Experience is the best teacher, pengalaman adalah guru terbaik. Siapa yang belum pernah mendengar kata-kata bijak ini. Sederhana tapi sarat makna. Sebuah peribahasa yang membawahi dan merangkul semua aspek kebijakan dalam kehidupan.

"Banyak-banyaklah bersyukur"

"Bersabarlah"

"Ikhlaskan saja semuanya"

Atau kata-kata bijak lainnya. Apakah kita menerima begitu saja kata-kata tersebut? Maksudnya, apakah saat itu juga kita dapat langsung bisa mahfum bahwa ya, memang kita harus bersabar. Ikhlas dengan semua yang terjadi dalam kehidupan. Dan tidak pernah mengeluh atas kurangnya materi atau apapun karena sudah merasa sangat bersyukur. Saya rasa semua itu mustahil. Karena tidak ada manusia yang sempurna, dalam artian segala yang ada dalam kehidupannya merupakan kebaikan. Karena hal-hal buruk dalam diri manusia adalah sebuah fitrah dan kewajaran. Sebuah sistem dari Sang Maha Pencipta untuk menyeimbangkan manusia itu sendiri.

Pernah suatu kali saya mendapat masalah dalam pekerjaan yang cukup pelik serta menyita pemikiran. Saya mengatakan masalah tersebut cukup besar, karena dari beberapa teman yang pernah mengalami hal serupa mereka rata-rata mengalami stress dan depresi. Bahkan salah satu teman pernah mengatakan bahwa masalah tersebut menyebabkan ia harus mengalami gangguan kesehatan.

Saya akui saya hampir stress, dan depresi saat itu. Karena terus terang hal itu menyangkut masa depan saya juga. Namun maaf memang saya tidak dapat menceritakan perihal permasalahannya secara detail.

Advertisement

Seperti pada umumnya orang, saya mencoba mengurai permasalahan, mencari solusi, serta langkah-langkah penyelesaian melalui sharing. Mungkin lebih tepat dikatakan saya curhat pada orang-orang yang sekiranya berkompeten. Mengutarakan tentang apa yang terjadi, tentang apa yang saya rasakan, sampai betapa hampir putus asanya saya mengalami hal-hal itu. Sebenarnya sudah hampir dapat dipastikan jawaban atas curhatan saya tersebut. Hal-hal yang sebenarnya sudah saya ketahui dari awal tanpa saya mengutarakannya pada orang lain. Bahwa ya, saya harus sabar, ikhlas, dan tabah menerima semua permasalahan tersebut dengan lapang dada.

Namun kemudian saya masih heran kenapa kata-kata tersebut belum bisa ‘meresap’. Belum bisa saya terima dengan setulus hati bahwa saya harus sabar, ihklas dan tabah. Mengapa kata-kata bijak tersebut masih diawang-awang sehingga saya masih merasa masalah-masalah tersebut sangat berat untuk saya hadapi. Belum merasa ikhlas bahkan tabah apalagi sabar dengan kenyataan bahwa masalah tersebut harus menimpa saya.

Saya melakukan perjalanan panjang untuk ‘menemukan’ keikhlasan, kesabaran, dan ketabahan tadi dalam arti yang sebenarnya. Membaca buku, merenung, dan tentu saja menangis di hadapan-Nya. Sampai pada suatu ketika saya menemukan bahwa ya, kata-kata bijak tersebut memang benar adanya.

Momen dimana saya benar-benar berpasrah atas semua hal yang sudah atau akan saya hadapi ternyata merupakan titik tolak “menerima” kata-kata bijak tersebut dalam arti yang sesungguhnya.

Bahwa setiap bilah dari kehidupan, setiap jengkal nafas, setiap kekuatan, setiap detakan jiwa dan apapun yang kita rasakan adalah hal yang patut disyukuri. Sepahit apapun peristiwa yang mendera memanglah tak pantas untuk dikeluhkan secara berlebihan. Karena kita tidak akan pernah tahu saat kita menjadi orang lain yang bisa saja memiliki permasalahan yang lebih dari kita. Mampukah kita menghadapinya?

Sedangkan keikhlasan, kesabaran, dan ketabahan sejatinya adalah hal yang akan menguatkan diri kita. Seperti kata pepatah, apapun yang tidak dapat membunuhmu maka akan menguatkanmu. Kita tidak akan merasa kuat sampai masalah-masalah yang mendera, kita jalani dengan besar hati. Kita tidak akan pernah mendapat pelajaran-pelajaran yang berharga sampai kita mendapat pengalaman dari peristiwa yang kita alami sendiri.