Pasukan Amerika yang “rajin” ikut perang, kali ini harus kembali mendapatkan neraka pertempuran jauh dari kampungnya. Mulai dari Neraka di pantai Omaha saat di Normandia, neraka di Pantai Iwo Jima, hingga neraka di Mogadishu di Somalia adalah beberapa contoh neraka bagi Pasukan Amerika.

Yang menjadi pembeda adalah beberapa neraka yang sering terjadi terhadap Amerika, biasanya dimulai dengan penyerangan Pasukan Amerika dalam misi tugas khusus. Sementara Neraka di Benghazi adalah ketika militan tiba-tiba menyerang konsulat Amerika dan sebuah markas Dinas Intelejen CIA yang berlangsung selama 13 jam.

Menjadi pembeda berikutnya adalah dalam film ini digambarkan kisah sesungguhnya bagaimana selama 13 jam berlangsung, begitu minim bantuan udara dan pasukan Amerika untuk menyelamatkan puluhan pegawai CIA dan pasukan keamanan Amerika yang terjebak di kota Benghazi saat diserang militan anti Amerika.

Film berdurasi 144 menit dimulai lewat narasi pasca kejatuhan pemimpin Libya Muammar Khadafi (Muammar Ghaddafi) yang telah berkuasa selama 42 tahun, dilengserkan oleh sekutu barat plus milisi oposisi yang anti Khadafi.

Pasca kejatuhan Khadafi, Libya seperti negara tak bertuan. Milisi-Milisi yang menjatuhkan Khadafi berkuasa dan menjadi penguasa lokal di setiap wilayah Libya sambil menenteng senjata pemberian sekutu barat plus senjata rampasan dari rezim Khadafi.

Advertisement

Mengetahui bahwa begitu banyak senjata milik Rezim Khadafi yang jatuh ke berbagai faksi milisi di Libya, Amerika tetap mempunyai markas CIA di Benghazi (kota kedua terbesar di Libya setelah Tripoli) untuk mengontrol dan melacak senjata agar tak jatuh ke tangan yang salah.

Dalam sebuah komplek yang seperti benteng, para agen CIA bekerja. Untuk menjaga keamanan disewa jasa kontraktor keamanan yang beranggotakan mantan pasukan elite Amerika (Kebanyakan berasal dari Navy Seal). Kontraktor keamanan itu bernama GRS (Global Response Staff).

Ada enam anggota elite GRS yang bertugas mengamankan segala kegiatan CIA selama di Benghazi. Mulai dari membeli senjata-senjata di pasar gelap hingga akhirnya mendapatkan tugas khusus ikut mengamankan Duta Besar Amerika untuk Libya Chris Stevens yang datang di Konsulat Amerika di Benghazi.

Konsulat Amerika jaraknya hanya kurang lebih beberapa kilometer dari markas CIA di Benghazi.

Semuanya berjalan normal-normal saja. Terlebih Konsulat Amerika ikut dijaga oleh milisi lokal asal Libya yang mempunyai nama Milisi 17-Feb.

Neraka dimulai ketika malam tiba pada 11 September, 2012, Milisi Anti Amerika (Ansar al-Sharia dan The Islamic Magreb yang berafiliasi dengan Al Qaeda) mulai menyerang Konsulat yang bisa dibilang minim penjagaan. Disini pihak Amerika yang berada di Benghazi mulai kalang-kabut ketika diserang.

Markas CIA yang mempunyai pasukan GRS yang paling mungkin memberikan bantuan harus turun tangan membantu teman-teman mereka yang terjebak di Konsulat. Namun, misi penyelematan terhadap personil Amerika dan Duta Besar di Konsulat bukanlah menjadi cerita akhir. Justru dari Konsulat, pertempuran berlanjut menuju markas CIA yang diserang oleh milisi.

Markas CIA yang menjadi benteng terakhir menjadi “Benteng ALAMO” bagi Amerika untuk bertahan dari gempuran para milisi. Selama 13 jam pihak Amerika musti bertahan dari serangan bergelombang sampai bantuan tiba. Ironisnya, Amerika yang selalu super di udara tak mampu membantu. Praktis pasukan GRS menjadi andalan utama dalam menangkal serangan para milisi.

Michael Bay (Tranfromers Series, Armageddon, Pearl Harbor) merangkap sebagai sutradara dan produser dalam film ini. Gaya penyutradaraan khas Michael Bay terlihat “glamor” dalam setiap adegan pertempuran yang digambarkan. Saking dasyatnya pertempuran yang dibuat oleh Michael Bay, film ini justru “kadang” terlihat seperti film aksi laga Hollywood.

Bagi anda yang menyukai aksi laga, film ini akan memuaskan sampai film berakhir. Namun, bagi anda yang ingin menyaksikan rekontruksi kejadian nyata pertempuran di Benghazi akan menganggap terlalu “lebay” karena begitu kental unsur aksi Hollywood dalam tembak menembak dan penggambarannya.

Meski tidak adil membandingkan film ini dengan Zero Dark Thirty dan Black Hawk Down, namun dapat terlihat perbedaan signifikan dalam penggambaran pertempuran yang bersifat rekontruksi dan aksi laga.

Ketika Kathryn Bigelow membesut Zero Dark Thrity yang merekontruksi penangkapan Osama Bin Ladin, kita menonton sebuah momen sejarah yang diangkat ke layar lebar. Begitu juga ketika kita menyaksikan menit demi menit film Black Hawk Down ciptaan Ridley Scott, kita mampu merasakan sejarah mengenai pertempuran yang terjadi di Mogadishu, Somalia.

Untuk 13 Hours: The Secret Soldier of Benghazi, yang diadaptasi dari buku Mitchell Zuckoff yang berjudul 13 Hours, kualitas Michael Bay tidak lagi kita ragukan sebagai sutradara papan atas Hollywood. Sayangnya, itu tadi; aroma film laga seperti Armageddon dan Transformer lewat beberapa adegan terlihat kental. Sehingga sebagai sebuah film sejarah, bagi yang “nyinyir” akan berkata,”ahh..hollywood banget nih film.”

Namun secara keseluruhan, film ini tetaplah menjadi rekomendasi yang baik untuk genre film yang diangkat dari kisah nyata. Menjual kisah sejarah lewat pertempuran yang berada di Libya tentunya menambah wawasan kita mengenai krisis perang global yang akhir-akhir ini marak terjadi di timur tengah dan sekitarnya dengan hadirnya campur tangan sekutu barat.

Kisah neraka 13 jam pertempuran di Benghazi besutan Michael Bay menjadi contoh kecil, ketika sekutu barat dengan kepentingannya berhasil menumbangkan rezim namun tidak mampu menjadikan Libya sebagai negara demokrasi yang mereka inginkan.

Jangankan untuk mengontrol pemerintahan Libya. Keluar dari Benghazi saja secara selamat menjadi sebuah pekerjaan yang berat bagi Amerika. Selamat menonton.

7/10 Bintang

13 Hours: The Secret Soldiers of Benghazi

Sutradara: Michael Bay

Skenario: Chuck Hogan

Berdasarkan buku karya Michael Zuckoff berjudul 13 Hours

Pemain: James Badge Dale, John Krasinski, Max Martini, Dominic Fumusa, Pablo Schreiber, David Denman, Toby Stephens, Freddie Stroma