Belum hilang sama sekali. Bila ada kata di atas rasa sakit yang dapat menggambarkan perasaanku saat itu, mungkin bisa kugunakan untuk sekedar menceritakan seberapa terpuruknya aku setelah kehilangan kamu.

Tahukah kamu, hai pribadi yang sebelumnya datang dengan segala kebaikan, kemudian menghilang tanpa meninggalkan satupun pesan? Bahwa tak ada seorang pun yang akan baik-baik saja setelah kehilangan dia, yang sebelumnya menjadi tempat hatinya percaya? Begitupun aku!

Sekalipun kamu sendiri tahu bahwa aku bukanlah wanita lemah yang mudah tunduk pada masalah, tapi ketika kenyataan membawaku pada luka yang dalam atas perpisahan kita, aku benar-benar tidak baik-baik saja. Ribuan doa terlantun melalui mulut dan hatiku. Aku berharap Tuhan juga adil atas perkara cinta. Lalu memberimu sedikit pelajaran berharga bahwa hati ada bukan untuk kamu siksa.

Seandainya waktu dapat diputar ulang, aku tak akan pernah seromantis Alm. Ibu Ainun, yang akan meminta tetap diperkenalkan padamu di kehidupan kedua. Tidak sama sekali! Sebaliknya, bila memungkinkan, aku akan memutar waktuku. Aku akan lebih memilih untuk menghindarimu. Saat hari di mana pertama kalinya kamu menyapaku.

Kamu harus tahu betapa sulitnya aku mencoba bangkit dari keterpurukan dan mengumpulkan serta menata kembali kebahagiaanku dari awal. Mencoba percaya lagi pada diri sendiri. Memulihkan harapan yang sempat mati selepas aku tak lagi dapat mendengar kabarmu. Berusaha untuk sibuk-sesibuknya hingga akhirnya aku bisa lupa bahwa aku dulu pernah lebih sibuk mempertahankanmu daripada membahagiakan diriku sendiri. Sungguh itu sulit! Sangat sulit! Padahal kamu sendiri tetap baik-baik saja. Atau bahkan tak pernah merasa kehilangan sebesar rasa kehilanganku.

Advertisement

Sekalipun kini aku belum benar-benar pulih, kupastikan padamu bahwa aku baik-baik saja. Karena aku tahu bahwa untuk segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, memiliki waktunya sendiri. Kalau pun aku pernah menangis untukmu, bukan berarti itu adalah jaminan aku akan menderita selamanya. Tak perlu mengkhawatirkanku. Percayalah! Aku sudah mulai terbiasa tanpa kamu.

Jadi, kumohon padamu untuk tak pernah menyapaku kembali dengan alasan apapun. Aku ingin kelak Tuhan menjawab doaku dan menyampaikan salamku untukmu. Terimakasih untuk lukanya, hai laki-laki yang tak pernah lagi menganggapku ada! Tak tahukah kamu bahwa karma itu nyata?

Semoga nantinya, tak ada seorangpun wanita yang hadir hanya untuk mengacak-acak hatimu. Kemudian pergi seperti yang kamu lakukan padaku dulu. Sekalipun saat ini aku berteman sepi, setidaknya aku tak pernah sepecundang kamu. Aku percaya Tuhan tak pernah tidur. Ada waktu dia akan menjawab doaku dan menyempurnakan kebahagiaanku.

Bila kamu membaca ini, ingatlah! Bahwa aku pernah jadi satu-satunya tempatmu pulang dan memberi dukungan saat tak ada satupun orang yang mempercayai perkataanmu. Aku pernah memberikanmu pundak untuk bersandar. Walaupun tak seberapa tegap, aku pernah sanggup menguatkanmu. Aku pernah memberikanmu pelukan saat kamu meringkuk tak berdaya di sudut kamar dengan perasaan kecewa pada siapapun yang menghilang di masa jatuhmu. Aku pernah sekuat itu untukmu.

Maka bila untukmu saja aku mampu, itu artinya aku juga akan sanggup melakukan itu bagi diriku sendiri. Pergilah sejauh kamu mau! Aku tak akan pernah menghalangi.

Karena bila bukan dari rusukmu aku berasal, itu artinya aku tak perlu mati-matian memperjuangkan kebersamaanku denganmu.