Pulanglah karena rumah yang dulu kini tak lagi sama, pulanglah..

Ketika rasa yang dulu pernah ada kini sudah hampir tak tersisa. Rasa yang dulu nyata kini hanya berakhir tanya dan meninggalkan lara. Mungkin kamu telah pulang dirumah yang salah, meskipun ada bahagia dan duka yang dulu pernah terasa. Tapi percuma, jikalau memang rumah yang dulu adalah tempat yang tepat untuk kamu pulang, kamu tak akan pernah berniat untuk meninggalkannya

Pulanglah, kamu tak akan pernah betah untuk tinggal di rumahmu yang dulu hingga kamu kini memilih pergi dan tak tau kapan kamu akan kembali lagi atau memang tak akan pernah kembali lagi. Pergimu bukan berniat untuk kembali ke rumah, pergimu bukan hanya sesaat tapi kamu memilih untuk pergi tanpa enggan untuk kembali lagi. Berkali-kali kamu ingin mencoba untuk pergi tapi berkali-kali pula aku memintamu pulang kembali kerumah ini. Berkali-kali pula kamu sukses untuk pergi tapi berkali-kali pula aku menerima dan membukakan pintu rumah kembali untukmu ketika tak ada lagi rumah tempatmu untuk singgah.

Tapi apa? Aku yang membuka kembali rumah untukmu dengan berjuta harap kamu akan belajar dari kesalahan dan tak pernah ingin pergi lagi Ternyata aku salah, seseorang yang sebelumnya telah pergi tak akan pernah kembali dengan membawa perasaan yang utuh, perasaan yang tak akan sama lagi. Harusnya aku sadari itu sedari dulu saat pertama kali kamu memutuskan untuk pergi. Pergimu itu menyakitkan, sayang.. Tapi kembalimu lagi yang kesekian kali itu terasa lebih menyakitkan. Percuma jika kembalimu hanya ingin melukai dan merusak rumahmu. Kembalimu hanya bisa membuatku berharap cemas dan menerka apa yang akan kamu lakukan, apa kamu akan pulang ke rumah dengan kemanisan atau justru hanya kepahitan yang harus aku telan.

Aku lelah, lelah jika harus memperbaiki rumah ini sendirian, rumah yang perlahan kamu rusak dengan sengaja atau tak sengaja sekalipun tapi itu tetap terasa sakit Aku berusaha menjaga rumah ini agar tetap utuh dan tetap membuka pintu lebar untuk kepulanganmu kembali. Tapi, sepertinya usahaku sia-sia, kamu lagi dan lagi berulah. Kini pulanglah, kamu hanya butuh rumah yang tepat agar kamu bisa nyaman tinggal didalamnya tanpa pernah berniat merusak nya, tidak seperti rumah yang dulu. Rumah yang hanya membuatmu nyaman sesaat, maafkan aku jika rumah ini tak bisa aku tata dengan baik di setiap ruangnya hingga kamu tak betah tinggal didalamnya. Tapi setidaknya aku pernah berusaha memperbaiki rumah ini bukan? Selebihnya hakmu lah untuk memilih tetap tinggal atau pergi.

Advertisement

Kini pulanglah, ku harap kamu dapat pulang dengan tepat meski dalam rumah ini masih ada jejakmu disetiap ruangnya. Tidak, aku tak akan menghapus semua jejakmu, tapi aku akan menata kembali jejakmu dengan baik dan ku simpan rapat-rapat agar jejakmu itu tak lagi melukai ku dan jika kamu berkunjung ke rumahku lagi kamu tak lupa, kamu pernah menjadikan rumah ini tempatmu pulang.

Pulanglah, setidaknya aku sudah pernah mendapat kepastian.