Sebuah perjalan kehidupan memang sebuah misteri layaknya lika-liku sebuah jalan labirin, kadang jalan yang kamu pilih adalah jalan yang membawamu menuju jalan keluar dan terkadan jalan yang kamu pilih harus berputar arah sampai kamu menemukan jalan keluarnya.

Sebagai manusia biasa, kita hanya bisa bersyukur dan berusaha saja disamping doa yang tak henti-hentinya, seperti halnya kalian akan terus mengayuh pedal sepeda kalian sampai kalian sampai di tempat yang kalian tuju.

Ya, seperti halnya juga sebuah kehidupan, ada saatnya kalian beristirahat sejenak karena lelah berdoa dan berusaha. Ada saatnya juga jika harus menyerah di tengah jalan, kalian hanya akan menjadi seorang pecundang yang tidak akan pernah mencapai apa yang kalian inginkan. Seperti halnya kayuhan pedal sepeda yang kemudian kalian perjuangkan untuk cepat sampai ke tujuan setelah kalian berhenti sejenak untuk beristirahat di pinggir jalan.

Usaha dan doa yang tak kenal lelah adalah sebuah tolak ukur seberapa kuat orang tersebut dibandingkan orang lain. Namun, jika melihat perbandingan ini di kehidupan nyata, kalian hanya akan mendapatkan perbandingan 1000:1 untuk tipe orang seperti ini di sekitar lingkungan kalian.

Banyak orang merasa waktunya sangat terbatas dan bahkan sangat kurang dengan keadaan yang ada ketika mereka sudah melalui jenjang pernikahan. Sebagian orang merasa mereka terlalu terburu-buru menikah di masa lalu,sedangkan masa lajang mereka masih menuntut sebuah kebebasan.

Advertisement

Hal inilah yang membuat sebuah waktu memang sangat pantas untuk dihargai setiap detiknya. Hanya saja, kalian harus menentukan prioritas waktu itu dipergunakan khusus untuk hal apa dan siapa di masa itu. Prioritas itu datang tepat pada kalian sudah merasa nyaman, yang juga rasa nyaman itu yang seolah sama persis yang ditawarkan si detik, menit, dan jam. Ketiga bagian waktu ini memang tidak pernah untuk menuntut kalian peka, namun harusnya memang kalian sendiri lah yang harus menyadari dimana saat itu tiba sebuah waktu meminta kalian untuk kalian prioritaskan.

Cinta memang buta. Ya memang itulah cinta, kadang juga cinta itu selain buta juga tuli dan dungu. Masa muda umumnya masa dimana para remaja ingin mengetahui apa itu cinta dan apa yang dapat diberikan sebuah cinta jika mereka mencoba mengenalnya. Seperti labirin yang tadi, ada yang beruntung menemukan jalan mulus untuk kisah cintanya di masa muda yang bahkan bisa langgeng sampai mereka mengikat janji setia di depan penghulu dengan segala tanggung jawabnya kepada Sang Pencipta, dan ada juga yang harus belajar lagi untuk mengenal apa itu cinta sampai ia dipertemukan dengan tambatan hatinya kelak yang seraya menjadi jodoh sampai hari tua.

Ralat, untuk jodoh yang akan selalu bersama sampai pada hari tua mungkin masih sebatas mitos bagi mereka yang tidak mempunyai tanggung jawab masing-masing setelah masa pernikahan. Ya apalagi kalau bukan karena dorongan nafsu atau ketidak siapan karena sebuah keterpaksaan dari orang tua penganut jaman Siti Nurbaya ?

Jika pada saat muda kalian sangat merasa nyaman untuk membangun diri menjadi pribadi yang lebih baik, percayalah untuk tidak berjuang mati-matian untuk mengenal sebuah cinta yang kadang lebih menggurui pada suatu perkenalan hati yang salah.

Buang jauh-jauh pemikiran "jones" jika memang saat itu waktu membangun diri menjadi lebih baik lah yang menjadi waktu ternyaman dalam hidup kalian daripada kenyaman abstrak yang coba ditawarkan cinta kepada kalian. Keadaan dan pilihanmu saat itu bukanlah suatu musibah atau takdir yang kalian rasa tidak menunjukkan sisi adilnya kepada kalian yang mempunyai suatu kebutuhan biologis, namun disaat itulah kalian diberikan kesempatan untuk berinstrospeksi diri dan lebih belajar untuk menghargai waktu yang diberikanNya.

Maaf untuk kalimat yang sedikit horor yang mungkin juga banyak orang pernah menggunakannya untuk mengingatkan sesama pun sepertinya harus terpaksa disampaikan.

"Urusan usia mah nggak ada yang tahu"

Maka dari itu cobalah untuk selalu bersyukur dan menikmati sisa -sisa waktu kalian untuk bisa mengenal arti dan makna dari kehidupan ini. Jika kalian merasa waktu yang kalian luangkan lebih belajar untuk mengejar suatu prestasi dan pengetahuan yang lebih luas, luangkan waktu itu untuk belajar. Jika waktu kalian lebih terasa nyaman untuk kalian luangkan untuk bekerja demi kehidupan yang lebih baik dan sejahtera di masa depan. pikirkan ulang untuk terlalu terburu-buru untuk berkomitmen dengan seorang yang menjadi pasangan kalian.

Sampai tiba pada saatnya kalian sudah merasa puas dan mengenal kedua waktu yang ingin mendapatkan jatah yang adil dalam kehidupan dan akhirnya kalian bisa lebih "legowo" untuk membagikan waktu kalian untuk seorang jodoh yang dipertemukan dengan kalian dan juga beberapa anggota keluarga kecil yang akan menyusul di kemudian hari.

Takdir setiap orang memang tidak sama, namun jika kalian diberikan sebuah waktu dan kesempatan oleh Sang Maha Kuasa, cobalah untuk se-enjoy mungkin untuk menikmatinya dengan cara kalian sendiri dan manfaatkan sebaik-baiknya waktu yang telah diberikan-Nya untuk hal yang memberikan awal kebahagiaan pribadi bagi diri kalian sendiri.

Hasil yang baik adalah anugerah dan sebuah keberuntungan yang kalian dapatkan, jika tidak seperti yang kalian harapkan tetap syukuri karena setidaknya kalian sudah mencoba dan mau untuk memperjuangkan..

Untuk menjadi bijak tidak harus menjadi motivator, mulailah dari diri kalian sendiri untuk mengambil suatu keputusan yang berani !