Menurut sebagian besar para ahli bahasa, merdeka artinya bebas dari penghambaan, penjajahan, lepas dari tuntutan, tidak terikat, berdiri sendiri, dan tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu. Sangat lengkap, sangat jelas, dan sangat definitif. Tapi bagi saya, merdeka itu jauh lebih sederhana. Jika pendapat para ahli bahasa ibarat gaya hijab modern yang perlu dilipat sana-sini namun tetap menarik dan syar’i, sedangkan kalimat saya hanyalah jilbab bablasan yang bahkan tak perlu satu peniti-pun untuk mengenakannya. Bagi saya, merdeka adalah bebas dari segala pertanyaan “Mana Gandengannya?”, “Kapan Nikah?”, “Kapan Nyusu Merit?”

Sebelumnya perkenalkan, saya adalah seorang karyawan swasta yang bekerja di bidang jasa keuangan dan seorang copy writer freelance. Di usia yang hampir menyentuh seperempat abad, saya masih menyandang status sebagai seorang single murni, bukan single taken. Saya tidak pernah berminat untuk pacaran (lagi) karena menurut saya hal tersebut hanyalah membuang-buang waktu. Saya juga pernah mengalami patah hati yang sangat hebat dalam hubungan percintaan yang sempat membuat saya jatuh sejatuh-jatuhnya.

Disini, saya tidak akan membahas soal patah hati saya, soal kenapa saya enggan pacaran, apalagi membahas soal pekerjaan utama dan freelance yang hampir menyita sebagian besar waktu saya. Tidak. Saya hanya ingin sedikit bersuara tentang zona kemerdekaan saya seorang single bahagia.

Bahagia?

Pembenaran!

Advertisement

Tapi serius. Saya bahagia. Dunia saya baik-baik saja. Sunrise masih tetap mempesona, demikian juga dengan sunset. Bunga mawar yang mekar masih tetap cantik dan harum. Saya juga masih bisa menikmati indahnya langit tanggal 6 Agustus kemarin meskipun agak terhalang mendung.

Ya, saya adalah seorang single bahagia. Saya hidup di tengah-tengah keluarga yang harmonis. Saya memiliki sahabat-sahabat baik yang tidak pernah membuat saya merasa kesepian. Saya bergabung dengan beberapa komunitas yang disana saya bisa mengembangkan minat dan bakat yang saya punya. Saya mempunyai pekerjaan tetap dan freelance, yang karenanya saya tak pernah mengalami kesulitan finansial yang berarti dan masih bisa membangun pondasi untuk masa depan. Lantas atas alasan apa saya tidak bahagia?

Jodoh? Duh!! Saya meyakini bahwa akan selalu ada laki-laki baik untuk wanita yang senantiasa memperbaiki dirinya. Demikian pula sebaliknya, akan selalu ada wanita- wanita baik untuk laki-laki yang baik. Jadi saya tidak pernah risau, galau, atau takut ketika saya akan memasuki angka 25 dengan status yang masih single. Semua sudah diatur ole Tuhan. Tapi bukan berarti saya tidak berusaha. Saya sedang berusaha. Dan setahu saya, perkara jodoh khususnya untuk wanita, cukup kita terus memperbaiki dan memantaskan diri serta membangun silaturahim yang luas dan baik. Selebihnya, biar tangan Tuhan yang bekerja.

Sejujurnya, saya terintimidasi dengan pertanyaan “mana pacarnya?”, “kapan nikah”, dan pertanyaan-pertanyaan sejenisnya. Sialnya, pertanyaan itu kemudian berkembang menjadi obrolan panjang yang tidak pernah putus. Ingin sekali rasanya ditanya tentang pekerjaan, sedang sibuk apa, atau malah ditawari bisnis. Tapi pertanyaan itu tidak pernah muncul. Seakan-akan segudang kelebihan yang saya miliki (bukan maksud sombong, hehe), tidak akan pernah berarti sebelum saya menikah. Seakan-akan tujuan hidup itu hanya tumbuh besar, menikah, mempunyai cucu, meninggal. Jadi menikah itu adalah satu-satunya prestasi yang bisa diagung-agungkan. Semakin cepat menikah, artinya ia hebat. Kalau tidak menikah-menikah juga,berarti ia ***** ah sudahlah…

Okee,, maaf bila saya terlalu berlebihan. Kalian terlalu menyayangi saya sehingga amat khawatir atas status saya, bahkan melebihi kekhawatiran saya atas diri saya sendiri. Tapi tolong, rasa empati itu bisa disalurkan dengan cara yang lebih elegan. Mencarikan jodoh untuk saya misalnya. Hahaha. Dengan bertanya dan terus bertanya ”kapan nikah?”, rasanya saya ingin balik menanyakan, ”kapan kalian meninggal?” Untungnya saya sadar kalau itu tidak sopan. Terkutuk kalau sampai ucapan itu keluar dari mulut saya.

Wahai kalian, izinkanlah saya merasakan damainya kemerdekaan tanpa pertanyaan “kapan nikah?”. Izinkanlah saya fokus berkarya. Izinkanlah saya memperbaiki dan memantaskan diri hingga menjadi insan yang sebaik-baiknya. Menikah memang penyempurna agama, namun dengan belum mampu melakukannya, tidak serta merta membuat saya menjadi makhluk paling nista sedunia. Kelak, ketika saatnya tiba, jodoh pasti bersua.