Dalam salah satu pidatonya Soekarno mengatakan, “Janganlah ada satu orang manusia mengira bahwa department store adalah satu proyek luxe, tidak! Menurut anggapan saya, department store adalah satu alat distribusi untuk mendistribusikan barang-barang keperluan hidup kepada rakyat jelata!”

Indonesia Agustus 1959.
Di hampir semua sudut negeri, terlihat barisan panjang ibu-ibu yang mengantri untuk mendapatkan kebutuhan pokok. Sementara itu di sudut-sudut yang lain nampak barisan panjang anak-anak yang membawa jerigen untuk mendapatkan minyak.

Ekonomi Indonesia runtuh. Daya beli melemah. Taraf hidup masyarakat merosot sampai level terendah. Dan masih harus ditambah lagi dengan sanering. Dari keadaan inilah muncul gagasan untuk mendirikan Toko Serba Ada terbesar.

Dalam gagasan tersebut, “Pemimpin Besar Revolusi”, menyisipkan filosofi dari bukunya yang berjudul ”Sarinah”, berisi gambaran perempuan yang ideal. Perempuan Indonesia.

Mbok Sarinah adalah pengasuh Soekarno di masa kecilnya, dalam pengantar bukunya Ia menuliskan, “Dari Mbok Sarinah, saya mendapat pelajaran mencintai “orang kecil”. Ia orang kecil. Tapi jiwanya selalu besar.”

Advertisement

Atas dasar ketulusan cinta seorang perempuan Indonesia, Mega Proyek, Department Store pertama Indonesia didirikan. Berlantai 14 plus 1 lantai basement, lengkap dengan fasilitas tercanggih pertama di zamannya. Termasuk perangkat komputer transistor generasi pertama dan dilengkapi dengan eskalator yang masih berfungsi hingga saat ini.

Tiang pancang pertama pun dilesakkan pada tanggal 23 April 1963. Satu demi satu kaki-kaki Sarinah menjejak sejarah Indonesia bahkan mungkin dunia. Karena tidak satupun Department Store di dunia yang berdiri berdasarkan filosofi cinta ‘orang kecil’.

Satu-satunya Department Store di dunia yang tujuan pendiriannya sebagai stabilisator harga. Satu-satunya Department Store di dunia yang dibangun untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur dimana rakyat jelata mendapatkan haknya untuk mengecap dan mendapatkan kehidupan materiil yang layak.

Dan untuk melengkapi citra pelayanan dan pengabdiannya, Soekarno merencanakan peresmiannya pada hari Ibu. Hal tersebut memang sedikit dipaksakan mengingat pada hari peresmiannya Sarinah baru selesai 90%. Tetapi hal tersebut tidak menyurutkan citra Sarinah yang berwatak perempuan sesuai dengan gagasan awalnya.

50 tahun adalah perjalanan yang telah dilalui oleh Sarinah. Peringatan hari ini bukan hanya untuk mengenang masa lalu. Tetapi untuk menghormati mereka yang telah menjadi bagian dari masa lalu, dan yang akan bersama Sarinah untuk melanjutkan perjalanannya.

50 tahun Sarinah bukan perjalanan yang mudah. Tidak sedikit badai yang harus dilaluinya. Termasuk badai Politik. Namun setelah pergantian kepemimpinan pada masa itu, Sarinah mulai realistis dan bergerak mengembangkan usahanya.

Segala macam bisnis diterjuni. Mulai dari bisnis hiburan sampai membuka sasana tinju. Membuka perdagangan wholesale, membuka toko serba ada, memperbesar volume ekspor dan impor, membuka restoran, bowling center, klab malam, kasino, hingga melakukan penjualan barang secara door-to-door.

Kegiatan bisnis yang dilakukan tersebut membuat Sarinah menggeliat dan kembali terlihat keberadaannya. Sayap ritelnya dilebarkan ke Semarang, Surabaya dan Malang. Bahkan Sarinah pusat pernah mendapatkan ijin dari Kepolisian Negara untuk membuka toko senjata api pertama di Indonesia.

Lompatan besar yang menjadi cikal bakal ciri khas Sarinah sampai hari ini adalah diresmikannya Sari Boutique pada tahun 1969. Tempat inilah yang menampung dan menjual barang-barang kerajinan dari industri rakyat seperti kain batik, ukiran, sampai kerajinan perak. Usaha kerajinan ini mendapat perhatian besar dan dijadikan andalan sampai Sarinah meresmikannya sebagai Pasar Kerajinan Indonesia.

Sampai di sini nilai-nilai yang digagaskan Soekarno belum luntur. Sarinah masih tetap memihak ’orang kecil’ dengan cara yang berbeda. Sarinah belum kehilangan ke-Indonesiaannya.

Perlahan namun pasti Sarinah kembali berdiri untuk memulai langkah barunya dengan berkonsentrasi menjual berbagai produk kerajinan tangan. Pada masa itu pula kontrak kerja bisnis perhotelan dengan Tokyu Gynsa Hotel ditandatangani. Kemudian berdirilah Hotel Sari Pasific, yang kini bernama Sari Pan Pasific.

