Pernah gagal, bukan berarti patah. Itu hanya proses transformasi dari perih menuju ke ketenangan diri. Dalamnya luka juga bukan penentu putusnya arah, jadikan saja cambuk maju dan terus maju. Ruang hampa akan selalu ada di setiap diri manusia, tak luput satupun dari mereka. Bagaimanapun caranya, itulah dunia. Berdamai dengan nyata yang ada, ataukah terus menyalakan tonggak perang tanda ke-tak relaan jiwa. Itu saja.

Tentu ada proses untuk menuju satu tujuan yang memang selalu dituju-tuju dan tak pernah sempurna tertuju oleh seluruh manusia. Kedewasaan. Satu kata dalam sejuta implikasi. Selama nafas masih ada di dalam dada, kita hanya akan bisa terus BELAJAR untuk DEWASA, bukan SUDAH menjadi DEWASA. Mengapa? Karena setiap nokta di dalam hidup tak luput dari kesalahan perilaku manusia, keteledoran, keegoisan, keburukan, keangkuhan, ketamakkan, dan segala macam kata sifat yang berimbuhan “ke”. Dari segala macam salah dan noda yang ada dan kemungkinan akan terus terulang tersebut, mustahil untuk bisa mencapai kata SUDAH DEWASA. Dewasa disini bukan soal berKTP dan berusia 18 tahun. Tapi hati. Bagaimana menerima dan memaafkan. Bagaimana mengerti lebih banyak dan belajar lebih giat. Tentu sulit.

Bicara soal hati, masing-masing pasti telah menyiapkan definisi. Bagi mereka yang berkecimpung di dunia Tekologi Informasi, hati bisa diibaratkan sebagai software yang menjadi komponen utama komputer. Musuh utama nya adalah virus, sekali mereka bertemu, software will be damaged. Bagi mereka yang datang dari dunia Bahasa Asing, hati adalah kamus mereka. Segala kata yang masih digundahkan bisa dengan leluasa dicari dalam kamus tersebut. Kekurangannya adalah kita harus sabar mencari satu persatu keyword yang ingin kita ketahui maknanya. Bagi penggila permainan/game, hati adalah gems atau batu permata yang biasanya sangat berharga untuk keperluan keperluan penting dalam permainan seperti menaikkan level dengan cepat, mempercepat proses upgrade/pembaharuan. Sulit didapatkan, dan jika ada pasti akan disayang-sayang, atau tak jarang juga dihambur-hamburkan. Semua datang dengan formasi masing-masing, cara pandang masing-masing. Lain cerita ketika hati itu patah. Meski bisa di perbaiki, bentuknya tak kan lagi sama.

Tetap, jangan jadikan sandaran apa yang hanya sudah menjadi cerita. Jangan berpura-pura lemah hanya untuk mengumpulkan perhatian.

Semua manusia memiliki kepahitan, dengan takaran dan bentuknya masing-masing. Maafkan dan berdamailah dengan luka, karena mengumpat atau terus memaki diri hanya akan menumbuhkan luka baru saja.