“Ibu, apa kabar? Oh alhamdulillah, aku juga sehat kok. Masak apa hari ini? Wah, enaknya! Salam untuk Ayah dan Adik. Wa’alaikumussalam.”

Sepenggal percakapan di jarak yang membentang jauh selalu membuat isak tertahan. Karena lelehan air mata yang mengalir deras, maka aku ingin segera mengakhiri pembicaraan. Bukan karena aku tak rindu. Justru aku tidak bisa menahan untuk segera melewati waktu.

Adzan maghrib bersahutan, memberitahu bahwa tiba waktunya tubuh kembali diberi asupan. Warung-warung kecil penjual kolak dan jajanan masih riuh di jalan. Sedangkan aku, termenung di dalam kamar dengan sepiring mie instan. Sendirian.

Sekarang aku sedang membayangkan bagaimana suasana meja makan dengan menu yang ibu sediakan. Juga tentang adik yang berulang kali melirik jam tangan, ingin segera mengambil nasi padahal ia sudah makan sejak siang karena puasa setengah hari. Dan ayah yang sibuk mengaduk kopi hitam karena bagi beliau, sehari tanpa seduhan terasa kurang menyenangkan.

Kuakui aku lemah, tak kuasa menahan rindu yang membuncah dalam dada meski aku baru saja menginjakkan kaki di lain kota. Mungkin ini yang dinamakan homesick. Sepertinya hampir segala hal yang aku lihat mengingatkanku pada keluarga yang kini belum bisa kulihat lagi.

Advertisement

Ramadan pertama tanpa hangat cinta keluarga memang terasa sendu. Aku tak lagi bisa membantu meski sekedar mengantar ke pasar. Aku tak lagi bisa mendengar alunan ayat Al Quran yang dibaca dari tiap ruangan, berlomba menjadi yang pertama kali khatam.

“Nak, orang yang tidak mau merasakan beratnya mencari ilmu akan menanggung sakitnya kebodohan.”

Ibu, seandainya perkataanmu tak menguatkanku, pasti aku sudah kembali ke pangkuanmu. Terimakasih atas doa di tiap sujud yang menjadi naunganku.

Sekarang aku mulai menyadari artinya perjuangan. Mungkin belum seberapa jika dibandingkan dengan perjuangan Ayah membesarkanku dan membuatku menjadi seperti sekarang ini. Teringat dahulu engkau sering bercerita tentang pengalaman masa muda, saat masih berproses yang terdengar berat dan menurutku sedikit dilebih-lebihkan. Sekarang aku sadar aku salah. Ternyata memang berat ya, Yah.

Tapi semua itu aku jadikan titik balik untuk kembali semangat menjalani puasa di perantauan ini. Tahun pertamaku berada jauh dari zona nyamanku. Zona penuh kasih sayang dan rasa aman yang selalu aku dapatkan. Keluarga.

Seporsi mie instan yang akan aku santap ini terlihat lebih istimewa saat Ibu memberiku ucapan selamat berbuka lewat telepon. Membuatku merasa lega setelah menjalani hari yang cukup menguji kesabaran di bulan Ramadan. Dari sana terdengar samar suara radio yang sedang menyiarkan kultum, terdengar pula piring yang berbenturan dengan sendok tanda makanan sedang disiapkan di meja.

Ah, suasana itu membuatku merasa dekat dengan mereka.

Sendiri membuatku lebih menyadari hangatnya bersama keluarga. Rasa penyesalan kadang muncul, saat SMA dulu aku sering menjadikan keluarga nomor dua dan lebih meluangkan waktu untuk kegiatan di luar sana, yang membuatku sangat rindu pada kalian di waktu ini. Aku tidak sabar menunggu waktu untuk bersama merasakan nyamannya bersama kalian. Karena seperti dendam, rindu harus dibayar dengan tuntas.

Ayah, Ibu, doakan aku disini untuk mencapai seluruh mimpiku untuk melihatmu tersenyum kepadaku. Tunggu aku kembali untuk hadir di tengah hangatnya pelukanmu. Biarlah semangkuk mie ini menjadi saksi perjuangan dan kerinduanku. Ibu, di akhir pembicaraan teleponku denganmu ini aku mohon jangan engkau sisipkan kata selamat tinggal, karena yang ada hanyalah kata sampai berjumpa lagi.