Catatan 1.400 hari di tanah perantauan.

Entah ada apa dibenakku dulu, mau-mau saja menghabiskan masa muda di dunia baru dengan bahasa baru. Mempertaruhkan masa keemasan, saat di mana hampir semua anak muda di ibu pertiwi sibuk mencari berganti pasangan dan berfoto-foto asik di restoran baru. Sedangkan aku?

Hampir empat tahun lamanya aku telah merantau meninggalkan tanah air, mengadu nasib, dan mempertaruhkan masa depan.

Usiaku 19 ketika aku menginjakkan kaki di jerman. Semua terasa asing, dan semua baru.

Menegangkan, asik, sekaligus menakutkan. Bayangkan saja, mau pesan burger di McD saja, harus pikir panjang dulu bagaimana grammarnya. Coba di Indonesia, mentok-mentok bingung mau pesan burger yang mana.

Ketika usiaku 20 tahun, setahun setelah kedatanganku di Jerman.

Saat di mana aku baru mengerti bagaimana cara beradaptasi, mengerti apa yang aku mau di Jerman, berhasil mengetahui pentingnya menghilangkan adat asia untuk bertahan hidup di tanah ini. Ketika aku pulang Indonesia, perbincangan sudah ke arah skripsi dan kerjaan.

Ketika usiaku 21 dan 22, ketika semua teman-temanku asik berfoto memakai toga.

Advertisement

Mereka telah selesai dengan tanggung jawabnya. Aku ada di fase awal bangku perkuliahan, belajar mulai merakyat di Jerman, jatuh bangun mencari teman, dan berjuang mengerti professor mengajarkan apa.

Ketika pulang Indonesia untuk liburan, mereka bertanya "Kapan lulus?". Aku hanya bisa tersenyum, tersenyum sangat lebar. Belum mampu aku melihat akhir, ketika semua temanku sudah bisa mengakhirinya — ironis memang.

Dan yang lebih seru, perbincangan yang dulunya mengenai karir sekarang perlahan beralih mengenai pasangan hidup dan masa depan. Indonesia menjadi asing dan aneh bagiku.

Sekarang 23 tahun umurku, ini tahun ke 5 setelah lulus SMA.

Dan sampai detik ini, aku (masih) hanya lulusan SMA. Baca: Belum lulus-lulus. Sekarang ketika aku buka sosial media (Instagram atau Path), teman-temanku bukan lagi hanya bergantian pamer foto dengan toga, atau makan di restoran bagus dengan pacar, atau perayaan ulang tahun, atau kerjaan baru, atau jalan-jalan dengan keluarga.

Mereka mulai bergantian pamer mengenakan gaun merah (baca : lamaran). Entah apa itu semua, mungkin itu fase yang belum kulalui, atau mungkin fase yang tak akan ku lewati.

Sekarang aku duduk di kereta, mentap nanar dunia luar melalui jendela kereta, mencoba kilas balik. Melihat 1.400 hariku terakhir. Aku tak mau bilang 1.400 hariku ini di Jerman kulalui jauh lebih susah dibandingkan dengan teman-temanku di Indonesia.

Aku hanya mengambil keputusan yang membuat 1.400 hariku berputar dengan cara yang berbeda. Hanya itu.

Frankfurt am Main, 27 Juni 2015.