Saatnya Perempuan Menuangkan Gagasan

Indonesia memasuki era di mana membanjirnya informasi. Media cetak yang dulu dikekang kini berkembang pesat. Reformasi mengantarkan masyarakat untuk mengambil peran dalam setiap perubahan yang berlangsung. Kebebasan berpendapat dan kebebasan pers kian menemukan jalan untuk melenggang. Masalah publik menjadi ranah setiap orang. Setiap orang memiliki keleluasaan untuk membicarakan apa saja yang hangat di negeri ini. Bahasan tersebut tidak menyempit sebatas bidang yang dikuasai. Tua, muda, kaya, miskin, laki-laki, dan perempuan diperkenankan menyuarakan opini yang mereka anggap tepat. Gagasan yang ada boleh dibagikan kepada orang lain oleh siapapun yang mau melakukannya. Padahal, peranan ini dulu dipegang wartawan mainstream. Penyebaran informasi dan gagasan kian tak terbendung.

Kebutuhan, kontribusi ide, pemecahan masalah publik, perancangan aturan, perumusan kebijakan, dan pemikiran bisa disalurkan lewat tulisan yang diterbitkan di media cetak. Industri media menyediakan ruang bagi pembaca yang ingin berpartisipasi lewat tulisan. Rubrik opini menjadi wadah yang kerap dimanfaatkan masyarakat. Dukungan media cetak terhadap minat menulis masyarakat perlu mendapat acungan jempol. Iklim menulis bisa digerakkan melalui rubrik opini. Dukungan yang membangun ditunjukkan media terhadap tulisan yang dikirimkan pembaca. Opini yang terpilih melalui proses penyaringan ketat hingga akhirnya bisa termuat. Masyarakat dipacu mendayagunakan kekritisan yang terkandung di akal mereka.

Sayangnya, tidak banyak media cetak yang secara khusus memberikan ruang kepada perempuan untuk mengembangkan ide dan gagasan melalui kolom opini.

Di Indonesia, hanya beberapa media yang berfokus untuk memberikan tempat bagi para perempuan yang ingin mengulas isu-isu seputar perempuan atau isu lain yang ditilik dari sudut pandang perempuan. Seharusnya ada rubrik khusus untuk mengupas isu yang ditulis perempuan secara rutin. Ini dilakukan media sebagai upaya afirmatif yang mendorong tertanamnya budaya membaca dan menulis di kalangan perempuan. Media menuntut perempuan untuk terbuka terhadap literasi media yang sedang mewabah.

Advertisement

Masyarakat sudah terlanjur terkungkung dengan anggapan bahwa perempuan tidak diperbolehkan keluar dari lingkaran domestik. Ini menyebabkan perempuan minim dengan pengalaman, aspirasi, dan pendapat tentang persoalan yang tengah mengemuka. Dengaan demikian, kolom opini yang ada di media cetak cenderung diisi para lelaki yang gemar berargumen dan beradu akal. Lelaki memamerkaan kepiawaian mereka meramu kata dan menggiring masyarakat untuk tunduk pada argumen yang mereka pegang. Sedangkan perempuan masih terbatas yang mau meluangkan waktu untuk sekadar menceritakan kisah yang mereka alami ke media cetak. Seharusnya, perempuan berani beraksi untuk mengumandangkan isu kritis kesenjangan gender, persoalan menyangkut anak, dan isu-isu yang mengelilingi kehidupan perempuan di media cetak. Perempuan saat ini harus mampu berkaca dari kiprah yang dijalankan Kartini. Kartini secara lantang mendokumentasikan setiap aktivitas yang ia laksanakan lewat tulisan. Kartini percaya bahwa tulisan merupakan upaya untuk merekam keabadian. Dengan tulisan yang dihasilkan, perempuan akan dipandang unggul dibandingkan perempuan lain dan para lelaki. Peradaban yang ada juga semakin maju jika dihiasi para perempuan cerdas yang menjunjung budaya menulis.

Bila ingin mengetahui penyebab kurangnya perempuan mengasah kemampuan menulis lewat pemanfaatan kolom opini yang ada di media cetak bukan hal yang mudah. Kebenaran mengenai apakah ruang publik hanya diperuntukkan bagi lelaki atau memang perhatian utama media adalah meloloskan tulisan laki-laki belum bisa terjawab. Semua itu seperti awang-awang yang penuh misteri.

Seringkali, perempuan berdalih jika kesibukan memaksa mereka untuk menunda aktivitas menulis yang sebenarnya memberikan segudang manfaat. Waktu yang mereka miliki diserahkan kepada sekelumit tanggung jawab yang dibebankan kepada perempuan. Masyarakat terbiasa mengkonstruksikan perempuan untuk berkutat mengurusi rumah tangga yang berhubungan langsung dengan memasak, menangani anak, dan berdandan. Tersitanya waktu itu merampas kegiatan menulis yang harusnya digencarkan perempuan. Kemauan menulis yang mulanya menggebu, kian lama terenggut oleh menumpuknya kegiatan dari fajar hingga ditutupnya malam.

Sejak kecil, masyarakat menutup kesempatan para perempuan untuk percaya diri dan tampil di muka umum. Akibat yang dipetik adalah para perempuan merasa canggung dan rendah diri terhadap kemampuan menulis yang mereka miliki. Sehingga, jika para perempuan telah menelurkan tulisan, karya tersebut hanya disimpan untuk konsumsi pribadi. Semua ini merupakan imbas dari perbedaan pendidikan yang dienyam laki-laki dan perempuan. Perempuan dipaksa memupus harapan tentaang munculnya karya mereka di media cetak.

