Mempersiapkan masa tua??? Boro-boro kepikiran, terlintas pun engga. Wajar sih, mengingat mungkin masih sangat jauh buat kamu. Namun cobalah kamu amati di sekeliling kamu, kakek, nenek, tetangga, atau mungkin orang tua kamu sendiri. Bagaimana mereka melewati hari-hari. Pernahkah kamu bayangkan bahwa suatu saat kamu mengalaminya?

Beberapa hari yang lalu ada dua orang teman kantor yang telah memasuki masa pensiun (kalau kayak gini baru ngerasa tua). Ada hal menarik yang sempat saya amati pada teman-teman saya itu. Pertama, mereka seperti merasakan kebebasan setelah sekian lama seolah terbelenggu pada rutinitas serta kewajiban. Dan kedua, mereka sibuk mencari aktifitas apa yang ingin mereka lakukan di masa purna tersebut.

Masa pensiun identik dengan masa istirahat, adapula yang memandang dari segi spiritualitas inilah saat dimana manusia harus benar-benar mendekatkan diri pada Sang Khalik. Usia tua bagi sebagian orang dianggap lebih dekat dengan –maaf, kematian. Meski tidak sepenuhnya benar, kematian tidak ada kaitannya dengan usia. Usia tua hanya merupakan penurunan kondisi biologis manusia.

Dari dua hal yang saya amati tadi ternyata saat memulai masa pensiun kita akan dihadapkan pada perubahan drastis dalam fase kehidupan kita. Memang, pasti akan ada rasa senang bahagia atau nyaman saat tidak lagi terbelenggu pada kewajiban dan rutinitas pekerjaan. Namun ternyata disisi lain, akan timbul sebuah rasa ‘kehilangan’ yang sangat besar.

Ternyata rasa senang akan kebebasan tadi tidaklah berlangsung lama, akan ada rasa dimana kamu membutuhkan kegiatan, rutinitas, dan interaksi dengan orang lain. Beraktifitas bersama keluarga akan menjadi salah satu alternatif. Membaca, menonton televisi, mengikuti kajian-kajian, atau aktifitas positif lain dapat menjadi alternatif pula. Namun bukankah aktifitas-aktifitas itu bersifat situasional artinya bukan aktifitas yang bersifat rutin.

Advertisement

Lain halnya jika kamu memiliki hobi atau passion yang sudah kamu rintis sejak usia produktif. Kamu tidak akan mendapati rasa ‘kehilangan’ yang tak jarang bagi sebagian orang sangat menghantui. Ada beberapa orang yang merasa ‘ketakutan’ untuk menghadapi masa-masa tersebut. Lebih-lebih bagi mereka yang dulunya memiliki ‘kekuasaan’, maka tak jarang ada yang mengalami post power syndrome. Suatu gejala yang terjadi dimana seseorang tenggelam di dalam bayang-bayang kehebatan dan keberhasilan masa lalu sehingga sulit menerima keadaan sekarang.

Pernahkah kamu tahu siapakah tokoh di balik Novel terkenal The Lord of the Rings? Ya dialah J.R.R.Tolkien. Dan tahukah kamu di usia berapa Novel itu berhasil dibuat? 62 tahun. Ibarat ilmu padi, makin tua makin jadi. Diusianya yang sudah tua, ia berhasil membuat sebuah masterpice dalam hidupnya. Bukankah hal ini menjadi idaman banyak orang. Sebenarnya bukan hanya ia saja, masih banyak diluar sana yang membuat sebuah karya hebat diusianya yang tidak lagi muda. Namun jangan salah, upaya mereka untuk menghasilkan karya tidak serta merta berhasil. Mereka merintisnya dari muda bahkan tak jarang dari kecil. Maka benarlah semakin kamu mendalami passion atau hobi kamu, semakin bagus pula kamu disitu.

Masa tua kadang memang perlu dan tidak perlu untuk dibicarakan. Karena beberapa fakta bahwa pada masa itu tubuh akan mengalami penurunan-penurunan fungsi. Salah satu diantaranya adalah kepikunan. Mungkin ini masih jauh dari pemikiran kamu, tapi ini fakta. Kalau kamu pernah baca artikel tentang menghindari kepikunan, dan bagaimana cara mengatasinya. Ada dua hal yang cukup relevan disana, pertama adalah kesyukuran. Yaitu saat pikiran kita sumeleh terhadap segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita dan menjalaninya dengan penuh kesyukuran. Yang kedua adalah melatih otak. Bisa dengan membaca, mengisi TTS atau aktifitas yang menuntut untuk berpikir. Nah kenapa tidak kita buat saja hobi atau passion itu sebagai salah satu kegiatan untuk melatih otak.

Tidak mudah memang menjalankan dua hal sekaligus. Tuntutan untuk bersikap realistis menjalani kehidupan dengan sekolah, bekerja, dan sekaligus di satu waktu menekuni hobi dan passion. Namun bukannya hobi atau passion itu adalah sesuatu yang menyenangkan. Tidak mungkin menjadi hobi kalau kita tidak menyenanginya, bukankah begitu. Selama hobi atau passion itu positif buat kamu dan orang-orang di sekitar kamu. Kata “positif” itu harus kamu garis bawahi, mengapa? Karena semua hal negatif muaranya bukanlah menuju pada kebaikan. Maka tekuni hobi atau passion kamu sekarang juga, jangan ditunda-tunda. Kelak saat kamu memiliki pasangan dan momongan akan lebih kompleks lagi kondisinya. Karena tentu saja ini buat masa depan (dibaca masa tua) kamu juga.