Selingkuh, manusiawi atau menyimpang?

Oh jelas secara penilaian sosial, selingkuh itu menyalahi aturan. Coba kalau ada berita-berita mengenai orang ketiga di infotainment, pasti penontonnya gemes menghujat-hujat. Katanya perempuan perebut lah, laki-laki tidak tahu diri lah. Posisi mereka selalu dikriminalisasi, ngalah-ngalahin kasus JIS.

Tapi, disini saya ingin memberi sudut pandang (sok tahu) yang berbeda. Bukannya saya pro selingkuh, bukannya saya mewajarkan yang seharusnya tidak wajar, bukan kok. Saya sudah mengumpulkan berbagai sumber dari pihak manapun dan mencoba untuk memahami kesemuanya, tidak memihak dan tidak mendiskretkan satu gender.

Mungkin sebagian besar dari kita selalu memposisikan diri sebagai korban. Rasa-rasanya, kita yang berkorban paling banyak, kita yang paling baik, kita sudah memberikan apapun, apa yang kurang? Begitu kan? Padahal, cara seseorang membalas apa yang kita beri, tidak selalu menggunakan cara yang sama dengan kita. Sedangkan dari pihak pasangannya, “padahal aku sudah bla bla bla bla” tapi ya begitulah tidak pernah disadari dan dianggap. Karena tetap saja, yang diharapkan adalah hal lain. Kesimpulannya, inisiatifnya yang tulus sepenuh hati ternyata tidak dihargai.

Kalau saya bilang, pihak yang mengaku-ngaku korban itu juga ada salahnya, boleh kan?

Advertisement

Saya cukup kaget mendengar pengakuan salah seorang laki-laki yang selingkuh karena iseng atau suka goda-goda cewek. Begini katanya, “Laki-laki itu kalau selingkuh nggak pakai hati, beda sama perempuan.” Lah, terus kenapa perempuan harus memaklumi? Perempuan juga punya aturan main lah. Begini, kemungkinannya cuma 2. Laki-laki sudah hafal kalau perempuan tersebut takkan meninggalkannya, atau perempuan tersebut memang belum worth it untuk di keep.

Bagaimana kalau kita membuka mata dan menerima kenyataan tentang adanya “seleksi alam”. Bahwa laki-laki, berhak mendapatkan yang terbaik. Banyak hal yang perlu ditinjau jika memang dia mencari untuk yang sungguh-sungguh. Terima saja bahwa laki-laki logis dan membutuhkan “ada apanya” dari perempuan. Tidak hanya laki-laki sih, semua berhak. Termasuk perempuan juga berhak mendapatkan pasangan yang mengimbanginya atau memenuhi harapannya.

Jadi, buat apa pusing-pusing mengancam, merantai, melarang-larang pacarmu, kalau sebenarnya kamu sendiri sadar bahwa kamu takut ditandingkan dengan sekian pesaing yang ada? Setidaknya kalau kamu memang tidak layak diselingkuhi atau tidak layak dijadikan sementara, kamu tidak takut rugi kehilangannya. Tapi dia yang rugi.

Sayangnya, kebanyakan dari orang-orang yang disia-siakan itu terlambat menyadari bahwa dia punya kelebihan yang elegan. Lupa, karena sekian lama waktunya sudah digunakan untuk berkorban ke orang lain, bukan untuk memupuk keeleganannya. Makanya banyak kasus-kasus mantan pacar yang melejit jauh perubahannya setelah putus, karena pada saat itulah mereka baru menyadari.

Bukan berarti saya membenarkan untuk tidak mensyukuri pasangan yang dipunyai, atau memprovokasi untuk selalu mencari yang terbaik. Sebenarnya, setiap orang itu hanya perlu pasangan yang mencukupi kebutuhannya. Laki-laki yang sudah tahu apa kebutuhannya tidak akan asal memacari perempuan hanya untuk memenuhi harga diri semata. Perempuan yang sudah tahu kebutuhannya juga tidak akan asal menerima lalu mengulang nasib yang sama.

