Mau tanya nih, kamu itu sukanya sendiri atau rame-rame?

Ya jawab aja, sendiri boleh, rame-rame juga boleh. Sungguh, jawaban yang ambigu.

Ya namanya juga manusia. Terkadang kita butuh sendiri. Sendiri. Sendirian tanpa teman. Tanpa keramaian. Sendiri bukan karena marah. Tapi untuk menenangkan hati, menenangkan pikiran. Sambil introspeksi.

Sendiri saja, gak usah rame-rame. Agar tidak gaduh. Tidak berisik. Buat apa rame tapi menyesakkan. Hiruk-pikuk melulu. Tentang negaralah, korupsilah, dan segala rupa yang rame-rame itu. Kalo semuanya sudah terjadi, mau diapain? Entahlah, kita emang suka senang rame doang. Ribut melulu. Tanpa mau mengambil hikmahnya. Ciee….

Terkadang manusia butuh sendiri. Agar bisa melihat diri sendiri. Sebelum mampu melihat bahkan menelanjangi orang lain. Ya, sendiri saja. Tanpa orang lain. Agar kita bisa menambah energi sendiri. Atau mencari inspirasi untuk diri sendiri.

Advertisement

Dan gak masalah juga sih kalo orang lain tidak suka. Karena kita datang ke dunia dan siap meninggalkan dunia juga sendiri. Sendiri ke alam kubur. Nanti jika waktunya tiba.lagi, terkadang kita butuh sendiri. Sendiri saja. Agar kita bisa memanggil kebaikan kita. M

engembalikan ruang hakiki kemanusiaan kita. Karena keramean, sedikit banyak, sudah mempengaruhi pikiran dan hati kita. Intervensi luar tak terasa merasuk ke diri kita. Kita terlalu sering rame. Hampir lupa kesendirian kita.

Siapa? Siapa yang nanya?

Oh ya maaf, lupa gak ada yang nanya ya. Tapi kan gak salah, kalo kita tanya pada diri sendiri. Kenapa butuh sendiri. Di kesendirian.

Emang mau ngapain kalo sendiri? Buat apa sendiri, kalo bisa rame-rame?
Ya itu tadi. Betul, kadang rame itu bikin indah. Penuh dinamika. Tapi rame juga bikin gaduh. Saking rame-nya, kita suka ngeributin yang gak karuan. Gak pugu diributin. Komentar melulu, kayak udah paling bener sendiri.

Kadang kita butuh sendiri. Karena biar kita dilatih untuk "menyedikitkan" pengaruh luar. Biar gak jenuh, biar netral. Dan kembali ke titik nol. Untuk lebih banyak mendengarkan isi hati. Bukan malah melampiaskan maunya hati. Asal tahu aja, rame itu bikin sulit nyari inspirasi. Karena mikirin yang harusnya gak usah dipikirin.

Terkadang kita butuh sendiri. Biar lebih bebas. Gak ada beban. Gak ada yang komentarin. Sendiri = bebas. Karena gak perlu ada yang kita jaga perasaannya. Gak ada yang perlu dikhawatirkan. Tentang apapun dan siapapun.

Bahkan di kesendirian, kita lebih mudah merefleksi diri. Introspeksi diri, menilai diri sendiri tanpa campur tangan orang lain.

Sendiri itu tak hanya indah. Tapi suara hati jadi jelas terdengar.
Sendiri itu tak selalu sepi. Tapi kalbu makin jujur mendengar.
Sendiri itu tak selalu sedih. Tapi perasaan jadi lebih jembar
Sendiri kadang makin melegakan

Terus, tulisan ini nyuruh gue hidup sendiri?
Tuh kan, kalo orang rame suka emosian. Gak pernah sendirian sih. Terkadang butuh sendiri itu beda dengan hidup sendiri. Kalo mau hidup sendiri mah di hutan aja hehehe. Butuh sendiri itu momentum. Agar kita lebih mau mendengar suara hati.

Kalo kata orang kota me-time, gitulah. Agar kita makin tahu, waktu itu punya siapa? Dan bagaimana kita memanfaatkan waktu. Terkadang, kita memang butuh sendiri. Agar kita tetap mendekat pada yang hakiki, bukan ilusi. Sambil menemukan diri kita sendiri, yang mungkin telah lama "hilang dan pergi". Selamat jadi diri sendiri…