…..the Superclass of the haute-couture world, which was already weary of pretending that it had something different to sell every six months.

— Paulo Coelho

Tahun 1960-an, dunia terperangkap dalam perang berdarah era post-colonial, takut akan terjadi perang nuklir, dan sekalipun kita mengalami masa-masa kejayaan ekonomi, kita semua sangat mendambakan sedikit kebahagiaan. Sama seperti pemahaman Christian Dior bahwa harapa akan masa depan yang berkelimpahan dapat di ekspresikan lewat pakaian dari bermeter-meter kain, para desainer tahun enam puluhan juga mencari kombinasi warna yang dapat membangkitkan semangat orang-orang. Mereka pun menyimpulkan bahwa warna merah dan ungu memiliki efek yang menenangkan sekaligus memberi semangat.

Empat puluh tahun kemudian, pendapat kolektif sudah berubah total: dunia tidak lagi berada dalam ancaman perang, melainkan dalam kondisi kritis akibat masalah-masalah lingkungan. Para desainer pun memilih warna-warna alam: pasir gurun, hutan, laut. Diantara dua periode tersebut, ada berbagai trend lain psychedelic, futuristik, gaya aristokrat, penuh nostalgia yang muncul lalu lenyap.

Sebelum koleksi para desainer ternama sepenuhnya terwujud, berbagai studi mengenai trend pasar di gunakan untuk memotret keadaan dunia.
Rupanya sekarang terlepas dari perang, bencana kelaparan di Afrika, terorisme, pelanggaran hak asasi manusia, serta sikap arogan beberapa negara maju dunia sibuk memikirkan cara menyelamatkan planet Bumi yang malang dari berbagai ancaman yang di lakukan manusia.

“Ekologi. Selamatkan bumi. Konyol sekali.”

Advertisement

Namun tidak ada gunanya melawan pendapat kolektif. Warna, aksesori, kain, acara-acara sosial yang di adakan kalangan Superclass, buku-buku yang terbit, musik yang di putar di radio, film dokumenter yang dibuat para mantan politisi, film-film baru, bahan baku sepatu, bio-fuel baru, berbagai petisi yang diserahkan pada anggota dewan, saham-saham yang dijual di bank-bank terbesar dunia, semuanya seakan terfokus pada satu hal: Menyelamatkan Bumi. Banyak dana yang terkumpul dalam semalam; berbagai perusahaan multinasional mendapat liputan besar oleh pers hanya karena tindakan tidak penting yang mereka lakukan; berbagai LSM palsu memasang iklan di berbagai stasiun TV ternama dan mendapat donasi ratusan juta karena semua orang sepertinya terobsesi dengan nasib Bumi.

Setiap kali membaca artikel di koran atau majalah yang ditulis oleh para politisi yang menggunakan isu pemanasan global atau kerusakan lingkungan sebagai landasan kampanye pemilu mereka.

“Kenapa kita sesombong itu?” Planet ini, dari dulu hingga sekarang dan sampai selamanya tetap lebih kuat daripada kita.
Kita tidak bisa menghancurkan Bumi; kalau tindakan kita mulai di luar batas, planet inilah yang akan melenyapkan kita dari permukaanya sementara Bumi sendiri tetap ada.

Mengapa mereka tidak bicara tentang cara pencegahan supaya bumi tidak menghancurkan kita?
Karena “menyelamatkan Bumi” seakan menunjukkan kekuatan, aksi, serta sifat agung. Sementara “mencegah Bumi agar tidak menghancurkan kita” dapat mengarah pada rasa putus asa dan tidak berdaya, pada kesadaran bahwa kemampuan kita sangatlah terbatas.

However, this is what the trends reveal, and fashion must adapt to the desires of the consumers.