Kebutuhan itu, bisa saja yang mengerti kesibukannya, yang sesuai dengan pergaulannya, yang tidak posesif, yang bisa dipercaya, yang siaga 24 jam, setiap orang akan berbeda. Apa yang dibutuhkan laki-laki itu bukan berarti kriteria idaman. Jadi tolong bagi laki-laki, mengertilah dengan akurat perempuan bagaimana yang kamu butuhkan, bukan kriteria fisik semata. Karena laki-laki yang hanya menginginkan tubuh fisik kadangkala belum tentu menginginkan keterikatan atau hanya butuh pemuas fungsional saja. Lalu sebagai perempuan, mawas dirilah karena pasti butuh keterikatan. Baik itu keterikatan emosional atau tanggung jawab.

Walaupun perempuan sering dianggap ribet, sebenarnya laki-laki mau-mau aja bersusah-susah memahami perempuan. Tapi jangan heran kalau perempuan membawa distress, lalu laki-laki ibaratnya akan merasa homeless dan mencari kesenangan diluar. Itu fix! Kalau dia setia, paling banter dia cuma main game online, ke warkop gak pulang-pulang, atau katut teman-temannya kemana-mana. Ucapkan syukur saja kalau dia punya kesibukan, bukan perempuan lain sebagai pelariannya *ups.

Tapi maaf-maaf saja kalau ternyata harapanmu untuk jangka panjang dengannya, tidak sama dengan apa yang ada di pikirannya (yang banyak pertimbangan itu). Saat ini, sudah bukan lagi masanya sebuah hubungan yang cuma sudah terlanjur dijalani tapi tidak bisa dibawa kemana-mana. Oleh karena itu, yang pacarannya bertahun-tahun kayak kredit motor itu pun jangan heran kalau akhirnya kandas.

Steve Harvey juga menambahkan, seseorang selingkuh karena belum menemukan siapa dirinya yang sesungguhnya dan belum menjadi sosok yang diinginkannya. Mungkin saja, ia menemukan orang lain yang lebih bisa membuatnya menjadi diri sendiri. Bukan berarti dia udah nggak kayak dulu lagi.

Bagaimana kalau ternyata hubunganmu bukanlah hubungan yang sehat, yang apabila terlibat terus di dalamnya sama sekali tidak menemukan kebaikan apapun. Kebanyakan laki-laki yang ingin keluar dari hubungan tersebut, melakukan dengan cara selingkuh. Bukan dengan cara jujur atau mengkomunikasikan segala sesuatunya. Ternyata, laki-laki cenderung tidak mau berkata hal-hal yang menyakitkan, meskipun itu kejujuran.

“Kalau orang setia kan seharusnya selalu nerima kekurangan pasangan.”

Mengapa minta diterima terus? Mengapa tidak ingin memperbaiki diri? Bukankah kita semua tahu, untuk menjalani hubungan jangka panjang semestinya kita saling memberi kebetahan?

"Rasa nyaman lahir dari keselarasan. Perjuangan lahir dari ego dan keinginan. Jika kau berjuang untuk nyaman, artinya kau berbohong pada diri sendiri." -J.S. Khairen

"Kadang kita perlu jalan berdampingan untuk saling memperbaiki diri. Tidak selaras bukan berarti harus dilepas. Tak banyak yang ingin berjalan beriringan denganmu sembari memperbaikinya." -Oschafa

Setia ataupun tidak setia itu hanyalah konstruk sosial. Sedangkan yang menjalani hubungan, adalah kamu. Bukan orang-orang yang menghakimi.

“Setia itu semu, yang ada hanyalah integritas pribadi masing-masing.”

Wahai laki-laki, mulai saat ini kenalilah kekuranganmu dan kebutuhanmu. Mungkin perempuan-perempuan tak dapat menolak pesonamu, tapi itu sungguh arogan. Dan wahai perempuan, milikilah standar dalam hidup serta pertahankan aturan mainmu. Anggun dan elegan itu dari sikap, bukan dari penampilan glamour.

Mari kita tiada hentinya belajar untuk saling memahami.