Minat baca yang rendah pada perempuan juga turut menyumbang seretnya publikasi tulisan perempuan di media cetak. Perempuan dalam mengakses informasi di media cetak lebih terbatas dibandingkan laki-laki. Ini bisa disaksikan pada perempuan yang berasal dari kalangan bawah. Perempuan lagi-lagi ditempatkan sebagai sosok yang tidak berhak mencapai posisi unggul.

Media juga berperan mengarahkan masyarakat untuk berpikir bahwa perempuan hanya layak menjadi objek di media cetak. Coba tengok judul-judul berita yang menghiasi surat kabar harian. Kepasifan perempuan selalu dijunjung dan dipertahankan media. Media lantas mengeruk keuntungan dari perempuan sebagai objek. Kepentingan bisnis merupakan motif di balik penempatan perempuan sebagai objek media.

Mari Menulis

Helene Cixous merupakan tokoh feminisme postmodern yang menggalang usaha bahwa ketika perempuan berhasil meluapkan segala sesuatu yang dia jalani lewat tulisan, maka perempuan tengah menjalankan kultur yang kuat untuk mengubah nasib mereka. Saran yang dilontarkan Cixous adalah mengajak perempuan giat serta gemar menulis dan membaca sebagai langkah yang membantu para perempuan untuk menciptakan teks dan masuk ke dalam teks itu sendiri. Nantinya, teks itu akan beralih rupa sebagai catatan sejarah mereka sendiri.

Dalam buku karangan Rosemarie Putnam Tong yang berjudul Feminist Thought, Cixous menawarkan sebuah faktor yang mengharuskan penulisan feminin dapat menunjukkan eksistensi. Menulis dianggap sebagai wujud pilihan lain tentang hubungan, persepsi, dan ekspresi perempuan. Menurut Cixous menulis dinilai sebagai tindakan revolusioner. Apabila seorang perempuan mengharapkan pergantian suasana politik dan sosial, Cixous mengajukan pernyataan yang meminta perempuan untuk menulis. Fondasi struktur patriarki dan kapitalis dapat dirobohkan lewat kemunculan tulisan perempuan. Dalam hal ini adalah struktur bahasa yang telah dibangun dan menindas: struktur yang represif atas pikiran dan narasi yang kita gunakan dalam mengorganisir hidup kita.

Analogi yang diterapkan Cixous tentang tulisan perempuan adalah tulisan disandingkan seperti sungai herclitus yang dinamis dan selalu mengalami pergerakan. Tulisan maskulin diklaim tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan yang melanda kehidupan sosial lantaran kesan resmi yang tersemat.

Dalam buku tersebut juga dijelaskan bahwa Cixous juga menarik banyak hubungan antara seksualitas dalam tulisan maskulin laki-laki dan seksualitas dalam tulisan feminis perempuan. Seksualitas laki-laki dianggap sangat membosankan dalam hal keterpusatan, singularitasnya dan falogosentrisnya. Laki-laki selalu menulis menggunakan “tinta hitam” dan sangat hati-hati mengutarakan pemikiran mereka di dalam struktur yang didefinisi dan diberlakukan dengan sangat ketat.

Perempuan dalam menyusun dan merangkai kata menjadi tulisaan yang layak baca lebih fleksibel daripada laki-laki. Seksualitas perempuan mengandung kenikmatan yang tidak membosankan. Kompleksitas yang diangkat perempuan tidak ajeg dan tidak terbataas. Apapun yang berkelabat di pikiran akan langsung dituliskan tanpa berpikir panjang. Sehingga, perempuan dikenal piawai memainkan dan merekam kenangan lewat tulisan. Bisa dibilang ini karena perempuan gampang mengekspresikan perasaanya. Apapun dapat diuntai menjadi bacaan oleh para para perempuan. Perempuan bisa menulis tentang takdir, pengalaman, petualangan, perjalanan, penyeberangan, kebergegasan, kebangkitan, kesadaran yang tiba-tiba dan terus menerus, tentang zona malu-malu dan terus terang.

#MerdeKamu #MerdeKamu #MerdeKamu

Tulisan kaum feminis lebih terbuka dan lebih beragam, bervariasi dan penuh dengan ritmik dan kenikmatan, dan yang lebih penting penuh dengan kemungkinan. Perempuan menulis dengan “tinta putih” dan membiarkan kata-katanya mengalir kemanapun yang diinginkanya. Menurutnya, di dalam tulisan perempuan terdapat keceriaan dan optimisme yang tidak ada dalam tulisan maskulin.

Kehadiran media cetak menyuguhkan secercah keuntungan yang bisa dipetik perempuan. Perempuan harus rajin menulis di media cetak, sehingga bisa mengawali jalan untuk berekspresi. Tulisan yang dimuat juga mengucurkan sejumlah uang ke pundi-pundi perempuan. Menulis jugaa bisa dijadikan obat yang mengatasi permasalahan yang berkecamuk. Teori tidak lagi menjadi poin penting untuk menulis. Berlatih langsung merupakan aksi nyata yang harus ditempuh agar perempuan terbiasa menulis di media cetak.

#MerdeKamu