Dulu, orang pertama yang kutahu paling tangguh dan perkasa adalah Bapak. Anak mana yang tidak mengagumi bapaknya setelah apa yang ia rela lakukan demi anaknya. Bapak dulu mengajari aku shalat, bacaan surah pendek, pembuat mainan yang handal, pekerja keras, dan banyak hal lain tentang Bapak yang tidak bisa aku sebutkan satu per satu.

Tapi itu dulu. Sekarang anak Bapak sudah tumbuh jadi pria yang InsyaAllah dewasa. Yang artinya tidak bisa berpura-pura jika tidak terjadi apa-apa di antara kita. Andai aku bukan orang yang pengecut, mungkin sudah dari dulu kutatap tajam mata Bapak dan bicara empat mata. Tapi Pak, ada beberapa hal yang harus kusampaikan agar Bapak sadar kalau kita tidak bisa pura-pura lagi.

Mengapa Bapak berubah?

Semenjak kejadian sewaktu aku kelas 1 SMA, dengan mata kepalaku, dan mata kepala sahabat-sahabatku! Aku melihat Bapak mempermalukan diri sendiri dan diriku di hadapan sahabatku sendiri. Andai aku lebih berani, aku pasti sudah melayangkan pukulan ke wajah Bapak dan mempermalukan Bapak lebih buruk lagi. Tapi tidak. Bapak tidak pernah mengajariku hal buruk.

Kuceritakan itu semua pada ibu. Di mana pertama kalinya aku melihat ibu sekuat tenaga menahan air mata agar tidak menetes. Kenapa Bapak tega melakukan semua ini? Siapa dia? Pertanyaan itu masih belum berani kutanyakan.

Mengapa kita semua berpura-pura?

Bahkan sampai detik ini pun, bapak, ibuk, aku, dan adek terus berpura-pura bahwa tidak ada hal yang terjadi di rumah kita. Walaupun kadang bapak jarang ada di rumah. Semua orang terdekat juga menanyakan hal yang sama. Jawaban kita: A, B, C, dan selalu berbeda-beda saat orang menanyakannya. Semua demi jawaban yang aman. Karena kita semua baik-baik saja.

Mengapa Tuhan diam saja dengan apa yang kita lalui selama lebih dari 5 tahun ini?

Advertisement

Bapak sangat expert soal agama. Bahkan setiap kucoba menyaingi Bapak soal agama, Bapak semakin jauh di depanku. Tapi mengapa Tuhan diam saja, tanpa memberikan hidayah-Nya agar kita keluar dari situasi (masalah) ini?

Bapak bilang, seorang hamba akan berada dalam jarak paling dekat dengan Tuhan saat bersujud. Kusisipkan doa di setiap sujudku untuk Bapak. Agar Bapak jadi bapak yang dulu kukenal. Atau mungkin Tuhan diam karena aku sering khilaf menyisipkan doa yang tidak baik untuk Bapak?

Mengapa aku merasa Bapak ingin meninggalkan kami?

Kenapa pak? Bapak selalu membiayai hidup kami. Tapi kami tidak bisa bohong bahwa kami kehilangan sesuatu di hidup kami, Bapak sendiri. Aku merasa tidak siap untuk menjadi sosok utama yang harus memikul tanggung jawab keluarga ini, kalau Bapak benar-benar melakukan hal itu. Meninggalkan kami demi dia. Sebenarnya itu bukan perasaan. Ibu menceritakan semuanya saat Bapak bicara dengan ibu.

Dan kalau itu benar…

Terimakasih Pak, atas semua yang telah Bapak berikan padaku. Dari ilmu, agama, pelajaran hidup, dan semua yang Bapak ajarkan. Aku akan terus mendoakan Bapak karena bagaimanapun juga, darah Bapak mengalir di darahku. Karena nantinya, aku akan minta restu Bapak soal apapun. Karena aku tidak bisa ikut Bapak. Karena siapa yang akan menjaga keluarga kecil yang Bapak bangun.

Karena tidak ada namanya mantan Bapak dan aku tidak punya hak untuk membenci Bapak walaupun itu benar. Karena lebih banyak kenangan saat bertemu dengan Bapak sekarang. Aku akan terus jadi anakmu walaupun aku tidak suka itu.