Adalagi hal unik yang bisa dipelajari. Seorang wanita yang menjadikan S2 ataupun S3 sebagai bentuk pelarian karena desperate menanti jodohnya. Namun, ia pun ragu mendaftar S2/S3 karena takut dilamar calon jodohnya. Katanya untuk apa sekolah lagi kalo suami tidak mengijinkan, atau kalau hanya jadi ibu rumah tangga nantinya. Lucu? Ya begitulah wanita, entah apa maunya, yang jelas terlalu banyak mau. Dalam hal ini, perkuat lagi saja alasannya studi lanjut. Untuk apa sekolah lanjut? Apakah sekolah lanjut akan merugikan keluarga kecilmu nanti? It all depends on you. Studi lanjut tidak sebercanda itu.

Mirisnya lagi, jodoh yang ditunggu wanita-wanita ini pun belum tentu datang. Apalagi dengan hanya berdiam diri. Menunggu yang tidak pasti. Wanita sudah ahli melakukannya. Tidak teguh pendirian. Boleh saja, kalian menjudge demikian, tapi kami hanya ingin berbakti pada suami, menjalankan amanah agama. Aaah, klise, lagi-lagi dalil agama dijadikan pembenaran.

Apa memang itu nasib kebanyakan wanita? Tidak bisa menentukan jalan sendiri. Mendukung segala yang dibutuhkan dan dilakukan suami. Berbakti pada suami. Haruskah menyerahkan segala impian ke tangan suami? Haruskah ego ditekan sebegitunya? Katanya, jangan pernah mempertanyakan kesiapan suami untuk menafkahi wanitanya karena pasti akan tersinggung. Harga diri pria jangan pernah diragukan. Egois? Memang. Tapi, ada juga opini membiarkan istri bekerja, sama dengan tidak siap menjadi kepala keluarga. Kuno. Tapi, tak sedikit lelaki jaman sekarang yang menyetujui opini ini atas pembenaran terhadap kemalasannya.

Sebenarnya, apa tujuan orang menikah dan berkeluarga? Pemenuhan perintah yang Maha Kuasa untuk beranak cucu dan mendidik mereka? Tapi bumi sudah terlalu penuh. Salah satu alasan manusia diciptakan adalah untuk menjaga kelestarian makhluk hidup lainnya. Saat manusia terus bertambah, apakah seiring dengan kelestarian makhluk lainnya?