobekan di sisinya. Aku rasa terlalu lancang memberi ini padamu. Tapi tetap ku beranikan diri menuliskan sebuah nama dan maksudku di atasnya 

Seperti hati yang sudah sejak lama kosong, namun ia dikelilingi oleh bayang di masalalu. Lelah menanti saatnya tiba, sedangkan separuh hatiku sudah lama terbawa oleh waktu

Kukubur dalam suratku ini. Berharap ia terkubur jauh bersama perasaan yang tak tersampaikan. Dan memiliki kesempatan menlanjutkan kehidupan