ini berawal saat aku berada di dalam kamar, entah apa yang aku pikir sampai membuat kepala serasa memikul beban beberapa ton. Kebanyakan mendengar orang lain menasihati, seakan-akan mereka berada di posisiku membuat aku memutar alur hidupku, alur yang dulu pernah ku rancang secara detail sekarang hanya tinggal angan dan penyesalan.

Ku pastikan sekarang aku berada di warung kopi, sembari memesan kopi hitam, ku hisap tembakau yang sudah aku bakar. Di balik asap tembakau aku berharap menemui diriku sendiri dan bercengkrama dengannya.

Banyak perdebatan saat aku berbincang dengan diriku, namun semua terhenti saat pelayan menaruh kopi di depanku. Ku lihat dengan jelas hitam pekat berada pada wadah seputih itu. Aku mulai menyimpulkan, sembari menenggak kopi. Sebaik apa pun hati dan pikiranku pasti akan ada sisi buruk, namun tergantung diriku akankah menghabiskan sisi gelap itu dan yang terlihat hanya gelas putih atau menyisakan sedikit sisi gelap agar terlihat lengkap kombinasi warnanya.

Setiap tegukan koipi berwarna hitam itu, ada beberapa yang terasa manis. Walau lebih dominan untuk rasa pahit yang ada. Setidaknya seperti kehidupan, semua ada masa sulit dan senangnya. Tak melulu kita mendapatkan cobaan berat. Di suatu saat kamu akan menerima sisi yang indah.

Ketika kamu hanya menyimpulkan warna hitam pekat yang ada, tanpa menilik sisi lainnya. Kamu akan berhenti di situ, tanpa tau kesempatan apa yang bisa kamu manfaatkan.

Advertisement

Memang butuh waktu untuk menghabiskan bubuk hitam itu apalagi saat panas. Setidaknya tunggulah sampai saatnya, untuk bisa menikmatinya.