Dua hari yang lalu, pancaran sinar matahari siang tak lagi menyengat, sebab langit telah diselimuti awan pekat yang padat, mengalahkan garangnya cahaya siang, sebentar lagi sepertinya akan turun hujan. Bukan tanpa sebab, akhir-akhir ini udara Kota Padang sering di datangi hujan.

Benar saja, tak lama setelah itu awan-awan jenuh tadi memecah diri, lalu membentuk bulir-bulir kecil yang jatuh membasahi bumi. Cukup deras, membuat beberapa pengguna jalan menepi untuk berteduh di sebuah rumah, ada juga yang di masjid. Ibu-ibu dengan cekatan mengangkat jemuran. Anak-anak mengurung diri di rumah karena di larang ayahnya untuk keluar.

Tak jauh terlihat seorang remaja perempuan mengintip hujan dari layar jendelanya, ia tersenyum, barangkali membayangkan sesuatu yang membahagiakan di saat hujan, ada kenangan di balik layar kaca matanya.

Ah, hujan, kau selalu menyimpan banyak cerita: kebahagiaan dan kesedihan. Udaramu mengundang kembali rangkaian peristiwa yang tak terlupakan — kenangan.

Sementara di balik sebuah rumah sederhana, enam orang mahasiswa sudah menyiapkan diri meluncur menuju Alahan Panjang, tempat pos utama untuk mendaki Gunung Talang, Sumbar.

Advertisement

“Gimana nih bro, lanjut atau kita tunggu reda dulu?” Tanya Hafiz pada teman-temanya.

“Udah lanjut ajalah, lama kalau kita nunggu-nunggu hujan reda, entar enggak bakalan nyampe kita jadinya,” jawab Vero bersemangat, lalu menyampirkan tas di punggunnya, bayang-bayang keindahan puncak Gunung Talang terpancar dari matanya.

Vero mengarahkan matanya menuju temannya yang lain, seperti tahu apa maksudnya, mereka mengangkat bahunya, sebagai pertanda terserah saja. Bayang-bayang ketinggian Puncak Talang sepertinya telah menguasai diri mereka, bagai kekuatan yang entah bagaimana caranya menjalar kuat dalam hati mereka, tak terpatahkan.

Tak pakai ancang-ancang, mereka langsung menaiki sepeda motor, dan cussss… Berjalan di antara hujan, melesat membelah hujan. Hujan ditembusnya, angin ditantangnya, petir sesekali menggelagar tak sekalipun mampu menggertak niatan mereka untuk melanjutkan perjalanan.

Setelah melewati hujan dua jam lamanya, akhirnya mereka sampai di Aia Batumbuk, Alahan Panjang, tempat pos utama memasuki Gunung Talang, tempat awal mula perjalanan menapaki Gunung Talang.

***

Jam yang melingkar di tangan telah mengabarkan pukul 17.45 wib, sudah petang rupanya. Hujan nampaknya masih malu-malu untuk berhenti, ia sisakan rintik-rintik untuk sekedar hinggap di ujung dedaunan. Disisi lain, awan tebal masih menyelimuti langit, meredupkan kilauan senja di ujung bukit.

“Oke, semuanya udah siap ya, sebelum kita berangkat ada baiknya kita berdoa menurut kepercayaan kita masing-masing”, pinta Vero pada teman-temannnya setelah siap-siap. Mereka membentuk semacam lingkaran, lalu menunduk, merapal doa apa saja, agar semuanya baik-baik saja.

Dengan memulai menyebut nama Tuhan, mereka lalu berjalan menghitung langkah menuju puncak. Mereka tak tau pasti seperti apa perjalanan yang akan mereka tempuh, setelah hujan lebat memabasahi tanah, sepertinya tak akan mudah, sebab mereka mendapati kabar dari orang-orang yang turun pulang kalau jalan telah berubah menjadi lumpur, “Susah jalannya, mending kalian pulang aja,” kata salah seorang pendaki yang turun, “Nih liat kami,” dia menunjukkan tampilan bajunya yang dilumuri lumpur, jalan sepertinya telah berubah menjadi semacam kubangan.

Sementara keluasan hijaunya daun teh membentang memanjakan mata yang sesekali menunduk sebab diterjuni rintik hujan, disisi lain sayup-sayup lantunan ayat suci Al-quran terdengar meliuk-liuk di lengkungan telinga—mengabarkan sebentar lagi maghrib.

