Waktu, satu per satu merubah keadaan. Semakin memberi jarak antara kau dan aku. Skenario baru, terbentuk, berjalan seolah tak mengingat lagi cerita masa lalu. Seketika, pernyataan yang membuat mu kini semakin menjauhi ku. Namun, bukan itu yang melatarbelakangi adanya jarak diantara kita ini.

Sahabatku, izinkan aku menyampaikan kata yang kini tak bisa lagi ku selipkan dalam catatan harian cerita kita. Tak ada lagi bahasan, bual-an, candaan yang sampai mewarnai hari kita. Kini hanyalah diam yang berkembang perlahan menutup, seolah mulai menghilangkan dan menjauhi cerita ini.

Seberapa burukkah aku dimatamu? Seberapa besarkah salahku padamu? Hingga tanpa alasan kau mendiamkanku.

Hai, inilah pertanyaan yang sering menghanyutkan pikiranku hingga berujung pada menyalahkan diri ku sendiri. Andai kau tahu, jika memang kejadian itu ialah salahku maka akulah orang terbodoh yang tak sengaja meluapkan emosi hebat. Mungkin kah ini yang membuat begitu burukkah aku dimatamu? Memang kadang lidah ini lebih tajam daripada mata pisau. Secara tak sengaja, saat itu mungkin terlalu menyakiti hatimu.

Ingatlah selalu, aku tak pernah dengan sengaja membuat sedih dan menyakiti hatimu. Kau pun tahu bagaimana aku, tak jarang kau mendapati ku mengeluarkan amarah tanpa alasan. Kau telah sabar menghadapiku sejak sekian lama kau mengenalku. Mungkin ini puncak dimana kau kehabisan rasa sabar terhadap sifat ku. Namun, waktu hanya bisa berjalan satu kali dan tak pernah bisa kembali lagi.

Advertisement

Dalam diammu, semoga karena kau hanya ingin menyendiri dengan waktumu, bukan untuk benar-benar menjauhiku.

Aku akan mengerti jika kau kini mendiamkan ku. Tanpa kata, tanpa ucap, dan tanpa sapa, hal ini yang setiap hari aku alami dan amati. Kau terlihat acuh hanya dengan ku saja, tapi tidak dengan yang lain. Terlihat tak berdayanya aku, ketika harus melihatmu setiap hari dimana kita masih sering melihat satu sama lain karena kita masih dalam satu atap rumah bersama-satu kosan. Tak jarang, mereka yang melihat kita menanyakan ada apa antara aku dengan mu. Jawaban ‘tidak apa-apa’ adalah andalan ku agar tak memperpanjang pertanyaan.

Kini, kita dekat tetapi terasa jauh. Rasanya menatap wajahmu saja membuat ku trenyuh. Aku harus kehilangan semangat pada apa yang menjadikan aku semangat hidup selama ini. Aku harus berusaha seolah tak terjadi apa-apa diantara kita. Tetapi aku terlalu rapuh untuk sebuah kata bertahan, hingga aku pernah begitu merasakan benar-benar kehilangan. Bagaimana denganmu? Benarkah kau menjauhiku? Namun, aku akan selalu menunggu hingga waktu menyendirimu telah usai. Sampai kapankah?

Izinkan aku menemuimu, demi menyelamatkan keadaan yang hampir mati ini.

Sebelum jatuh terlalu dalam, dan masa ini menghilang, bisakah kita bicarakan keadaan sebenarnya. Jika ini masalah perasaan yang tak bisa memaafkan, izinkan aku tahu apa sebab kau mengabaikanku. Aku akan dengan senang hati bila kau membuka apa yang terpendam selama ini. Sejauh ini, sudah terlalu lama kita tak saling bicara. Sebentar saja, ku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi agar tiada prasangka. Tahukah kau, betapa kuatnya prasangka ini memenuhi pikiran, hingga ku lemah melalui setiap hari demi hari tanpa hiasan canda tawa dari mu.

Aku hanya ingin kembali dengan cerita masa lalu, dimana masih baik-baik saja. Kau tahu betapa merindunya aku akan waktu bersama, berbicara apa saja hingga lelah bibir ini berkata. Hati ini sudah terlalu lama menyimpan rindu pada sebuah panggilan nama dan hal-hal kecil yang biasanya kita lakukan bersama. Sungguh terlalu banyak kenangan yang ingin ku selamatkan. Banyak hal yang ingin ku lalui bersama. Namun, waktu sudah merubah masa, yang terjadi sekarang tak benar-benar aku inginkan, bukankah kau demikian?

Jabat tanganku, sebelum kau benar-benar pergi dan memutuskan untuk tak pernah kembali. Ketahuilah aku akan menoleh ketika kau ingin kembali lagi, karena aku masih sangat peduli.

Sahabatku, hanya sesingkat kata maaf yang bisa kuucapkan. Jika benar-benar kau ingin pergi, biarkan aku sejenak menemuimu, menjabat tanganmu dan mungkin untuk yang terakhir kalinya. Aku tak akan pernah bisa pergi untuk menjauhimu, tidak pernah ingin. Hingga saat ini pun diam-diam aku masih mempedulikanmu, walau kini kita benar-benar tak satu irama.

Mungkin kau kini menemukan orang-orang baru, dan mencoba akrab dengannya. Begitu juga dengan aku. Tetapi aku masih saja menginginkan denganmu. Kadang aku takut, jika kau bisa bahagia dengan orang lain. Bukan apa-apa, tetapi karena aku tak bisa membahagiakan mu dan membiarkanmu pergi bersama yang lain. Teman boleh saja datang dan pergi tanpa permisi, tetapi seorang sahabat sejati walau pergi sejauh apapun ia akan tetap selalu dalam hati, karena ia sangat berarti dalam hidup seseorang. Begitu juga dengan kau, yang akan selalu berarti dalam hidupku.

Ingatlah seberapa banyak kenangan yang akan tertinggalkan. Hal-hal kecil yang menjadi kebiasaan dan menjadi sangat berarti bagi ku. Tegakah kau meninggalkan hal itu dan menutup buku harian cerita kita? Izinkah aku mengenang perjalanan panjang yang kita lewati bersama, jika kini kau benar-benar memutuskan untuk pergi. Dan jika kau ingin kembali, aku akan selalu menerima mu kembali, karena aku tidak akan pergi menjauhimu sekali pun.

Sahabatku, tiada kata yang bisa terucap selain kata maaf. Aku akan pergi dari sisimu jika benar-benar kau inginkan. Tetapi ketahuilah aku tidak akan pernah pergi menjauhimu karena aku masih sangat peduli denganmu, meski kau tetap mengabaikanku. Maaf karena diam-diam aku akan tetap mengawasimu. Dan maaf jika aku tetap keras kepala menunggumu.

Sehebat masamu dan masaku, aku tak akan membunuh kenangan bersamamu.

Dariku yang tak bisa menyeru dihadapanmu.