Entahlah tiba tiba aku hanya ingin kembali kembali ke masa dimana tidak diperlukan banyak interpretasi komunikasi hanya sebatas simbol dan angka kembali ke masa dimana pe-labelan sebagai pengampu individualis masih tersematkan.

Ya, hanya sebatas pe-labelan tidak ada yang tau sistem kekeluargaan yangg berjalan di dalamnya. Dimana aku tak pernah merasa sendirian memikul beban bahkan aku tak pernah tahu berapa massa sebenarnya beban itu. Masa dimana selalu terselip canda tawa di tengah kerumitan topik yg menjadi makanan kita sehari-hari kala itu.

Berangkat petang, pulang petang seakan telah menjadi sebuah rotasi satu untuk semua dan semua untuk satu seakan telah menjadi harga mati. Pengabaian matahari sering kita lakukan hanya untuk memenuhi deadline, dinding bukan menjadi suatu hal yang perlu ketika kita dihadapkan dengan sebuah tuntutan yang harus dituntaskan.

Satu hal yang selalu aku rindu Kebersamaan kita dalam mengukir catatan Indah di buku-Nya Hal yg tidak aku temui dan mungkin tidak pernah lagi kudapatkan dimanapun tempatku merehatkan diri. Aku tahu titik seperti ini akan tiba, aku tahu keputusan untuk putar haluan merupakan sebuah keputusan yang sungguh besar. Keputusan untuk membaurkan diri dalam sistem sosialis yang ternyata tak sesosialis, seperti apa yang telah mendarah daging di masyarakat.

Entah itu hanya gembar-gembor semata yg kemudian menjadi kebanggaan yangg dipatenkan, Tak kutemui tanggung jawab, tak kutemui rasa iba. Jangankan rasa iba, untuk sekedar bertanya saja diperlukan kode keras, diperlukan pemikiran keras untuk mendapatkan kesadaran itu, tak jarang tetesan air mata juga turut andil, walaupun hanya Engkau yang tauu harapan akan perubahan selalu terucap dalam untaian kata ketika aku menghadap-Mu Entahlah