“Ntar kita stop disana ya,” Debi menunjuk sebuah tempat yang tak jauh dari tempat mereka berjalan, “Kita shalat maghrib di sana aja”. Roney mengangkat dua jempolnya sambil tersenyum, “Oke bro.”

Azan maghrib telah berkumandang, melolong indah melalui pengeras suara masjid, mencerahkan langit dengan cahaya lain—kedamaian. Seorang nenek berjalan pelan-pelan menuju masjid, seorang bapak memegang tangan anaknya untuk segera menjawab panggilan Tuhannya, remaja masjid segera menyebrang pintu rumahnya dengan peci yang melekat di kepalanya, sebagian muslim rehat sejenak dari kesibukan duniawi kemudian memilih untuk menghadap Tuhan.

Akhirnya mereka berhenti di tempat yang di sepakati: tak ada rumah atau tempat berteduh, hanya sebuah ‘lantai’ yang berasalkan rerumputan basah, “kita shalat di sini aja, tayamun ajalah ya, soalnya gak ada air buat wudhu,” kata Vero, lalu mereka bersegera bertayaumun dan membentang sajadah untuk shalat Maghrib, sementara rintik-rintik hujan masih bertahan dengan kadar yang sama.

Selepas mengahadap Tuhan, mereka berisitirahat melepas penat yang mulai melilit tungkai kaki mereka. Debi terlihat mengeluarkan pebekalan di dalam tasnya, di sampingnya Roni sedang memasang sepatunya. Vero lalu mengambil sepotong roti di depannya, “jadi, lanjut atau kita berangkat besok aja, kayaknya hujan bakalan awet deh, jalan juga udah susah kita lewatin,” Vero nampaknya mulai khawatir.

Keragu-raguan perlahan menyeruak dalam hatinya, jalan yang tak layak lagi disebut sebagai jalan di tambah lagi ada sebagian dari mereka yang memakai sandal, pencahayaan yang seadanya, sebab malam telah menyergap: cukup menjadi alasan yang kuat untuk mundur saja.

“Udah lanjut aja, udah jauh-jauh masa kita balik lagi, kan gak kreeenn. Kita pelan-pelan aja, pasti sampai juga kok,” Hafiz menyemangati teman-temannya.

Setelah bermusyawarah, akhirnya mereka bersepakat untuk tetap lanjut menapaki Gunung Talang — apapun yang akan terjadi nantinya. Lalu mereka kembali menegakkan tungakai kakinya, kembali menegakkan dadanya, menyamprikan tas ransel di punggungnya dan bergerak maju menuju puncak.

Di perjalanan, mereka berusaha mengahadirkan indahnya Puncak Talang: bayang-bayang hamparan kehijaun yang membentang, memandangi awan putih yang bergelombang, senyum matahari pagi yang muncul dibalik gunung, menatap burung yang terbang bebas, lalu berdiri gagah di titik tertinggi sambil tersenyum bahagia bagai mantra yang menguatkan mereka.

***

Lima meter, sepuluh meter, tiga puluh meter, seratus meter perjalanan sudah mereka lalui, dan baik-baik saja, jalan yang berlumpur masih bisa mereka lewati walau dengan susah payah.

Jauh, semakin jauh perjalanan yang mereka lalui, ternyata semakin berat medan yang mereka injaki, lumpur yang dalam membuat kaki mereka sesekali terapancang dan susah untuk di angkat, memutus tali sandal Vero, memaksanya berjalan tanpa alas kaki di tengah bebatuan dan licinnya jalan.

Sementara hujan tak kunjung henti dari tadi siang, sesekali dia jatuh deras kemudian berganti menjadi rintik, begitu terus untuk beberapa waktu. Sedang jalan semakin licin, sesekali membuat mereka terjerambap, terjatuh, kaki yang terinjak batu-batu.

Tapi tak apa-apa, disanalah sebenarnya sebuah tantangan menapaki perjalan menuju puncak, seperti kapan saja, semua tak akan pernah mudah, keberanian dan semangatah yang menjadikanya mudah.

Lima jam lamanya mereka menaiki Gunung Talang, jatuh-bangun tak menciutkan nyalinya untuk mundur, terjerambat tak menyurutkan langkahnya, luka di kakinya tak membuat mereka untuk berhenti, mereka terus berjuang hingga pada akhirnya bulan mengintipnya di ujung atas sana, pertanda mereka telah sampai di tempat peristirahatan, lalu mendirikan tenda, dan beristirahat untuk melepas lelah yang tak terkatakan lagi.

