Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta sudah selesai kemarin. Hasil quick count mengunggulkan Bapak Anies Baswedan dan Bapak Sandiaga Uno sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih untuk 2019-2022. Saya mengucapkan selamat untuk bapak-bapak yang terpilih dan berterima kasih untuk Bapak Basuki T. Purnama (Ahok) dan Bapak Djarot S. Hidayat atas pengabdiannya untuk kota yang saya tinggal sejak saya lahir di dunia ini.

Jujur, hiruk pikuk Pilkada DKI Jakarta ini sangat terasa bagi saya. Lingkungan sosial saya yang sangat kental dukungan kepada pasangan Ahok-Djarot membuat segalanya di rumah bermuatan politis. Ibu saya yang merupakan relawan pasangan Ahok-Djarot sangat gencar mempromosikan mereka, rela turun ke sana-sini mendampingi Bapak Ahok-Bapak Djarot blusukan, melayani segala permintaan relawan grassroot sampai mengeluarkan uang berpuluh-puluh juta rupiah untuk membantu pendanaan kampanye mereka.

Di satu sisi, saya memiliki perbedaan pandangan dengan keluarga saya. Saya tidak mendukung pasangan ini dan saya berada di kubu yang berbeda, namun saya menhormati pilihan ibu dan keluarga. Kemarin ketika pasangan Ahok-Djarot harus kalah dari pasangan Anies-Sandi, saya melihat kekecewaan dan kelelahan yang jelas dari wajah segenap tim suskses dan relawan Ahok-Djarot. Beberapa meneteskan air mata, beberapa diam termenung saja. Ibu saya masih melayani mereka sambil mengucapkan permohonan maaf dan terima kasih kepada mereka.

Saya sadar betapa lelah hati dan mental saya ketika saya berseberangan dengan ibu dan keluarga saya dalam Pilkada ini. Sedih mereka juga adalah sedih saya juga. Ketika ini semua selesai, maka tidak ada lagi simbolik-simbolik pemisahan dua kubu. Segalanya akan kembali seperti biasa, hidup harus berjalan. Maka dari itu, saya memutuskan membeli dua martabak manis sebagai bentuk penguatan saya kepada mereka, dan kami semua tertawa kembali sembari menyusun kembali rencana kami sekeluarga ke depan.

Dari cerita di atas, saya hanya ingin mengatakan bahwa ketika semua ini berakhir, sebuah hubungan jauh lebih penting dari sebuah perbedaan pandangan politik. Apapun hubungan yang sekarang kalian jalani yang sekarang rusak karena Pilkada DKI, pertahankan dan rajut kembali, karena itu yang terpenting.

Advertisement

Jadi, mari bepelukan kembali, karena orang-orang yang kita kasihi jauh lebih penting daripada rutinitas 6 bulan kampanye Pilkada DKI.