Dari judulnya, Super-hero DC akan saling baku hantam. Itu adalah menu utama-nya. Batman akan berhadapan dengan Superman. Dua pahlawan super yang menjadi ujung tombak dari DC Comics untuk disuguhkan kepada penonton. Sayangnya, Menu itu hambar seperti tidak ada kelezatan selama 151 menit.

Batman V Superman: Dawn Of Justice menjadi andalan dari Warner Bros untuk menyaingi film-film Marvel yang makin merajai di jajaran film-film Box Office. Kesuksesan Marvel memang sulit untuk dikejar oleh film-film Super-hero buatan DC Comics.

Penulis dan Rumah Produksi membuat beberapa langkah revolusioner dalam membesut film ini. Seluruh tokoh pemeran dalam seri Batman yang biasanya digawangi Christian Bale (Batman Begins, The Dark Knight, The Dark Knight Rises) tidak ada di film ini.

Ben Affleck mengisi posisi si manusia kelelawar dan Jeremy Irons berperan sebagai Alfred. Sementara untuk karakter Superman tetaplah dipegang oleh Henry Cavill yang sebelumnya sudah kita temui dalam film Man of Steel. Para pendukung dalam Man of Steel tetaplah sama. Amy Adams, Laurence Fishburne, serta Diane Lane.

Menu Pembuka Batman dan Superman

Advertisement

Adegan dibuka lewat perjalanan Batman/Bruce Wayne (Ben Affleck) saat masih bocah mengalami kehidupan tragis hingga akhirnya menjadikan dirinya sosok super-hero pembela kebenaran. Momen lalu berpindah bagaimana kisah Metropolis yang megah harus luluh lantak karena pertarungan Superman/Clark Kent (Henry Cavill) dan General Zod (Film Superman dalam Man of Steel).

Meski Superman menjadi pahlawan dalam mengalahkan General Zod yang ingin bumi musnah, tak membuat simpati Batman. Peristiwa itu justru membuat Batman jengkel dan marah karena harus kehilangan beberapa teman baiknya dan juga mengorbankan ribuan manusia. Bagi Batman, kehadiran Superman meski pembela bumi dapat menjadi ancaman bagi umat manusia.

Di sisi lain muncul seorang psikopat bernama Lex Luthor (Jesse Eisenberg) yang merupakan musuh utama dari Superman. Tidak hanya musuh Superman, Lex Luthor adalah musuh dari para super-hero yang hadir di film ini.

Menu Utama : Duel Super-hero

Ketika Batman merasa dirinya mampu mengetahui kelemahan Superman yang berasal dari Planet Krypton, di situlah Batman menantang Superman. Di satu sisi Lex Luthor memanfaatkan perselisihan sang super-hero untuk tujuannya.

Tujuan licik Lex Luthor sudah bisa ditebak. Bahwa dia menginginkan dua jagoan tersebut harus saling adu jotos untuk kepentingannya. Di satu sisi, Lex Luthor yang cerdas berhasil menciptakan Monster untuk membuat repot Batman, Superman, Plus kemunculan sosok pahlawan super yang kita kenal bernama Wonder Women/Diana Prince (Gal Gadot). Dengan semangat gotong royong maka tiga pahlawan utama tersebut berjibaku kembali menyelamatkan bumi dari kehancuran.

Hambar di Menu Utama

Sayangnya, tidak ada sesuatu yang special dari Batman V Superman: Dawn of Justice. Penulis skenario David S Goyer yang terkenal lewat skrip Batman Begins, Jumper, serta Man Of Steel lagi-lagi membuat 150 menit sangat monoton dan tak ada yang spesial.

Mengapa Hambar? Dari awal film hingga Batman harus duel dengan Superman begitu membosankan dan terlalu bertele-tele. Tidak ada konsep cerita yang menarik untuk membuat mata terus melihat di layar bioskop. Bahkan kisah super-hero yang harusnya menarik, dibuat begitu serius hingga tidak ada humor yang membuat penonton menjadi lebih betah di bangku bioskop.

Perkelahian Batman dan Superman yang menjadi menu utama justru anti klimaks. Meski Batman mengetahui kelemahan Superman, namun tidak dikemas dengan menarik dan hanya (lagi-lagi) menjual adegan gedung hancur dan luluh lantak di seantero kota. Entah itu di Gotham ataupun Metropolis.

Adegan duel dua sosok pahlawan akhirnya berhenti tanpa sesuatu yang spesial. Di situlah muncul Wonder Women yang bersatu melawan Monster yang juga tidak bisa dibilang menarik karena masih memakai metode yang sama seperti dalam film Man of Steel. Yaitu metode hancur total di mana-mana akibat perkelahian.

Sutradara Zack Snynder yang sukses menggarap film berjudul 300, justru membuat film ini semakin kelabu. Penggambaran kelam sepanjang film tidak membuat kualitas cerita menjadi lebih baik. Tokoh-tokoh pendukung seperti Lex Luthor (Jesse Eisenberg) justru bergaya ala joker. Alfred (Jeremy Irons) tampil biasa saja dalam membantu Batman. Padahal sayang sekali kekuatan akting dan nama besar Jeremy Irons harus tampil biasa saja.

Adegan penutup yang seharusnya menjadi kejutan penonton mengenai kisah Superman juga terlihat biasa saja. Sehingga tidak ada sesuatu yang membuat penasaran untuk ditunggu apabila film ini dibuat sequel atau menjadi sebuah kelanjutan dari kisah JLA (Justice League of America). JLA adalah kumpulan super-hero yang terdiri dari Batman, Superman, Aquaman, The Flash, Green Lantern, The Martial Manhunter, serta Wonder Women.

Scoring musik yang dibuat oleh Hans Zimmer juga jadi terdengar biasa saja di beberapa adegan emosional film ini. Talenta Hans Zimmer yang memukau lewat musik di Gladiator dan Pirates of Carrebean, jadi biasa saja karena skrip dan penyutradaraan yang hambar.

Nilai plus dari film ini hanyalah Ben Affleck yang menggantikan Christian Bale untuk mengisi peran Batman/Bruce Wayne. Affleck tampil memukau untuk menjadi manusia kelelawar yang selama ini diperankan begitu kokoh dalam sosok Christian Bale.

Sekilas dalam satu adegan, kemunculan Aquaman, Flash, Cyborg juga menandakan bahwa film ini sangat kuat untuk dibuat kelanjutannya menuju JLA. Berharap bahwa ada ramuan khusus agar menjadi film yang kuat untuk menandingi Avengers besutan atau X-Men besutan Marvel .

Secara keseluruhan Batman V Superman: Dawn Of Justice yang harusnya menjadi mega proyek pahlawan DC tampil biasa saja tanpa ada sesuatu yang dapat menantang film-film milik Marvel. Nama besar Superman, Batman, serta Wonder Women dalam film ini nampaknya tak akan mampu mendongkrak kesuksesan “wah” seperti trilogi Batman era Christopher Nolan. Selamat menonton.

6/10 Bintang