Namun lesatan Sarinah tidak semulus yang diperkirakan. Badai api memantik pada 18 Juli 1980 yang menghanguskan lantai 2. Puncaknya pada tanggal 13 dan 14 November 1984. lantai 6 sampai 14 hangus terbakar. Musibah kebakaran membuat Sarinah mengalami kerugian hingga 2,96 miliar rupiah. Sarinah goyah, terpukul, tapi tidak jatuh.

Sarinah kembali berbenah. Peremajaan dan renovasi menjadi program utamanya. Seluruh biaya peremajaan tersebut diambil dari kas Sarinah dan tidak meminta bantuan pemerintah atau pinjaman dari bank. Wajah Sarinah kembali terlihat cantik, terlebih setelah manajemen berhasil menggaet Hard Rock Cafe dan McDonald’s.

Tuntutan yang semakin berat dan ketatnya persaingan department store di Indonesia memang membuat Sarinah harus berbenah menjadi semakin professional. Tetapi Sarinah tetap percaya diri sebagai pionir Department Store di Indonesia.

Sarinah tidak silau dengan kelap-kelip kemewahan kota besar. Sarinah tidak berada dalam arus besar dunia kapital. Sarinah punya arus sendiri, arus kecil yang mungkin saja di masa depan akan menjadi arus utama. Hal tersebut dibuktikan Sarinah dengan memperhatikan pengrajin ekonomi kecil, hingga ditandatanganinya sebuah perjanjian kerjasama antara Sarinah, ASEI dan Risjad Salim International Bank untuk pembinaan perajin atau koperasi perajin. Hasilnya, dari dulu sampai sekarang kalau ada turis yang bertanya tentang batik selalu dirujuk ke Sarinah. Kalau ada tamu-tamu pemerintah dari mancanegara juga selalu dirujuk ke Sarinah.

Sarinah yang tidak mau kehilangan filosofi Mbok Sarinah, sejak September 2010 menyelenggarakan even Batik on Friday. Sarinah juga mengembangkan program Corporate Social Responsibility (CSR) seperti “100% Cinta Produk Indonesia”. Bahkan kini Sarinah menjadi pelopor ecobatik di Indonesia. Batik yang pembuatannya menggunakan bahan-bahan alami sehingga kain yang dihasilkan sangat ramah lingkungan.

Tidak itu saja. Gagasan perkembangan Sarinah di masa datang direncanakan dengan rencana pembangunan Boutique Hotel di jalan Braga, Bandung. Pengembangan sektor ekspor-impor juga ditingkatkan. Termasuk ekspor singkong ke Cina pada tahun 2011.

United States Small Business Association mengatakan, sebagian besar bisnis tutup sebelum tahun kelima. Dan sebuah bisnis yang bisa bertahan hingga tahun ke 50 adalah sebuah keberhasilan.

Sarinah tidak ingin merayakan sebuah euphoria keberhasilan. Sarinah memang telah mengalami pahitnya sejarah. Dicaci dan dicibir ketika masih berwujud gagasan, diguncang politik dan ekonomi, nyatany hari ini kami masih tetap “ada”. Sarinah merayakan usianya yang ke 50.

Pengalaman pahit adalah keniscayaan dalam hidup, Pengalaman pahit mustahil dihindari. Para Founding Father, Sukarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka menerima Pengalaman pahit, mengunyah dan mencecap rasa pahitnya selama puluhan tahun. Belum pernah terdengar kabar sebuah tujuan mulia yang dapat diraih tanpa kesediaan untuk mencecap pengalaman pahit.

Dibandingkan dengan Galleries Lafayette di Paris, yang berdiri sejak 1893, Harrods di London yang dibangun mulai tahun 1894 atau Macy's di New York yang menjadi Department Store sejak 1929, Sarinah memang terbilang masih muda.

Namun tidak mustahil bagi Sarinah untuk bisa menjadi seperti mereka karena beberapa modal sejarah telah dimilikinya. Di Indonesia, tidak ada Departemen Store yang lebih tua dari Sarinah.

Tentu saja, Sarinah tidak bisa melakukannya sendirian. Sarinah memang masih bersinar, tetapi Sarinah juga masih sangat membutuhkan dukungan sinar lainnya yang lebih kuat untuk terus maju dan berkembang. Sinar itu adalah matahari-matahari yang bersinar lebih kuat dari Sarinah. Dan hadirin sekalian yang hadir di acara ini bisa dan mampu menjadi matahari pendukung perjalanan kami.

Jiwa besar ”Mbok Sarinah” adalah tali yang tak boleh putus direntangkan. Cinta kasih dan juga kesederhanaannya merupakan bekal bagi kita semua dan juga generasi berikutnya untuk membuat Sarinah tetap ada dan bukan hanya dikenang sebagai sebuah cerita masa lalu.

Sarinah adalah perjalanan yang tak mengenal kata akhir, Sarinah akan selalu melangkah dengan langkah yang terus dilekang pijakkan pada masa hidupnya. Sarinah adalah sebuah perjalanan. Bersama Anda, Sarinah akan menjadi lebih dari sejarah!

Terima kasih.