Allah menciptakan yang istimewa diantara yang rata-rata (baca:biasa). Dan yang istimewa dari para Nabi dan Rasul adalah Nabi Muhammad, yang istimewa dari para malaikat adalah malaikat Jibril, yang istimewa dari Kitabullah adalah Al-Quran, yang istimewa dari Surat Al-Quran adalah Ummul Quran(Al-Fatihah), yang istimewa dari waktu adalah waktu Wustha (Asar/Subuh), yang istimewa dari hari adalah hari Jumat, yang istimewa dari malam adalah malam Lailatul Qadar, dan yang istimewa dari bulan adalah bulan Ramadan.

Ramadan merupakan satu bulan dari ke dua belas bulan yang paling Istimewa. mengapa? karena beberapa hal, diantaranya: Hanya di bulan Ramadan lah ada puasa yang diwajibkan. Hal itu tertulis indah dalam FirmanNya Quran Surat Al-Baqarah ayat 183: 183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. Merujuk pada ayat di atas, telah jelas bahwa puasa(Ramadhan) itu hukumnya wajib. Adapun kewajiban ini hanya jatuh pada orang-orang muslim saja.

Melihat penjelasan ayat diatas rupanya senada dengan makna Ramadan yang penulis temukan dalam KBBI(Kamus Besar Bahasa Indonesia) yaitu nama bulan ke-9 tahun Hijriah(29 atau 30 hari), pada bulan ini orang islam diwajibkan berpuasa. Beranjak dari makna Shiam yang dalam ayat diatas dimaknai dengan “Berpuasa”, selanjutnya penulis tertarik untuk kembali meninjau lebih jauh tentang makna puasa yang sesungguhnya.

Dalam KBBI, makna inilah yang kemudian penulis dapatkan. Puasa (1) menghindari makan, minum, dan sebagainya dengan sengaja(terutama bertalian dengan keagamaan). (2) Nama dari salah satu rukun Islam berupa ibadah menahan diri atau berpantang makan, minum dan segala yang membatalkannya mulai terbit fajar hingga terbenam. Setelah memahami penjelasan diatas, tentu kita dapat tarik kesimpulan bahwa, memang puasa itu bukan sekadar meninggalkan makan dan minum saja dari mulai terbit fajar hingga terbenamnya.

Tetapi juga meninggalkan segala prilaku yang dapat membatalkannya. Contoh sederhananya yang lumrah terjadi di sekitar kita adalah, kentut di dalam air (bisa sungai atau yang lainnya), menurut madhab Imam Syafi’i hal itu dapat membatalkan puasa.

Advertisement

Kembali pada judul tulisan ini, Ramadan bukan Ramadhang. Tadi sudah sedikit penulis paparkan mengenai Ramadan. Kini, giliran kita bahas soal Ramadhang. Ramadhang itu apa? Ramadhang adalah bahasa Jawa yang artinya "tidak makan". Nah, jadi Ramadan itu bukan Ramadhang ya!

Sayangnya pada faktanya, banyak diantara kita. Di bulan ramadan ini masih melakukan kejahatan. Kemarin saja saya mendapat kabar dari rekan. Ia bilang kemarin Sore ada insiden “Pembegalan” di daerah Tasikmalaya. Korbannya dua orang perempuan adik-kakak yang tengah ngabuburit, dirampas sepeda motornya.

Kemudian kasus penipuan juga terjadi, hal itu menimpa guru saya, penipuan tersebut via telepon rumah. Si penipu mengatakan bahwa keluarga (anak) guru saya itu kecelakaan. Padahal guru saya belum mempunyai anak. Ketahuan bohongnya, karena sadar ia sedang ditipu, tanpa menunggu lama guru saya pun menutup teleponnya. Jadi, si penipu gagal.

Disamping itu pun, banyak juga dan bisa kita saksikan sendiri muda-mudi atau dua pasangan yang belum halal (menikah) mengumbar kemesraan atau dalam kata lain mengekpos baik lewat status atau unggahan photonya di media social seperti Facebook, Instagram, juga bbm dan lain-lainnya. Ini yang membuat penulis keheranan.

Kok mereka berani ya? ini kan bulan puasa, bulan mulia. Bulan yang diagungkan. Kenapa justru mereka mengotorinya dengan prilaku seperti itu. Ini tentu bukan karena bulan puasa saja ya, karena maksiat tidak hanya dilarang di bulan puasa, tetapi di bulan selainya. Maka, amat keterlaluan jika hal itu masih dilakukan di bulan suci ini. Padahal yang penulis tahu, sekilas saya baca berita online, tentang orang-orang non islam yang ikut berpuasa dengan alasan menghomati bulan puasa atau menghormati teman-teman muslimnya.

Kemudian pemerintah Negara Pakistan yang menunda hukum eksekusi mati karena datangnya bulan Ramadan, alasannya serupa, karena menghormati bulan suci Ramadan. Lalu kenapa kita yang dikaruniakannya malah mengotori? dan tentu masih banyak lagi, kemungkaran atau kebathilan yang masih dilakukan ketika datang bulan puasa.

Pada tulisan ini penulis tutup dengan ucapan, Selamat Berpuasa. Mari sama-sama kita berdoa, semoga di Ramadan ini kita bisa jadi manusia yang lebih baik. Dan mereka yang belum sadar semoga segera mendapat hidayahNya. Amin. Ramadhan mesti tambah alim bukan lalim. Salam Ramadan.