Hujan turun begitu derasnya, aktifitasku serasa lumpuh total, di dukung dengan sikap mager (malas gerak) dari tempat tidur, ah sempurna. Selanjutnya bisa dibayangkan yang bakal terjadi, jika tidak melanjutkan tidur maka hujan akan membawamu pada kerinduan akan seseorang.

Dan benar, saya tidak bisa melanjutkan tidur. Terjebak rindu pada seseorang yang sesungguhnya sangat menyebalkan. Merindukannya seperti sebuah kebodohan dan siksaan yang tak berkesudahan. Semakin merindukannya “tidak” membuatku bahagia justru semakin membuat tersiksa di setiap penghujung malam karena memikirkannya.

Apa yang salah dengan perasaan ini? pertanyaan ini muncul seiring ingatan yang membawaku pada sosoknya yang selama ini hadir memberikan banyak cinta, perhatian, kasih sayang dan yang terpenting dukungan untuk semua yang aku lakukan. Lantas kenapa rindu ini membuatku sangat tersiksa bahkan jika rindu ini hadir saya mencoba menepisnya, karena jebakan rindu ini membuatku semakin takut untuk bersamanya di masa depan. Kata Dmasiv “Rindu ini membunuhku”.

Seseorang pernah berkata padaku, jangan melawan takdir termasuk jangan melawan perasaan. Hadapi saja, ikuti perasaanmu dan jauhkan pikiran yang ditumbuhi rasa takut yang berlebihan itu. Jalani saja sebagai hadian Tuhan, bukankah setelah hujan akan ada pelangi yang indah. Dan semoga pelangi itu hadir diantara rindu kalian berdua.

Semakin perasaan ini menghantuiku, rasanya aku ingin menyalahkan waktu yang membawa kami harus bertemu kembali dengan situasi yang begitu pelik bernama persahabatan dan cinta.

Advertisement

Entahlah, perasaan ini berkecamuk. Egoku menghampiri untuk tetap melawan rasa rindu ini, karena akan ada rasa sakit lain yang kemungkinan hadir setelah siksaan rindu saat hujan turun. Siksaan takut kehilangan walau sedetik dalam pikirannya.