***

Para pendaki mulai keluar dari dalam tendanya, kemudian bergerak mendaki puncak Talang yang tak jauh dari tempat pendirian tenda di saat matahari pagi perlahan mulai muncul menebar senyumannya dengan cahaya ketinggian gunung yang mengesankan, perlahan merambat menelusuri pori-pori, menghangatkan kulit yang membeku.

Hafiz, Vero, Debi, Roniy, Riyan, dan Andi tak mau ketinggalan momen, mereka juga menjejakkan kakinya mendaki dengan dada yang berdegup.

Setelah berjalan selama lima belas menit, akhirnya mereka sampai di titik tertinggi Gunung Talang. Mereka lalu menyapu pandangan disekitarnya, sedangkan Vero, dia memisahkan diri dari temannya, memilih menyendiri menuju sebuah batu yang menyendiri, di atas batu yang yang tinggi itu, ia berdiri tegap dan gagah seperti seorang petualang tangguh.

Lalu ia mulai ritual ketinggian: ia hirup dalam-dalam tipisnya oksigen di ketinggian, ia biarkan matahari menjamah kulitnya, ia edarkan matanya menyapu bersih awan gelombang awan putih—hamparan kehijauan yang membentang, bukit-bukit yang berbaris, burung-burung terbang bebas, dan ah, ini yang istemwa tiga danau tersaji di depan matanya, begitu indah. Di sana ia rayakan kemenangannya dengan tersenyum puas.

Lagi, dia masih tetap berdiri di atas batu itu, kali ini vero mengepalkan tangannya ke atas, dia biarkan semilir gunung menerpa wajahnya dan sesekali menyingkap helai rambutnya, dia hela nafas panjang, lalu dipejamkan matanya, “puncak”, katanya dalam hati, dia masih ingat betul apa yang di katakan Fahd Pahdepie dalam bukunya berjudul perjalanan rasa, “tak hanya soal ketinggian.

Ia adalah sebuah titik di mana kita bisa berdiri dengan perasaan tenang, bebas, dan bahagia. Puncak itu tentang sebuah titik yang membuat kita bisa melihat segala hal dari dimensi yang lebih tinggu secara lebih luas, lebih dewasa dan lebih bijaksana.”

Setelah itu ia tertawa tanpa suara, setelah berjuang hingga bisa menjejakkan kainya di puncak, dia jadi tersadar: ternyata puncak bukan hanya ketinggian, kebebasa, dan kebahagiaan, tapi puncak adalah sebuah titik ketika kita bisa berada diatas katakutan-katakutan, titik tertinggi yang membuat kita bisa melampui batas kemampuan kita, melenyapkan kekhawatiran, lalu tidak pernah menyerah.

“Puncak adalah titik tertinggi yang melampui batas kemampuan kita,” kembali hatinya berkata.

Setelah itu, vero menarik nafasnya dalam-dalam, lalu berteriak sekencang-kencangnya mengeluarkan gelombang ketakutan, keragu-raguan, kekhawatiran yang sempat bernafas dalam dirinya. Sekali lagi, ia berteriak, kali ini teriakan kebebasan—kebahagiaan yang menjelma kepak-kepak sayap melesat menembus angin melintasi keluasan cakrawala.

***

Hari itu mereka menjadi pemenang bagi dirinya sendiri, mengalahkan rasa takut, melenyapkan kekhawtiran, menyingkirkan hal-hal yang membuat mereka untuk tidak melanjutkan perjuangannya, mereka buktikan keragu-raguanya dengan tak mundur dalam melangkah. Hari itu mereka telah menemukan puncak kehidupan mereka sendiri.

Maka, seperti kapan saja, dakilah puncak kebahagiaan kita masing-masing, temukan puncak keberkahan, jalankan langkah-langkah kerahmatan. Setidaknya untuk hari ini, lenyapkan segala ketakutan-katakutan dan kegelesihan. Setidaknya untuk hari ini, kita bisa berdiri bebas dengan bahagia, tentu saja dengan tidak melupakan sujud kita untuk Tuhan sebab di sanalah puncak yang sesungguhnya: ketakwaan pada Tuhan.

Rumah Kata, 06-06-2015