Tepat hari kamis bulan lalu (13/10/2016), Thailand berduka atas meninggalnya Raja Bhumibol Adulyadej. Warga di Indonesia pasti sudah melihat liputan di TV nasional bagaimana berdukanya masyarakat Thailand ditinggalkan sosok yang sudah mereka anggap seperti “manusia setengah dewa”.

Raja Bhumibol bertakhta selama 70 tahun lamanya (tutup usia: 89 tahun) dan menjadikannya raja yang paling lama berkuasa di dunia, setidaknya dalam kurun abad ke 18 hingga sekarang. Karena beliau begitu dekat dengan masyarakat, warga Thailand merasa bahwa beliau merupakan Ayah dari semua orang.

Upacara duka atas wafatnya beliau dilaksanakan di seluruh penjuru Thailand. Saya ikut menyaksikan upacara duka di universitas tempat Saya belajar sekarang. Semua warga MFU (Mae Fah Luang University) diundang untuk menghadiri upacara tersebut. Seluruh peserta upacara diwajibkan memakai pakaian serba hitam, terkecuali mahasiswa S1 yang memakai seragam hitam-putih. Upacaranya memang hanya sekitar 20 menit tetapi berjalan sangat khidmat. Dengan menghadirkan foto Raja Bhumibol yang besar di atas sebuah panggung yang besar pula, para warga kampus mengheningkan cipta dan mengirimkan doa. Saya pribadi dapat merasakan kesedihan yang mereka.

Masyarakat Thailand terus menunjukkan kedukaan mereka di dunia nyata maupun dunia maya. Masyarakat di dunia maya mengganti semua foto profil media sosialnya dengan warna hitam (tanpa foto) atau memakai foto berefek abu-abu (grayscale effect). Warga asing yang kini sedang tinggal di Thailand pun ikut melakukan demikian untuk menunjukkan rasa simpati.

Sehari setelah wafatnya Sang Raja, Kerajaan Thailand mengeluarkan perintah untuk seluruh warganya selama satu tahun masa duka. Kantor-kantor pemerintahan wajib memasang bendera setengah tiang selama 1 bulan dan memberhentikan kegiatan hiburan umum seperti konser dan lain-lain selama 30 hari. Tampilan media online Thailand, seperti website Bangkok Post, universitas-universitas, dan bank-bank Thailand berubah menjadi warna abu-abu. PNS atau pegawai pemerintahan juga diwajibkan mengenakan seragam hitam selama 1 tahun lamanya. Pekerja pada sektor swasta diperbolehkan menyesuaikan dengan keadaan.

Advertisement

Di MFU, semua acara non-akademik diundur pelaksanaannya selama 30 hari. Namun, banyak mahasiswa memilih untuk mengundurkan jadwal acara mereka hingga pergantian tahun, seperti apa yang dilakukan Permitha (Perhimpunan Mahasiswa Thailand) di MFU yang mengundur jadwal kegiatan tahunan mereka ke tahun 2017 yang sebelumnya dijadwalkan akan digelar tanggal 19 November tahun ini.

Dari kesedihan yang mereka rasakan atas kehilangan sang Raja, kita bisa pastikan betapa arif, bijaksana, dan adilnya beliau selama masih hidup. Kedudukan raja akan segera digantikan setelah masa berkabung berakhir. Kita doakan saja semoga raja Thailand selanjutnya akan sama bijaksananya seperti pendahulunya. Tidak lupa pula harapan besar agar Indonesia juga selalu dikaruniai pemimpin yang melindungi dan mengayomi.