Duduk disebuah warung kopi komersil di sebuah mall di Jakarta sendirian, ternyata membangkitkan perasaan sentimentil tersendiri. Memilih duduk di dekat jendela, dan melihat keramaian lalu lintas diluar serta mendengar hingar bingar obrolan dari tamu yang lain, tanpa disadari membuat kita terjebak dalam memori nostalgia.

Bercermin kepada kehidupan yang ada sekarang, dengan perkembangan teknologi yang kian pesat membuat hal-hal yang dulunya nyata berubah menjadi maya. Kalau sering dengar jargon ini :

Teknologi mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat

Pasti bisa memahami perasaan ini. Dengan teknologi sekarang, kita juga dituntut untuk berusaha menyejajari arus perkembangan yang ada. Ikutan yang sedang tren, yang sedang populer. Otomatis, apabila sekitar kita mencoba hal yang baru dan menurutnya menarik, kita jadi ikutan latah dan mencoba hal tersebut. Apalagi kalau banyak orang lain yang sudah lebih dulu mencoba dan jadi pengguna setia. Rasanya kita seperti 'tertinggal' jika tidak ikutan.

Jargon diatas tadi menjadi terasa semakin nyata. Dulu, akhir tahun '90an, kebutuhan telekomunikasi hanya sebatas telpon rumah atau pager yang digunakan fungsinya benar-benar untuk menyampaikan kabar berita atau bertukar sapa. Di tahun 2000an, mulai ada yang namanya handphone a.k.a telepon genggam dimana fungsinya upgrade jadi bisa portable alias bisa dibawa kemana-mana. Kemudian, semuanya berkembang dengan sangat cepat. Apalagi teknologi komunikasi yang semakin penting dan menjadi kebutuhan primer bagi semua orang.

Advertisement

Ternyata perkembangan teknologi tersebut, berimbas kepada gaya hidup bermasyarakat. Dulu, persahabatan itu begitu simple. Bersahabat karena memiliki kesukaan, hobi atau visi misi yang sama. Persahabatan terjalin dengan meluangkan waktu bersama untuk melakukan aktivitas bersama-sama. Tapi sekarang, persahabatan yang tadinya ada karena kita beraktivitas bersama, ngobrol dan menghabiskan waktu bersama. Meluangkan waktu untuk menceritakan apa yang terjadi dan kita suka, harus hilang terbenam dengan arus teknologi.

Mudahnya, kita bilang berteman atau bersahabat dengan seseorang hanya karena kita saling follow di Facebook, Instagram, Twitter, Myspace dan media sosial lainnya. Kita bisa bilang kita mengenal banget sahabat kita, hanya berdasarkan update-annya di Path atau status BBM. Ngakunya sering ngobrol, padahal jarang ketemu dan hanya ngobrol via Whatsapp atau Line, itu pun di grup. Bilangnya sahabatan akrab, tapi untuk tanggal ulang tahun teman perlu diingatkan oleh reminder Facebook dan mengucapkan via wall status dan mention orangnya. Jejak langkah kaki yang dulu tercetak dilantai mall/public area bersama-sama, sekarang digantikan dengan check-in location di Foursquare.

Coba hitung, berapa kali dalam sebulan dihabiskan bersama dengan teman-teman di dunia nyata? Pastinya lebih sering berkomunikasi di dunia maya. Kalaupun janjian di mall, semuanya sibuk mainan dengan gadget masing-masing. Entah update moment, chatting sama pacar atau gebetan, bahkan main game. Quality time? Bisa lah dibangun di dunia maya.

Alhasil, jargon diatas terbukti nyata. Secara follower, friendlist dan lain-lain di media sosial bisa terus bertambah. Tapi afeksi dengan manusia lainnya berkurang. Sebagian orang, sibuk mengatur image untuk komunitas barunya di dunia maya tanpa mengindahkan bahwa persahabatannya di dunia nyata menjadi renggang. Padahal, dalam Ilmu Psikologi kebutuhan manusia dibagi menjadi beberapa bagian, salah satunya adalah kebutuhan untuk berafiliasi/kebutuhan sosial yang bisa dahulu harus dicapai dengan berinteraksi sesama manusia. Sekarang, berinteraksi memang menjadi lebih dimudahkan, tapi kebutuhan sosial tersebut juga didukung dengan belongingness atau love needs yang ditunjukan dengan afeksi-afeksi nyata. Dengan teknologi yang ada sekarang, berinteraksi yang kurang intim menjadikan pedang bermata dua. Bisa memenuhi kebutuhan bersosialisasi, tapi bisa membuat kita merasa diasingkan dari grup jika tiba-tiba melihat beberapa teman kita update moment bersamaan tapi tanpa menyertakan kita.

Tidak jarang, karena memantain hubungan melalui sosial media atau messenger salah paham juga kerap terjadi. Ekspresi perasaan atau tujuan berbicara lawan bicara dengan cara penyampaian melalui tulisan sering kali membuat suatu masalah malah menjadi lebih besar. Belum lagi masalah sindir menyindir di sosial media yang kerap dilakukan oleh zaman sekarang, yang dituju siapa yang sakit hati berjuta-juta orang.

Rasanya, bersahabat dengan teknologi harus bijak dalam bersikap juga. Kalau tidak, nanti kita justru sering merasa diberikan harapan maya daripada afeksi nyata. Nah, abis ini buruan bikin janji untuk reunian sama semua teman deh, terus habiskan waktu bareng dengan satu kondisi : gadget taruh ditengah meja, yang ngambil gadget duluan sebelum acara kumpul bareng selesai harus bayar bill-nya!

Have a nice day! x